Minggu, 19 April 2026

News

Hebat, Bermodal Gerakan Infak Rp 1.000, Relawan Ini Bisa Bedah Rumah Warga, Gunakan Spirit Ini

Gerakan ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu dan terpinggirkan yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Benny Dasman
Dokumentasi Gerakan Infak Seribu Rupiah
Para anggota Gerakan Infak Seribu Rupiah mulai mengadakan aksi bedah rumah milik Abdul Rahman Arakiang, Warga Desa Hoelea 1, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Minggu (9/8/2020). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Richo Wawo

POS KUPANG, COM, LEWOLEBA  -Sekitar 50 anggota Gerakan Infak Seribu Rupiah mulai mengadakan aksi bedah rumah milik Abdul Rahman Arakiang, warga Desa Hoelea 1, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Minggu (9/8).

Gerakan ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu dan terpinggirkan yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Abdul Rahman Arakiang adalah seorang difabel yang sehari-hari bekerja menimbang jambu mente dan menjual bensin eceran di pinggir jalan.

Abdul merasa terharu dan berterima kasih karena rumahnya bisa dibedah oleh para anggota Gerakan Infak Seribu Rupiah.

Dia berharap, gerakan dengan tujuan mulia tersebut terus berlanjut sehingga semakin banyak orang miskin yang dibantu.

Ketua Gerakan Infak Seribu Rupiah, Handayani Lamawulo, mengatakan, aksi tersebut murni berasal dari kemurahan hati Umat Islam di Kabupaten Lembata.

"Kami membuat gerakan ini adalah niat murni kami, tidak ada unsur apa-apa di belakang kami," tandasnya.

Dengan sedekah seribu rupiah, pihaknya bisa membeli material bangunan, seperti: semen, seng, kayu dan bahan bangunan lainnya.

"Harapannya, waktu mendatang banyak hamba-hamba Allah yang mau menginfakan sedikit rejekinya untuk umat yang membutuhkan, seperti semboyan kami: Dari Umat, Oleh Umat, Untuk Umat," pungkasnya.

Aksi bedah rumah juga gencar dilakukan para Relawan Taman Daun Lembata.

Tercatat, dalam tahun ini sudah ada dua rumah yang berhasil dibedah para relawan. Rumah pertama yang dibedah,i milik seorang lanjut usia (lansia) bernama Nenek Peni, Warga Kampung Kalikasa, Kecamatan Atadei dan teranyar adalah rumah milik seorang difabel penjual sapu lidi bernama Hasna Sedo di Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata.

Salah satu relawan Taman Daun, Alias Fals yang ditemui Pos Kupang, Minggu (9/8), mengungkapkan, aksi bedah rumah yang dilakukan Taman Daun membawa spirit dan gagasan gemohing atau gotong-royong dalam bahasa Lamaholot.

Para relawan, katanya, telah membuktikan kalau gagasan gemohing yang mulai luntur pada masa ini justru memberi spirit tersendiri saat membedah rumah yang tidak layak huni menjadi layak huni.

Alias menyebutkan, berikutnya para Relawan Taman Daun akan membedah rumah tidak layak huni milik Mone Hasan di Kaohua, Kecamatan Buyasuri Kabupaten Lembata.

Rumah tersebut akan mulai dibedah para relawan pada 12 Agustus 2020 dan dalam rencana akan rampung 17 Agustus 2020 atau bertepatan dengan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

"Siapa saja yang punya niat baik tentu saja bisa membantu dengan cara masing-masing," pungkas Alias. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved