Breaking News:

Ayah Bantai Anak di Adonara, Psikolog Duga Pelaku Stres

Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli menyayangkan terjadinya peristiwa ayah bunuh dua anak di Desa Balaweling Noten

Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG/FELIX JANGGU
Wakil Bupati Flotim Agustinus Payong Boli 

POS-KUPANG.COM | LARANTUKA - Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli menyayangkan terjadinya peristiwa ayah bunuh dua anak di Desa Balaweling Noten, Kecamatan Witihama, Selasa (4/8/2020).

Ia mengimbau keluarga korban dan masyarakat tetap tenang serta mempercayai penanganan kasusnya kepada polisi. "Biarkan polisi bekerja. Mari kita jaga situasi kamtibmas tetap tenang," ujar Agus Boli ketika dikonfirmasi via telepon, Kamis (6/8/2020).

Agus Boli mengungkapkan, keluarga korban melalui Pater Tuan Kopong dari Filipina telah menghubunginya. "Pater Tuan meminta semu postingan di medsos soal kematian dua anak di Adonara dihapus karena sangat merugikan keluarga. Foto yang diposting sangat mengganggu keluarga," ucapnya.

Dr Inche DP Sayuna: Gandeng Asosiasi Pengusaha

Agus Boli juga mengatakan, jenazah dua bocah, YBO (3) dan ABD (2) telah dimakamkan pihak keluarga, Rabu (5/8) pagi.

YBO dan ABD tewas dibantai sang ayah, Adreas Pati Jumat alias Andi (25). Peristiwa itu terjadi di Dusun II Desa Balaweling Noten, Kecamatan Witihama, Selasa (4/8) pukul 17.00 Wita.

Setelah membunuh anaknya, Andi bersembunyi di puncak pohon kelapa sambil membawa parang, bertahan selama sepuluh jam. Untuk meringkus Andi, polisi bersama warga terpaksa menebang pohon kelapa.

Audiens Gubernur NTT dengan Juri Lomba Kebersihan: Instansi Terkotor Kasih Hadiah Sampah

"Tadi sudah diamankan dan langsung dibawa ke Larantuka guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Kapolres Flores Timur, AKBP I Gusti Putu Suka ketika dikonfirmasi, Rabu (5/8).

Pelaku Diduga Stres

Psikolog Abdi Keraf, SPsi, MSi, MPsi mengatakan, kasus-kasus pembunuhan yang melibatkan anggota keluarga sendiri, cenderung motifnya adalah persoalan dalam lingkup keluarga itu juga.

"Jika pelakunya orangtua dan korbannya adalah anaknya sendiri, biasanya dilatarbelakangi oleh faktor persoalan ekonomi, status anak dalam keluarga, atau hubungan yang kurang harmonis antar suami-istri, sehingga anak menjadi korban ketidakmampuan orangtua dalam meyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang dihadapi oleh mereka," kata Abdi di Kupang, Kamis (6/8).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved