Penanganan Covid

Perlu Gerak Cepat Penanganan Covid di NTT

Bulan September ditutup dengan peningkatan angka positif C19 baru yang sangat tinggi, 250 orang atau 893 persen dibanding kasus di b

Editor: Ferry Ndoen
istimewa
Ermi Ndoen 

Oleh: Ermi Ndoen, Epidemiolog

Kasus Covid-19 di NTT memasuki babak baru. Bulan September ditutup dengan peningkatan angka positif C19 baru yang sangat tinggi, 250 orang atau 893 persen dibanding kasus di bulan Agustus yang hanya 28 orang. Dua hari pertama di awal Oktoberter dapat tambahan 19 orang positif; sehingga total positif C19 NTT menjadi 448.

Sudah 18 dari 22 kabupaten/kota di NTT terpapar virus C19. Sumba Tengah dan Manggarai Timur adalah dua kabupaten terakhir yang masuk dalam jajaran kabupaten terpapar. Hanya Belu, Sabu Raijua dan Ngada yang masih "aman". Angka positif tertinggi berasal dari Kabupaten Ende (106); disusul Kota Kupang (87), dan Manggarai Barat (61). Tiga kabupaten/kota ini adalah daerah "pintu" masuk ke pulau-pulau utama di NTT.

Mengisyaratkan bahwa pengawasan terhadap mobilitas orang di pintu-pintu masuk dengan skrining yang ketat dari Kantor Kesehatan Pelabuhan dan jaringannya menjadi salah satu benteng pertahanan C19 di NTT.

Pulau Flores menyumbang angka C19 positif terbanyak 270 orang (62 persen), disusul Timor (111) atau 25 persen dan Sumba dengan keempat kabupatennya sudah terpapar dengan 54 orang atau 12 persen. Rote Ndao, Alor dan Lembata hanya memiliki total empat kasus C19. Dengan posisi kepulauan, ada barrier alam untuk melindungi kita dari serangan virus C19, selama mobilitas orang bisa dipantau secara baik. Karena itu, kerja sama lintas wilayah antar pemerintah daerah berbasis pulau untuk menyatukan langkah dalam penanganan Pandemi C19 merupakan langkah strategis untuk perlu makin diperkuat.

Selama bulan September, dari 250 tambahan positif C19; 104 adalah kasus lokal (42 persen) dan 146 (48 persen) berasal dari pelaku perjalanan, baik orang dari luar NTT maupun antar wilayah dalam NTT. Kondisi ini menggambarkan bahwa mobilitas orang masih menjadi sumber utama transmisi virus C19 di NTT. Namun penularan dalam wilayah (lokal) juga sangat tinggi. Dari orang yang terpapar lokal; umumnya terjadi dalam keluarga dekat dan juga ada beberapa yang terpapar dari tempat kerja. Karena itu; perlu dipikirkan untuk penerapan protokol kesehatan pencegahan C19 ketat, tidak hanya di tempat umum dan tempat kerja tapi juga dalam lingkungan terdekat adalah keluarga dan kerabat.

Penerapan protokol pencegahan C19 meliputi pemakaian masker secara disiplin baik karena kesadaran sendiri maupun dengan "pemaksaan" melalui operasi wajib masker dapat mencegah penularan C19 lokal. Cuci tangan secara teratur memang tantangan berat di masa kemarau panjang dengan kondisi air yang terbatas; namun sesuatu yang tidak boleh kendur dilaksanakan. Dan yang terakhir adalah jaga jarak dan hindari kerumunan.

Virus C19 tidak berpindah dengan sendirinya tapi karena perilaku berkumpul kita. Karena itu, hindari pertemuan yang tidak perlu; termasuk menahan diri dari melaksanakan acara-acara keramaian yang mengundang kerumunan.

Sanitasi perkantoran merupakan aspek yang perlu diperhatikan melihat kasus C19 sudah memasuki ruang-ruang kerja. Pastikan jumlah pegawai yang aman dalam ruang kerja; kebersihan ruangan, ventilasi udara; kebersihan AC di ruang-ruang tertutup harus diperhatikan. Bagi pegawai senior atau yang memiliki penyakit bawaan; bisa diatur untuk kerja dari rumah.

Di tempat-tempat usaha dan bisnis; penerapan protokol C19 oleh management atau pemilik usaha harus ditegakkan. Orang yang terpapar virus C19 selama bulan September juga termasuk para "pajabat". Mereka juga memiliki risiko yang besar karena aktifitas pelayanan publik yang mengharuskan mereka bertemu banyak orang. Mereka juga harus melindungi diri dan keluarganya.

Dengan makin tingginya kasus; kegiatan surveilans dalam mencari kontak erat dan pemeriksaan sample kontak erat sangat penting. Surveilans dan pelacakan kasus dan kontak erat menjadi ujung tombak dalam upaya meminilisasi dan mengfokuskan upaya pencegahan penyebaran virus C19 secara cepat dan akurat. Sektor kesehatan harus dibantu untuk mendapatkan informasi yang cepat dan benar dalam melakukan pelacakan untuk segera ditest.

Kapasitas Laboratorium Biomolukular di NTT segera ditambah dengan mempercepat beroperasinya LBM qpool PCR di RS Pratama UNDANA yang digagas tim Forum Akademia NTT, Pemerintah NTT dan UNDANA.
Jangan lupa untuk menyiapkan tempat karantina yang aman; jika terjadi eskalasi positif C19 yang makin tinggi. Semua pihak, pemerintah, masyarakat, tokoh agama, academia dan pelaku bisnis harus bersatu melawan Pandemi C19 di NTT. Ayo bergerak bersama dan cepat untuk melindungi NTT dari ancaman virus C19. (ery)

Ermi Ndoen
Ermi Ndoen (istimewa)
Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved