Parodi Situasi
Parodi Situasi: Tidak Mau Jadi Presiden
Mungkin kurang tepat membandingkan Presiden dengan Gubernur. Mungkin kurang pas juga membandingkan Presiden dengan bupati
POS-KUPANG.COM - Mungkin kurang tepat membandingkan Presiden dengan Gubernur. Mungkin kurang pas juga membandingkan Presiden dengan bupati. Akan tetapi baik juga jika kita coba bercerita tentang bagaimana Barack Obama sukses memimpin AS.
Tidak salah juga jika kita coba memahami mengapa Michelle Obama istrinya tidak pernah mau mencalonkan diri jadi presiden. Selanjutnya mari kita berdiskusi sebelum mengantar Jaki, Rara, dan Benza daftar diri di KPU.
***
"Kamu lebih dulu," kata Jaki kepada Rara. "Apa yang kamu pelajari dari Barack Obama dalam kepemimpinan kamu sebagai bupati nanti!"
"Saya pasti jadi bupati!" jawab Rara dengan bangga. "Pasti! Tidak ada urusan dengan Barack Obama. Hidup saya adalah saya. Punya kuasa sebagai bupati punya kebijakan apa pun yang pas dengan kuasa dan semua rencana saya! Apa urusannya Obama di Amerika sana!"
"Kalau kamu bagaimana Benza?" tanya Jaki lagi. "Coba jawab pertanyaan saya. Harus hubungkan jawabanmu dengan Barack Obama. Jika kamu jadi bupati nanti!"
"Begini!" jawab Benza dengan serius. "Yang paling menarik dari Presiden Obama itu adalah jadi presiden ketika negara adi kuasa itu kehilangan 800 ribu lapangan pekerjaan. Obama juga mewarisi perang Irak dan Afganistan. Gudang masalah setinggi langit dan sampai di atas meja kerjanya semua hal yang tidak ada solusinya. Dia lah yang harus cari solusi dan ambil keputusan!" "Terus kenapa dia sukses sampai dua periode?" sambung Rara.
***
"Itu dia yang saya pelajari terus-menerus," jawab Benza. "Beliau tenang dan selamat sampai tujuan. Apa alasan Barack Obama tetap tenang selama delapan tahun sebagai Presiden AS? Jawabannya yang gampang, salah satunya: Indonesia.
• Ajudan Cantik Ini Bongkar Sosok Ibu Negara Iriana Jokowi yang Sesungguhnya
Menurut pengakuan Obama dalam sebuah pertemuan dengan tajuk In Conversation with President Barack Obama", latar belakang Hawai Indonesia yang menjadikannya tenang menghadapi berbagai tekanan berat selama jadi orang nomor satu AS. Itu alasan yang mengesankan. Obama ada di Indonesia selama empat tahun 1967 -1971. Percampuran Indonesia -Hawai rupanya menjadi sesuatu yang berarti bagi dirinya dalam menghadapi tekanan. Itu yang ingin saya pelajari. Sudah saya pelajari."
"Apa hubungannya?" Jaki dan Rara langsung bertanya sekaligus mencibir. Nona Mia memperhatikan dengan seksama penjelasan Benza. Menurut Nona Mia upaya Benza adalah upaya yang tidak biasa. Jaki dan Rara perlu mendengarnya.
"Beliau ikut ibunya Ann Dunham bersama ayah tirinya Lolo Soetoro. Dia punya saudari bernama Maya Soetoro. Empat Tahun di Indonesia rupanya beliau sekolah di SD Katolik Santo Fransiskus Asisi dan SD Negeri Menteng 01. Bersama keluarganya beliau tinggal di Menteng Dalam Jakarta. Itu artinya Obama sudah toleran sejak kecil.
Mengerti dan menghargai perbedaan sejak dari dalam rumah. Mengalami latar keberagaman agama dan kultur sejak di dalam keluarga menjadikannya sadar bahwa dirinya tidak sendiri tetapi ada orang lain yang berbeda.
Diakuinya bahwa percampuran Hawai Indonesia itu bisa membantunya selama delapan tahun di Gedung Putih untuk tenang, sabar, tabah, berani berjuang, tenggang rasa, dan tentu saja tahu dirinya sendiri dengan sangat baik.
"Terus kenapa mau jadi bupati?" Jaki dan Rara tidak mengerti. Keduanya tidak tahu bagaimana caranya menanggapi Benza yang memberi penjelasan lengkap apa yang dipelajarinya dari Obama.
***
"Kenapa kamu diam saja Nona Mia?" Jaki dan Rara penasaran sebab biasanya Nona Mia selalu beri tanggapan. "Kenapa kamu tidak calonkan diri jadi bupati?" tanya Jaki. "Coba jawab! Jangan mau kalah dari Benza!"
"Belajar pada Michelle Obama, istri mantan presiden Barack Obama," jawab Nona Mia.
"Michelle menjawab pertanyaan seorang remaja putri di salah satu klub remaja perempuan di Manhattan, 01 Desember 2018 lalu. Kenapa Anda tidak mencalonkan diri jadi presiden?
Michelle menjawab salah satu alasannya adalah keluarga. Michelle juga menjawab. Saya tidak ingin menjadi presiden karena jalan hidup saya bukan tentang berpolitik. Saya hanya kebetulan menikah dengan Obama yang semangatnya adalah politik. Hanya karena dia senang dengan politik bukan berarti saya menyukai hal yang sama. Kata Michelle. Alasan lainnya adalah Michelle tidak ingin menyusahkan kedua putrinya dari pengamanan yang terlalu ketat.
Sederhana dan jujur. Itu yang saya pelajari. Saya sudah pelajari."
"Oooh begitu?" Rara dan Jaki manggut-manggut. "Apa urusannya dengan Michelle?"
"Saya kagum dengan sikap dan pikirannya yang cerdas! Saya mau belajar menjadi seseorang seperti Michelle!"
"Bukankah Michelle Obama tidak mau jadi presiden?" Jaki dan Rara ternganga saat Benza dan Nona tetap pada pendapatnya masing-masing. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)