Breaking News:

Berita TTS

Di TTS- NTT, Aksi Makan Tanah dan Tangis Warga Besipae Pecah, Awali Pembongkaran Pagar dan Rumah

Coba kalau berani makan tanah. Kita lihat siapa yang dimakan tanah. Ini tanah leluhur kami kami akan perjuangkan

Penulis: Dion Kota | Editor: Ferry Ndoen
istimewa
Nampak seorang warga Besipae sedang melakukan sumpah makan tanah sebagai bentuk penolakan terhadap aksi pembongkaran pagar dan rumah darurat di kawasan Besipae Area lampiran 

Laporan Reporter Pos-Kupang. Com, Dion Kota

POS-KUPANG. COM | SOE - Sosialisasi yang digelar Pemprov NTT bersama warga Besipae berujung penolakan. Warga menolak rencana Pemprov NTT yang akan mulai melakukan aktivitas pemerintah dan pengolahan lahan di Besipae guna pelaksanaan program budidaya pakan ternak (lentoro teramba) dan kelor terhitung mulai Selasa (4/8/2020).

Warga menuntut agar rencana tersebut dilakukan usai masalah sertifikat hak pakai milik Pemprov NTT diluruskan. Sementara Pemprov NTT yang diwakili Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah Properti NTT, Sony Libing menegaskan hari ini juga, Pemprov NTT dalam hal ini, Dinas Peternakan dan Pertanian akan mulai berkantor di Besipae.

Oleh sebab itu, pagar dan sebuah rumah darurat yang dibangun warga tepat di jalan masuk Ranch Besipae akan dibongkar.

Niko Manao dan Daud Selan perwakilan warga Besipae menegaskan, mereka tidak menolak program Pemprov NTT untuk melakukan pengembangan pakan ternak dan kelor di Besipae. Namun mereka meminta agar pelaksanaan kegiatan tersebut dilaksanakan setelah sertifikat hak pakai milik Pemprov NTT diluruskan.

Pasalnya yang terjadi saat ini, lahan milik Pemprov NTT sudah mencaplok lahan milik masyarakat. Oleh sebab itu, hal tersebut harus diluruskan lebih dahulu sebelum pelaksanaan program.

" Kami bukan menolak program Pemprov NTT, tapi kami minta agar pelaksanaan program tersebut dilakukan setelah sertifikat hak pakai milik Pemprov NTT diluruskan. Ini tanah milik kami semua diambil Pemprov NTT sesuai sertifikat yang dipegang Pemprov NTT. Ini yang kami tolak," tegas kedua.

Pasca dilakukan pembongkaran pagar dan satu unit rumah darurat milik warga lanjut keduanya, bersama masyarakat mereka akan tetap bertahan di Besipae.

Masalah Besipae dikatakan keduanya akan dibawa hingga ke pemerintah pusat termaksud Komnas HAM guna memperjuangkan apa menjadi hak masyarakat
" Silakan bongkar tapi kami akan tetap di sini. Kami akan perjuangkan hak kami sampai ke pusat," tegas keduanya.

Sebagai bentuk protes terhadap pembongkaran pagar dan rumah darurat warga, baik anak-anak maupun orang tua menangis histeris melihat rumah yang mereka bangun secara gotong royong dibongkar. Beberapa warga bahkan menantang petugas Satpol PP untuk melakukan sumpah makan tanah sebagai pembuktian siapa pemilik lahan Besipae.

" Coba kalau berani makan tanah. Kita lihat siapa yang dimakan tanah. Ini tanah leluhur kami kami akan perjuangkan," tantang Ester Selan kepada petugas Satpol PP yang melakukan pembongkaran pagar dan rumah darurat.

Untuk diketahui sosialisasi terkait pelaksanaan program Pemprov NTT di Besipae dihadiri Kapolres TTS, AKBP Ariasandy, SIK, Petrus Christian Mboeik, Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah Properti NTT, Sony Libing, Kanwil BPN Propinsi NTT, Yulius Talok, Asisten II Setda TTS, Yohanes Lakapu, anggota DPRD Propinsi NTT diantara, Obed Naitboho, Johanes Lakapu, Reny Marlina Un Banunaek dan beberapa anggota DPRD Propinsi NTT lainnya. Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 37 KK yang bermukim di wilayah Besipae. (din)

Nampak seorang warga Besipae sedang melakukan sumpah makan tanah sebagai bentuk penolakan terhadap aksi pembongkaran pagar dan rumah darurat di kawasan Besipae
Area lampiran
Nampak seorang warga Besipae sedang melakukan sumpah makan tanah sebagai bentuk penolakan terhadap aksi pembongkaran pagar dan rumah darurat di kawasan Besipae Area lampiran (istimewa)
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved