Breaking News:

Komisi IX DPR RI Berjanji Mendaftarkan Pasien Cuci Darah Sebagai Anggota PBI

Komisi IX DPR RI berjanji, akan mendaftarkan semua anggota pasien cuci darah dalam anggota Penerima Bantuan Iuran ( PBI) tanpa terkecuali

POS-KUPANG.COM/ONCY REBON
Pose bersama Jurnalis Pos Kupang, bersama Ketua KPCDI dan Pasien Cuci Darah dalam kegiatan ngobrol asyik, di ruang redaksi Pos Kupang, Minggu, 30/08/2020 

POS-KUPANG.COM | KUPANG- Komisi IX DPR RI berjanji, akan mendaftarkan semua anggota pasien cuci darah dalam anggota Penerima Bantuan Iuran ( PBI) tanpa terkecuali. Janji tersebut disampaikan ketika KPCDI Pusat memasukan gugatan terkait kenaikan biaya BPJS beberapa waktu lalu.

Demikian disampaikan Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) Cabang NTT Noura Susantry dalam Ngobrol Asyik Berjuang Untuk Berani Hidup Pasien Cuci Darah, Minggu, 30/08/2020.

Hingga saat ini KPCDI masih menunggu realisasi dari janji yang sudah disampaikan oleh Komisi IX DPR RI.

Sempat Ricuh, Kapolres Lembata Minta Warga Watodiri Tidak Terprovokasi

Menurutnya, program Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah, memiliki syarat-syarat rumit yang harus dipenuhi. Iuran BPJS para masyarakat yang terdaftar dalam PBI, secara otomatis ditanggung oleh pemerintah. Karena PBI diperuntukan bagi orang yang benar-benar kesulitan secara finansial dan material.

Ia menambahkan, keputusan pemerintah terkait syarat menjadi anggota PBI yang mengesampingkan para pasien cuci darah tidak adil. Karena pasien yang wajib melakukan cuci darah akan kesulitan biaya sebab, ada beberapa jenis obat yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Lepas dari Pelukan Bule, Cita Citata Rajut Kedekatan Kembali dengan Jordi Onsu, Betrand Peto: CLBK!

Dikatakan Noura, pasien cuci darah diwajibkan rutin melakukan cuci darah sesuai anjuran dokter. Karena hal ini akan berakibat fatal pada nyawa pasien jika terlambat atau tidak melakukan cuci darah.

Biaya perawatan para pasien cuci darah, tutur Noura, telah disuport oleh BPJS Kesehatan. Namun, beberapa pasien, terpaksa harus terlambat atau absen melakukan cuci darah karena tidak memiliki biaya transportasi.

"Meskipun biaya cuci darah mereka ditanggung oleh BPJS, tetapi ada beberapa pasien yang tunggu harus ada uang transportasi dulu baru bisa datang. Nah, ini yang sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa pasien," ujarnya.

Mencermati fakta ini, KPCDI NTT menjalin komunikasi bersama BPJS dan Bank Sampah, mencari jalan keluar atas persoalan yang dialami para pasien. Mereka melakukan kerja sama untuk membayar iuran BPJS para pasien cuci darah melalui sampah-sampah yang terkumpul.

" Jadi saya itu cari sampah untuk membantu pasien cuci darah. Saldo sampah kami, dua bulan ini, kami gunakan untuk membayar iuran BPJS 1 pasien bulan ini," kata Noura.

Hingga saat ini jumlah pasien cuci darah yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berjumlah 300 orang. Hingga saat ini baru 5 daerah di NTT yang memiliki fasilitas mesin cuci darah yakni, Kota Kupang, Kabupaten Alor, Kabupaten Maumere, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Sumba Timur. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oncy Rebon)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved