Parodi Situasi
Kita Punya Kota Kupang
Sekali seminggu jalan-jalanlah di Kota Kupang pada waktu malam. Kota dengan predikat WTP atau Wajar Tanpa Pengecualian
POS-KUPANG.COM - Sekali seminggu jalan-jalanlah di Kota Kupang pada waktu malam. Kota dengan predikat WTP atau Wajar Tanpa Pengecualian.
Kota ini sekarang sedang berbenah. Angin, dingin, dan terang benderang. Suasana lain sama sekali! Tidak seperti dulu Kupang gelap, sungguh gelap, bahkan gelap gulita pada waktu malam. Hanya beberapa titik saja yang terang.
"Tampil beda kah?" tanya Rara.
***
"Ya terasa bedanya!" jawab Jaki. "Tetapi saya sebagai warga kota Kupang lebih suka gelap. Gelap itu asyik. Kalau terlalu terang pada waktu malam, sama seperti Kuta dan Legian. Terasa siang sepanjang waktu! Kalau gelap asyik. Apalagi jalan berduaan sama pacar!"
"Kalau saja Nona Mia mau jadi pacar saya. Hmmm pacaran di gelap-gelap asyik bergandengan tangan! Nona Mia itu penakut! Jadi kalau gelap pasti dia gandeng!"
"Apa?" Nona Mia berdiri di hadapan Jaki dan Rara. "Engkau bicara apa barusan? Nona Mia pacaran sama siapa? Kamu kah?"
"Bukan! Nona Mia maksud saya..." Jaki gugup bukan main. Maklumlah selama ini Jaki lah yang tukang lempar lampu jalanan. Tiap kali pemkot pasang lampu yang baru, tidak lama kemudian pasti pecah berantakan. Alasannya hanya satu: supaya gelap. Lebih asyik jalan gelap-gelap daripada jalan terang."
"Kamu saya lapor di Pak Walikota, mau!" ancam Nona Mia.
• Panitia Kurban Masjid Nurul Hidayah Kelapa Lima Sembelih 34 Hewan Kurban
"Ampun Nona Mia... Hanya dirimu seorang yang tahu rahasia..." Jaki gugup bukan main. "Saya janji tidak akan ulang lagi! Sungguh-sungguh saya janji. Berani sumpah! Jadi tolong pegang rahasia!"
***
"Soal apa?" Rara terheran-heran.
"Ini manusia tukang lempar lampu jalanan di kota Kupang!" Nona Mia langsung buka rahasia. "Sudah berkali-kali Jaki ketangkap basah. Sudah berkali-kali diberi peringatan. Tetapi Jaki tetap saja buat turut dia punya suka!"
"Wuih, kamu jahat sekali!" kata Rara.
"Jahat apa! Kenapa repot! Urus kau punya diri sendiri toh!" sambar Jaki.
Segera Benza turun tangan karena Nona Mia kelihatan marah bukan main sampai merah wajahnya, sampai tidak tahu lagi mesti bicara apa pada Jaki.
"Ini kota kita," demikian kata Benza. "Semua kita wajib menjaganya. Lampu jalan itu milik segenap warga. Kita harus jaga agar tidak ada satu pun lampu yang pecah akibat perbuatan tangan gatal seperti Jaki."
"Ternyata kamu selama ini kah?" Rara geleng-geleng kepala.
"Tega benar!" sambung Nona Mia.
"Berani-beraninya mau jadi pacarnya Nona Mia!" sambung Rara lagi.
"Kamu juga jangan lebai," kata Nona Mia pada Rara. "Yang jelas bagi saya, tiada maaf bagi siapa pun yang suka lempar kasih pecah lampu jalan. Apalagi sampai mencuri lampu jalan."
"Tega-teganya engkau curi lampu jalan!" sambung Rara.
"Hei, jangan tuduh sembarangan," sambar Jaki lagi sambil melayangkan tinju yang nyaris kena ke wajah Rara. "Saya memang kasih pecah lampu jalan tetapi tidak penah curi lampu!"
"Jaki!" kata Nona Mia. "Lihat! Kota Kupang kian hari kian terang pada waktu malam. Lihat saja pada beberapa simpang jalan. Lampu kembang berwarna-warni di Bundaran PU, di depan Katedral, di simpang Polda dan beberapa tempat lain. Sepanjang jalan El Tari, taman di bawah rindang pohon mulai ditata dengan penambahan tanah, bunga-bunga. Semuanya membuat kota Kupang tampil sebagai kota, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kita yang punya kota Kupang kita harus jaga sama-sama!"
***
"Sumpah! Saya tidak akan lempar lampu jalanan lagi," kata Jaki lagi.
"Apalagi selama 24 tahun baru sekarang Kota Kupang dapat hadiah besar. Kota yang Wajar Tanpa Pengecualian atau disingkat WTP. Luar biasa bukan?"
"WTP apa artinya?" Jaki terkejut.
"Urusannya dengan BPK...silahkan baca berita," jawab Rara.
"Mari kita ke rumah Pak Wali dan Pak Wawali dan Pak Ketua DPRD Kota Kupang. Kita pergi ucap salam sukses! Kota Kupang WTP." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)