Breaking News:

UMKM MIndari Sediakan Minuman Herbal dari Rimpang yang Merupakan Resep Turun Temurun

MIndari UMKM menyediakan produk herbal dengan mengolah rimpang menjadi berbagai jenis olahan. Ada kunyit putih, jahe, dan kunyit asam.

POS-KUPANG.COM/F MARIANA NUKA
Berbagai produk yang dijual di gerai Mindari, Lokasi Baru Dusun Kiuteta, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Meski lokasinya jauh dari jalan utama, Mindari, sebuah UMKM binaan Bank Indonesia (BI) tetap ramai pesanan. Produk herbal olahan tangan terampil Yustin Sadji, pemilik Mindari, menjadi kepercayaan banyak orang.

Bahkan, pandemi Covid-19 justru memberi pemasukan yang lumayan cukup bagi Mindari karena keinginan orang-orang untuk tetap sehat dengan mengonsumsi produk herbal. Yustin pun mengaku, misinya ialah mengenalkan produk herbal kepada orang-orang.

"Ini proses pengenalan ke orang-orang untuk mencintai minuman herbal. Saya misinya agar bagaimana orang suka minum ini; menyehatkan orang dulu. Kalau sudah cocok ya pasti nanti mereka cari," ujarnya, Sabtu (4/7).

Ada Dsikon Hingga 50 Persen Matahari Kupang, Apa Saja Ya?

Ia menuturkan, keterampilan mengolah produk berbahan dasar rimpang ini turun temurun dari nenek buyutnya.

Dulunya, rimpang diolah menjadi jamu untuk menyembuhkan orang. Ia pun mencoba meneruskan warisan tersebut dengan mengolah rimpang menjadi berbagai jenis olahan. Ada kunyit putih, jahe, dan kunyit asam.

Ketiga produk itu dibanderol dengan harga Rp25.000 per botol. Produk herbal rimpang ala Mindari pun bersanding dengan Keripik Pisang Salut Nangka dan Keripik Pisang

Gula Lontar yang dibanderol dengan harga Rp20.000 per bungkus. Ternyata, usahanya pada tahun 2009 itu dimulai dari berjualan keripik pisang seharga dua ribu rupiah. Bermula dari produk tanpa label, pelan-pelan menjadi produk dengan label hitam putih. "Modal awal tidak sampai dua ratusan ribu.

Ukuran plastiknya waktu itu masih 0,5 cm, lalu naik ke 0,8 cm, itu kemasan bukan standing, mulai harga sepuluh ribu," kenang Yustin.

Kini, Mindari menawarkan berbagai aneka produk olahan rimpang dan produk lain dengan harga yang berbeda-beda. Ada madu seharga Rp25.000 per botol dan Rp75.000 per botol; minyak vito Rp25.000 per botol; aneka rimpang Rp25.000 per botol dan Rp100.000 per botol; kelor Rp70.000 per bungkus; dan kopi Rp35.000 per botol. Tak hanya itu, Mindari juga menjual kembali berbagai olahan masyarakat di sekitar lokasi Mindari, seperti beras merah Rp20.000 per bungkus dan sorgum Rp25.000 per bungkus.

Namun, tak hanya produk rimpang dan keripik saja yang akan ditemukan ketika berkunjung ke gerai Mindari di Lokasi Baru Dusun Kiuteta, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah itu.

Ternyata gerai mungil itu juga menjual hasil tenunan dan anyaman berupa peci, tempat sirih pinang, tas, dan ti'i langga.

Yustin yang juga merupakan Sekretaris Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (JarPUK) Ina Fo'a ini mengungkapkan, ia turut membantu dan memberdayakan empat penganyam di Tanah Merah dan Oebelo dengan mengambil olahan anyaman tersebut untuk dijual kembali di Mindari.

"Sebenarnya hasil jual keripik saya pakai lagi buat beli anyaman itu. Jadi, uangnya mutar. Hitung-hitung ya investasi, buat tambahan aset outlet juga," kata ibu empat enak ini.

Harga peci berada di kisaran Rp65.000-Rp75.000, sedangkan ti'i langga Rp150.000. Harga tas anyaman berkisar antara Rp65.000-Rp175.000, tas tenunan Rp75.000-Rp250.000, dan tempat sirih pinang Rp20.000-Rp50.000.

"Dalam sebulan, keuntungan memang masih kecil, sekitaran empat hingga lima juta. Kalau keripik pisang bisa sampai tiga empat juta. Tapi, rugi atau tidak ya seperti hukum pasar. Semakin tinggi permintaan ya pasti mendatangkan keuntungan. Meski keuntungan kecil, tapi kalau permintaannya besar ya pasti jatuhnya besar juga," tandasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)

Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved