Breaking News:

News

Astaga, Penderita Kekerdilan di Sikka Mencapai 4.709 Anak, Ini Penyebabnya

Pemerintah Kabupaten Sikka mencatat bahwa jumlah anak stunting atau menderita kekerdilan di kabupaten itu mencapai 4.709 anak, turun sekitar 23 persen

Editor: Benny Dasman
KOMPAS.com/yanukit
Ilustrasi anak sekolah 

POS KUPANG, COM, MAUMERE - Pemerintah Kabupaten Sikka mencatat bahwa jumlah anak stunting atau menderita kekerdilan di kabupaten itu mencapai 4.709 anak, turun sekitar 23 persen dari akhir 2019.

"Pada 2019 jumlah anak penderita stunting di Kabupaten Sikka mencapai 5.801 anak. Nah di Kabupaten Sikka, sampai dengan awal Agustus ini jumlahnya mencapai 4.709 anak," kata Kepala Dinas Kesehatan Sikka Petrus Herlemus saat dihubungi dari Kupang, Selasa (11/8).

Petrus menjelaskan penanganan stunting di kabupaten itu saat pandemi COVID-19 masih terus melanda NTT hingga saat ini.

Pemerintah kabupaten Sikka sendiri, kata dia di bawah kepemimpinan Bupati Robby Idong telah bertekat mencegah semakin banyaknya kasus stunting di kabupaten itu.

Salah satu caranya adalah menerapkan program rumah pemulihan yang sudah berjalan selama dua bulan dengan mengadopsi metode pemberian gizi dan edukasi dari Bangladesh.

"Kami punya tekad kalau tahun ini kembali turun kasusnya dan turun sampai 10 persen seterusnya kami yakin kasus stunting di kabupaten Sikka akan nol kasus," tambah dia.

Lebih lanjut kata dia jika berbicara soal pencegahan kasus stunting perlu jangka panjang. Namun untuk saat ini pencegahannya dilakukan secara kuratif untuk anak-anak.

Sementara untuk jangka pendek saat ini pemerintah setempat mengumpulkan para suami yang istrinya sedang hamil untuk memberikan edukasi dini soal pendampingan istri sejak hamil di bulan pertama sampai dengan sembilan bulan.

"Saat ini programnya sudah berjalan. Kita berharap agar ibu dan calon bayi itu saat lahir bisa sehat dan selamat. Sehingga pekerjaan kita juga bisa ringan jikalau anak-anak yang lahir itu sehat," tambah dia.

Terkait pelaksanaan posyandu, kata dia, saat ini sudah berjalan dengan normal. Namun sejak bulan April dan Mei sempat terhenti. Namun tidak terhenti sepenuhnya, karena beberapa kader posyandu tetap melakukan kunjungan ke rumah-rumah anak penderita stunting untuk memantau langsung. (antara)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved