Senin, 1 Juni 2026

Kenali 5 Tanda Anak Kecanduan Film Dewasa Begini Cara Mengatasinya

Dalam jangka panjang, kecanduan film dewasa bisa memicu berbagai dampak buruk, seperti mengganggu konsentrasi anak

Tayang:
Editor: Hermina Pello
(Shutterstock)
Ilustrasi pornografi. 

POS-KUPANG.COM - Dengan kemajuan teknologi yang pesat maka saat ini konten pornografi cenderung lebih mudah diakses karena teknologi yang semakin maju.

Apalagi bila anak mulai mencoba untuk melihat konten pornografi

Pornografi bisa menimbulkan kecanduan, tak terkecuali pada anak.

Nah bagaimana jika anak menonton pornografi? Bisa menimbulkan kecanduan, Apalagi  banyak orangtua terlalu permisif kepada anak dan memberikan gawai sejak usia dini.

Dalam jangka panjang, kecanduan pornografi bisa memicu berbagai dampak buruk, seperti mengganggu konsentrasi anak hingga anak rentan menjadi pelaku kejahatan seksual.

Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A(K) mengungkapkan, ketika anak menonton pornografi, mereka tetap mungkin mendapatkan rasa kesenangan, meskipun sebetulnya belum memiliki pemahaman cukup.

Kesenangan itu kemudian akan merangsang melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang.

Pada kesempatan berikutnya anak tersebut akan mencari-cari kembali apa yang membuatnya senang saat itu dan kembali mengakses pornografi. Jika dilakukan terus-menerus, anak bisa mengalami kecanduan.

"Penelitian menunjukkan kecanduan pornografi dampaknya bisa seperti kecanduan narkoba." Demikian diungkapkan dr. Eva dalam Instagram Live bersama IDAI, Selasa (18/8/2020).

Kecanduan pornografi bisa menyebabkan fungsi-fungsi dalam kehidupan anak menjadi terganggu.

Untuk itu, orangtua diimbau untuk mencegah itu sebelum terjadi, bahkan mencegahnya sejak sebelum anak mengakses internet.

Namun, bagaimana jika anak sudah terlanjur mengaksesnya dan mengalami kecanduan?

Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai oleh orangtua, antara lain:

- Ketika anak mulai suka bersembunyi untuk mengakses internet.

- Ketika anak mulai tidak bisa dilepaskan dari gawai.

- Ketika anak mulai menunjukkan kegelisahan ketika tidak bisa mengakses internet.

- Ketika anak mulai menunjukkan perilaku agresif ketika gawainya diambil.

- Ketika anak mulai menunjukkan perilaku seksual yang menyimpang, seperti suka memainkan alat kelaminnya atau tertangkap suka menjahili adik atau anak tetangga yang berlawanan jenis kelamin.

"Kita perlu melakukan terapi terhadap anak-anak seperti ini. Orangtua bisa membawa anak ke dokter spesialis tumbuh kembang anak atau psikiater," ucap dr. Eva.

Mencegah kecanduan pornografi Untuk mencegah anak yang belum cukup umur mengakses konten pornografi hingga mengalami kecanduan, orangtua bisa melakukan beberapa cara.

Misalnya, dengan memberi pengertian tentang apa yang boleh diakses dan tidak.

Lakukan ini sejak anak pertama kali diperbolehkan mengakses internet.

Selain itu, buat aturan yang disepakati bersama tentang alasan batasan-batasan anak dalam mengakses internet.

Komunikasikan dari awal mengenai alasan pembatasan itu dan apa dampaknya untuk mereka.

"Mudah-mudahan anak bisa dilindungi semaksimal mungkin agar terlindung dari konten pornografi, terutama dampak panjang," ungkapnya.

Anak Anggap Remeh Perempuan

Menurut penelitian, anak laki-laki yang melihat pornografi pada usia muda , akan cenderung memiliki keyakinan misoginis—bahwa wanita harus dikendalikan oleh pria.

Sedangkan anak yang menikmati pornografi pada usia yang lebih besar cenderung menjadi playboy.

Temuan yang dipresentasikan di American Psychological Association ini menyebutkan bahwa usia di mana pria pertama kali melihat pornografi dapat mempengaruhi sikap mereka terhadap wanita dan seks.

"Seperti dugaan, mereka yang mengenal pornografi pada usia yang lebih muda cenderung lebih kuat mengadopsi norma-norma maskulinitas," kata peneliti Christina Richardson dari University of Nebraska kepada Fatherly.

Richardson dan rekannya mensurvei 330 pria yang memiliki latar pendidikan tinggi. Mereka ditanya di usia berapa pertama kali mengenal pornografi, dan apakah karena dipaksa, tidak sengaja atau melah mencarinya.

Peneliti juga mengajukan serangkaian pertanyaan untuk mengetahui apakah mereka kemudian memiliki perasaan “Power Over Women" (merasa lebih berkuasa dibanding wanita dan menganggap wanita seharusnya patuh) atau "Playboy" (terlibat dalam aktivitas seksual dengan beberapa wanita). 

Berdasarkan riset, cara orang pertama kali terpapar pornografi—baik dipaksa, tidak disengaja atau sengaja—tidak memiliki pengaruh besar pada dua sisi norma maskulinitas tersebut.

Namun, semakin muda seseorang melihat pornografi, makin besar kemungkinan dia mengadopsi norma power over women.

Sementara, pria yang mengenal pornografi pada usia lebih besar cenderung mengadopsi norma playboy.

Meski begitu Richardson mengakui bahwa hasil tersebut tidak membuktikan sebab-akibat, dan penelitian ini juga tidak dapat menunjukkan bahwa paparan awal terhadap pornografi menyebabkan misogini, karena banyak faktor lain yang bisa menyebabkannya. 

Mengacaukan Moral

Kecanduan pornografi adalah masalah yang biasanya berkembang di kalangan pria. Ironisnya, dalam kadar tertentu, masalah ini bisa berdampak pada karir dan bahkan mengacaukan moral.

Laporan yang dirilis laman Huffington Post di tahun 2017 menyebutkan, situs porno paling banyak dikunjungi daripada situs tenar lain, seperti Netflix, Amazon, dan Twitter.

Berdasarkan statistik Pornhub Analytics, tahun 2018 sebesar 5,5 juta jam lebih telah dihabiskan banyak orang, untuk mengunjungi situs tersebut.

Perkembangan teknologi memang mempercepat dan mempermudah akses terhadap konten pornografi.

Menurut psikolog Luke Vu, kecepatan dan kemudahan akses ke realitas virtual pornografi membuat banyak pria bisa mengatur sendiri keinginan seksualnya.

Dia menyebut, kecanduan pornografi sebagian besar disebabkan oleh efek negatif internet dan tidak bersifat turun temurun.

Vu juga mengatakan, penyalahgunaan pornografi di internet sebagian besar disebabkan oleh teknologi. "Gratis, mudah diakses, dan tentu saja alasan 'tidak ada yang tahu kamu menggunakannya'," ucap Vu.

Pornografi pada 1990an dan awal 2000an lebih sulit diakses. Seseorang harus pergi ke toko video atau membeli DVD porno -misalnya. "Ini berarti kamu harus mengelola keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual," ucap dia.

Namun, akhir-akhir ini, nampak jelas teknologi telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi konten pornografi. “Saya pikir kaum muda hari ini dan laki-laki di masa depan akan belajar untuk mengatur sendiri penggunaan pornografi, mengingat virtual reality (VR) porno dengan cepat menjadi lebih mudah diakses," ucap dia.

Apalagi jika penggunaan pronografi telah menganggu kehidupan kerja, belajar, hubungan asmara, dan kesehatan.

Itu tentu menjadi pertanda besar. Jika tanda-tanda tersebut telah muncul, kemungkinan besar kita telah mengalami kecanduan.

Untuk itu, segeralah berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Mengatasi kecanduan pornografi memang bukan hal yang mudah.

Menuru Vu, pornografi adalah stimulus supernormal. "Ini adalah rangsangan yang memunculkan respons lebih kuat daripada apa yang disiapkan manusia secara evolusioner," tambah dia. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved