Senin, 13 April 2026

Warga Bluwa Lembata Blokir Pintu Masuk Gudang Himalaya

Sekelompok warga Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata memblokir pintu masuk gudang Himalaya dengan batu dan palang kayu

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Ricko Wawo
Sekelompok warga Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata memblokir pintu masuk gudang Himalaya dengan batu dan palang kayu pada Kamis (27/8/2020) malam. 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Sekelompok warga Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata memblokir pintu masuk gudang Himalaya dengan batu dan palang kayu pada Kamis (27/8/2020) malam. Mereka kecawa karena pemilik gudang dianggap melanggar kesepakatan bersama warga yang sudah dilakukan pada Senin (10/8/2020) lalu bertempat di rumah Wili Kedang.

Salah satu kesepakatan yang dilanggar yakni masih adanya sejumlah aktivitas proyek dan keluar masuknya mobil besar di gudang yang berada di pemukiman warga tersebut.

Mereka menilai, aktivitas proyek dan keluar masuknya kendaraan besar di dalam bangunan sangat mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Empat Pesan Danrem 161/Wira Sakti kepada Tamtama Remaja (Taja) Babinsa

Yulianus Bura, salah satu warga yang ikut dalam aksi pemblokiran akses jalan ke pintu masuk gudang Himalaya, menyebutkan, warga meminta agar semua aktivitas proyek dan keluar masuknya kendaraan di dalam gudang ini dihentikan sesuai kesepakatan yang sudah dibuat.

Aksi pemblokiran itu, kata Yulianus, bukan untuk menghalangi kegiatan para pekerja di dalam gudang, melainkan sebagai bentuk protes warga supaya kendaraan-kendaraan proyek berukuran besar tidak lagi beroperasi keluar-masuk gudang yang melintas di dalam pemukiman warga.

Warga Kampung Roko & Ranameti Dapat Air Bersih Gratis Dari Golkar Matim

"Tuntutan kami jelas dihentikan dulu semua aktivitas di dalam sini. Ini pemukiman warga, tidak bisa seenaknya kita," kata Yulianus.

Keluar masuknya kendaranan besar menyebabkan polusi yang berbahaya bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah yang sering melintas di kawasan ini. Bukan hanya itu, aktivitas proyek di dalam gudang ini sebelumnya telah menyebabkan tembok rumah Wili Kedang, warga yang tinggal di dekat gudang, retak.

Yulianus Bura memaparkan bahwa pada Senin (10/8) lalu, warga sempat melakukan pertemuan dengan pemilik gudang Himalaya Christoforus Tanur. Beberapa hal yang disepakati dalam pertemuan tersebut yakni:

1. Pemilik bangunan bersedia mengurus surat-surat berkaitan dengan izin mendirikan bangunan dalam waktu yang yang secepatnya.

2. Pemilik bangunan bersedia melakukan rabat jalan yang sudah ditentukan sepanjang kurang lebih 100 meter sebagai solusi dari dampak yang dirasakan masyarakat.

3. Pemilik bangunan bersedia memindahkan semua aktivitas mesin vibro roller ke tempat lain. Aktivitas dalam area bangunan dihentikan.

Pemilik gudang Himalaya, Christoforus Tanur saat dihubungi, mengemukakan bahwa sejak ada pertemuan dengan warga sudah tidak ada lagi aktivitas proyek di dalam gudang tersebut.
"Tidak ada kegiatan, hanya parkir (kendaraan) saja," kata Christoforus, Kamis malam.

Dia menerangkan, tumpukan material di dalam gudang tersebut didatangkan untuk keperluan rabat jalan di depan gudang sepanjang 100 meter berdasarkan hasil kesepakatan warga dengan pihak Himalaya.

"Itu untuk rabat hanya kan saya belum tahu rabatnya dari mana ke mana," tandasnya.

Christoforus mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan proses pengurusan izin lingkungan dan IMB. "Kami sedang urus itu," jelasnya. Christoforus juga menyatakan siap berdialog dan membuka ruang diskusi kembali dengan warga untuk mencari solusi terkait masalah ini. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved