Parodi situasi
Parodi Situasi Minggu 16 Agustus 2020: Berlian Untuk Indonesia
HUT ke-75 RI HUT berlian. Setiap WNI berhak sekaligus wajib memberikan berlian untuk Indonesia
POS-KUPANG.COM - HUT ke-75 RI HUT berlian. Setiap WNI berhak sekaligus wajib memberikan berlian untuk Indonesia. Dilengkapi dengan doa agar matang dalam ujian dan sanggup menghadapi tantangan.
***
"Bukankah berlian itu mahal harganya?" tanya Rara. "Mau dapat dari mana?"
"Justru karena mahal itulah kita berhak memberi," jawaban Nona Mia yang membuat dahi Jaki dan Rara mengkerut. Soalnya kedua sahabat ini menginginkan batu berlian yang sebenarnya, bukan berlian kehidupan sebagai WNI yang cinta NKRI.
"Apalagi Hari Ulang Tahun ke-75 RI terasa beda dan serba susah karena bertepatan dengan kondisi pandemicovid 19 yang terus bertambah jumlahnya. Sudah lebih dari seratus dua puluh lima ribu orang. Kemungkinan besar akan bertambah-tambah lagi."
"Kamu punya berlian pada masa pandemi covid. Ambil darimana?"
"Berlian pertama jaga protap kesehatan," Benza menyambung. "Pakai masker sepanjang beraktivitas dimana saja, kapan saja, dalam kapasitas sebagai apa saja."
"Waduh masker lagi, lagi-lagi masker!" jawab Rara.
"Bukankah kamu itu anggota dewan?" tanya Nona Mia. "Kamu yang harusnya tunjuk teladan untuk pakai masker. Apalagi saat ini kami semua pakai masker, hanya engkau sendiri yang tidak mau pakai dengan berbagai alasan."
• Satgas Pamtas Buat Lomba Menyanyi Lagu Indonesia Raya dan Hafal Pancasila
"Berlian yang kedua apa?" tanya Jaki yang tidak sabar menunggu penjelasan Nona Mia dan Benza tentang berlian untuk HUT ke-75 RI.
***
"Berlian yang kedua yang sama kualitasnya dengan berlian pertama adalah pembatasan sosial atau social distancing. Pemerintah sudah ganti namanya menjadi physical distancing atau pembatasan fisik. Ini adalah sebuah langkah serius untuk pencegahan dan pengendalian infeksi virus covid 19," Benza memberi penjelasan lengkap.
"Waduh!" Rara menepuk testanya.
"Tolong mengerti. Apalagi kamu adalah anggota dewan," kata Nona Mia.
" Batasi kunjungan ke tempat ramai, hindari kontak langsung dengan orang lain, jaga jarak minimal satu meter, tidak berjabatan tangan, tidak cium hidung dan tetap memberikan berlian pertama: pakai masker!"
"Waduh!" kembali Rara memukul testa.
"Mestinya engkau yang lebih peka, sadar, memberi berlian untuk Indonesia. Karena apa? Karena kamu yang paling tahu aturan. Kamu tahu aturannya adalah bekerja di rumah, belajar di rumah, menunda pertemuan yang dihadiri banyak orang seperti konferensi dan pertemuan lainnya dengan peserta besar, banyak, dan dalam waktu lama."
***
"Jangan engko pukul testa lagi, Rara!" tegur Jaki. "Kita berdua memang sudah salah. Salah sekali. Kita sudah membuat masalah baru membuka ruang untuk menjadi OTG alias Orang Tanpa Gejala yang bisa menularkan covid kepada orang lain."
"Siapa yang salah! Saya tidak pernah ikut pertemuan besar sejenis konferensi dn seminar," Rara membantah. "Saya hanya ikut pesta menari-menari saja. Sederhana. Kumpul kumpul, ngobrol-ngobrol, tidak pakai masker karena semua sehat dan sehat semua. Cuci tangan sudah, ukur suhu tubuh sudah. Lalu hanya makan-makan, minum-minum, duduk-duduk, pesta biasa saja! Apa saya salah?"
"Ya! Kamu tidak memberi berlian untuk Indonesia," kata Nona Mia.
"Ya! Kamu berdua hanya memberi pecahan beling!" sambung Benza.
"Maaf Nona Mia, maaf Benza!" Rara terbatuk-batuk dan sesak nafas tiba-tiba dan suhu tubuhnya juga tinggi tiba-tiba. Hasil swab positif! Kasian Rara. Dalam waktu singkat petugas kesehatan datang menjemput dalam pakaian pelindung diri lengkap. Sementara Jaki kabur tunggang langgang tidak mau dikarantina. Dia lupa malu.
"Mari kita beri berlian untuk Indonesia!" kata Nona Mia. Bersama Benza, keduanya segera ke laboratorium untuk menjalani beberapa pemeriksaan covid 19. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)