Rabu, 20 Mei 2026

Berita Kupang Hari Ini

NEWS ANALYSIS Dr Pius Weraman, Mkes Epidemolog: Cepat Deteksi

NTT sudah memiliki laboratorium yang cukup untuk dapat mendeteksi secara dini baik itu masyarakat perkotaan maupun pedesaan

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
Dr. Pius Weraman, SKM. M. Kes, ahli epidemiolog, Rabu (13/05/2020) 

POS-KUPANG.COM - LABORATORIUM qPCR Pool Test yang diresmikan hari ini, artinya bahwa NTT sudah memiliki laboratorium yang cukup untuk dapat mendeteksi secara dini baik itu masyarakat perkotaan maupun pedesaan.

qPCR ini sangat membantu, sehingga alangkah baiknya diarahkan ke daerah-daerah wisata seperti di Labuan Bajo yang menjadi pusat keramaian sekaligus pusat pariwisata yang dapat dilakukan secara cepat dan tepat untuk bisa membenahi sistem surveilance yang baik untuk jalur udara, laut maupun darat.

Baca juga: Patuhi Protokol Kesehatan Sabu Raijua Bebas Corona

Ketika kita melihat dari aspek sistem surveilance yang berlangsung untuk Covid-19, ini merupakan kegiatan terus menerus secara sistematis yang dapat lakukan pengumpulan data, analisis data, kemudian pengolahan dan interpretasi serta distribusi untuk peruntukan. Hal ini yang menjadi fokus untuk kegiatan penanganan Covid-19.

Pengumpulan data sangat tergantung pada sumber daya manusia, lebih diutamakan pada petugas kesehatan yang berhubungan dengan sampel yang diperoleh. Untuk sampel ini biasanya dikerjakan oleh analis kesehatan. Analisis kesehatan akan melakukan pemeriksaan terkait dengan Covid-19, sekaligus mereka yang bertugas untuk mendeteksi baik itu virus, bakteri dan jamur.

Baca juga: Everton vs Liverpool: 10 Tahun Kemenangan Everton

Pemeriksaan virus ini melalui qPCR yang membutuhkan tingkat ketelitian dan validitas yang tinggi untuk dapat mendeteksi secara baik. Supaya hasilnya bisa diketahui dengan cepat dan tepat sesuai dengan kamampuan yang dimiliki oleh orang yang berkompeten di bidangnya.

Pengumpulan data berhubungan dengan persiapan seperti, peralatan yang dibutuhkan, kemampuan pemeriksanya. Kemampuan orang yang bertindak untuk memeriksa, tentu saja sudah memiliki ijazah akhir analis. Artinya, dirinya mempunyai kompetensi dibidang pemeriksaan.

Bisa saja menjadi error yang tinggi jika kemampuan orangnya yang tidak teliti atau validitas dan kredibilitas yang kurang diketahui oleh orangnya, maka akan terjadi gangguan pada prosesnya.

Error yang dimasud itu, seperti alat-alat yang digunakan, misalnya qPCR atau TCM yang digunakan, tapi awalnya tidak distandarisasi dengan kualitas dan yang tidak memenuhi syarat-syarat pemeriksaan. Sehingga baik human maupun instrumen error, itu akan beresiko terhadap penentuan diagnosis.

Terkait dengan menganalisis dan memberikan informasi kepada masyarakat, seharusnya ditampilkan secara baik. Biasanya ditampilkan secara tabel grafik atau pemetaan. Tetapi dalam kasus Covid-19 ini atau penyakit menular, harus menggunakan grafik garis untuk menentukan kapan terjadi pikasus dan ledakan kasus yang akan terjadi ketika menghitung dalam waktu tertentu.

Untuk penanganan pencegahan Covid-19 lebih lanjut harus diserahkan pada para tim satgas yang memiliki tugas utama dalam penanganan ini, supaya cepat atau lambat, bisa dapat dilakukan.

Saya mendukung untuk program pemeriksaan swab test gratis, dan itu sangat luar biasa. Tetapi yang perlu, ada kehati-hatian di dalam pemeriksaan karena dengan pendapat kalangan masyarakat kaitan dengan pendidikannya di bawah, mereka selalu beranggapan bahwa hal yang gratis itu tidak berkualitas.

Bagi masyarakat golongan ekonominya ke atas dan pendidikan tinggi, saya berpikir bahwa hal itu cukup baik sehingga perlu disampaikan kepada masyarakat bahwa ini bukan kualitasnya rendah, tetapi dapat dipertanggungjawabkan karena validitas dan kredibilitasnya cukup tinggi. (cr6)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved