Joni Kala Jejaki Spirit Sang Ayah
Ada kisah menarik dari ayah kandung Joni Kala, Beterino Fahik Marsal yang relevan dengan kisah Joni
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Ada kisah menarik dari ayah kandung Joni Kala, Beterino Fahik Marsal yang relevan dengan kisah Joni. Joni meneruskan spirit sang ayah yang memiliki sikap keberanian dan punya prinsip.
Beterino Fahik Marsal adalah ayah kandung Joni Kala. Lahir di Timor Timur (Timor Leste saat ini-Red), tepatnya di Balibo, Bobonaro tahun 1953.
• 484 Peserta Akan Ikut SKB-CPNS di Manggarai
Beterino memiliki sembilan orang anak. Enam orang anak lahir di Timor Timur dan tiga lainnya termasuk Joni Kala lahir di Silawan, Kabupaten Belu. Desa Silawan merupakan beranda terdepan NKRI karena letaknya persis di garis batas Indonesia-Timor Leste. PLBM Motaain berada di desa ini.
Beterino bersama keluarga tinggal di Silawan sejak tahun 1999 pasca jajak pendapat di Timor Timur. Sejak awal ia mencintai Merah Putih. Ketika jajak pendapat dan Timor-Timur berpisah dari Indonesia, Beterino tetap memilih Indonesia.
• Wabup Marianus Serahkan Bantuan Dampak Covid-19 Bagi Poktan di Marapokot
Ia dengan gagah berani membawa keluarganya masuk ke wilayah Indonesia sambil membawa gambar burung garuda. Itulah tandanya bahwa ia sangat mencintai Indonesia atau merah putih.
Saat mengungsi ke Indonesia, tidak banyak keluarga dari Beterino yang ikut masuk ke Indonesia. Ada empat keluarga dari Beterino yang memilih masuk Indonesia dan satu keluarga dari istrinya. Selebihnya memilih pro kemerdekaan. Perbedaan pilihan politik ini tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap akur dan saling berkunjung.
Sebagian besar keluarga Beterino adalah warga negara Timor Leste.
Saat peristiwa jajak pendapat tahun 1999, Beterino adalah sebagai pimpinan milisi yang dijuluk sebagai "Kepala Besi Merah Putih".
"Prinsip saya saat itu adalah mati hidup di bawah tiang bendera merah putih," demikian ungkapan Beterino ketika ditemui Pos Kupang beberapa waktu lalu.
Prinsip Beterino ini tertular sampai ke Joni. Joni tidak mencari-cari momen untuk melakukan hal yang serupa. Tapi ungkapan Beterino ini sebuah pesan moral buat anak-anaknya bahwa ketika suatu waktu ada hal buruk yang berkaitan dengan simbol kehormatan negara, harus ada orang yang berani mempertaruhkan nyawanya dan Joni menjejaki karakter sang ayahnya.
Aksi heroik Joni memanjat tiang bendera setinggi 20 meter tanggal 17 Agustus 2018 silan merupakan tindakan berisiko. Nyawa taruhan. Jika seandainya jatuh dari ketinggian tiang bendera, maka antara dua, mati atau hidup.
Kita tidak menginginkan apalagi mendoakan agar hal itu terjadi. Joni siap menerima resiko apapun saat itu. Kalau pun mati, mati di bawa tiang bendera merah putih, seperti prinsip sang ayahnya.
"Saya berani panjat karena saya mencintai Merah Putih", ucap Joni kala itu saat diwawancarai Pos Kupang.Com.
Joni adalah sosok pemberani dan pejuang. Ia adalah salah satu anak yang biasa mengikuti lomba panjat pohon pinang di wilayah itu yang biasa digelar setiap tanggal 17 Agustus sebagai acara memeriahkan hari kemerdekaan. Dalam lomba, Joni selalu berhasil dan mendapat hadiah.
Insiden di momen kenaikan bendera merah putih saat itu membuat Joni tambah berani apalagi berkaitan dengan simbol negara sehingga Joni nekat panjat tiang bendera.
Joni berhasil melakukan pekerjaannya. Joni menggambil ujung tali dari tiang bendera lalu turun kembali. Bendera merah putih dikibarkan meski pengibaran bendera tidak lagi pada momen yang bersamaan dengan lagu Indonesia Raya.
Momen Joni memanjat tiang bendera ternyata dividiokan. Vidio Joni mulai viral di media sosial. Peristiwa itu menyita perhatian publik Indonesia. Pekerja pers sibuk mencari informasi. Dalam hitungan jam, berita tentang Joni menghiasi halaman utama media online dan televisi.
Informasi tentang Joni terdengar sampai ke telinga para pejabat tinggi negara. Termasuk Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Presiden memerintahkan meteri yang menanganani urusan kepemudaan untuk memfasilitasi Joni ke Jakarta.
Atas perintah Presiden, Menteri Pemuda dan Olahraga RI meminta Joni berangkat ke Jakarta berkoordinasi dengan Kapolri dan Panglima TNI.
Kapolri memerintah Kapolda NTT dan diteruskan ke Kapolres Belu untuk segera mendampingi Joni ke Jakarta. Begitu pula, Panglima TNI memerintahkan Danrem Wirasakti Kupang untuk berkoordinasi dengan Dandim 1605/Belu agar segera mendampingi Joni ke Jakarta.
Atas perintah pimpinan, Dandim 1605/Belu, Letkol (Czi) I Gusti Putu Dwika bersama Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing bergegas menuju kediaman Joni di Silawan sekitar pukul 16.00 Wita.
Malam itu juga, Joni dan kedua orangtuanya bersiap-siap berangkat menuju Kupang agar keesokan paginya mereka melanjutkan perjalan menuju Jakarta. Joni bersama orangtua didampingi Kepala Desa Silawan, Kapolres Belu dan Dandim Belu. Selama di Jakarta, Joni dalam pengawasan Kapolres dan Dandim masing-masing berpangkat AKBP dan Letkol.
Di Jakarta, Joni diudang menteri Pemuda dan Olahraga untuk mampir di kantornya. Joni dipersilahkan duduk di kursi menteri. Bahkan Joni dinobatkan menjadi "Menteri Sehari".
Joni diajak Menteri menyaksikan acara pembukaan Asean Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu tanggal 18 Agustus 2018.
Setelah bertemu Presiden Jokowi, Joni Kala kembali ke kampung halaman. Joni tiba Bandara A.A Bere Tallo Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, Kamis 23 Agustus 2018 menggunakan pesawat Wings Air.
Joni dijemput Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan bersama Sekda Belu, Petrus Bere dan pimpinan forkompinda plus Kabupaten Belu.
Dari bandara, Joni Kala menumpang mobil Toyota terbuka lalu diarak keliling Kota sebelum ke rumah jabatan Bupati Belu untuk jamuan makan siang.
Setelah makan siang, Joni bersama orangtua dan keluarganya dihantar menuju Silawan. Sebelum menuju rumahnya, Joni disambut secara adat oleh keluarga SMPN Silawan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/joni-kala-jejaki-spirit-sang-ayah.jpg)