Breaking News:

Salam Pos Kupang

Keselamatan Pelayaran

MASIH dalam ingatan kita tentang Kapal JM Feri yang tenggelam di perairan Selat Pukuafu tanggal 31 Januari 2006 silam

Keselamatan Pelayaran
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - MASIH dalam ingatan kita tentang Kapal JM Feri yang tenggelam di perairan Selat Pukuafu tanggal 31 Januari 2006 silam. Kapal Penyeberangan yang bertolak dari Pelabuhan Bolok Kupang itu akhirnya tenggal sekitar pukul 21.00 Wita di Selat Pukuafu

Kapal saat itu diketahui hendak berbalik haluan lantaran diterjang gelombang besar. Namun sang nahkoda gagal memutar haluan dan akhirnya kapal tenggelam. Puluhan orang meninggal, dan puluhan lagi hilang sementara kapal tenggelam ke dasar laut yang terkenal ganas itu.

Setelah hampir 14 tahun berlalu, tragedi Pukuafu terulang lagi. Kali ini menimpa kapal nelayan yang hanya membawa 25 penumpang. Dua orang sudah ditemukan selamat, sementara puluhan lainnya belum diketahui nasib mereka.

Banggar DPRD NTT Apresiasi Capaian WTP Pemprov

Kejadian ini sungguh miris, saat upaya dan masyarakat berupaya untuk mencegah korban akibat virus Corona, kita dikejutkan dengan adanya peristiwa kecelakaan laut. Sementara upaya pencarian yang dilakukan Tim SAR dengan melibatkan TNI dan kepolisian serta BPBD Rote Ndao masih terus dilakukan.

Kita prihatin denga peristiwa yang sampai memakan korban jiwa ini. Padahal peristiwa ini sebenarnya bisa dihindari apabila semua pihak mengikuti imbauan BMKG yang mengeluarkan prakiraan cuaca disertai peringatan dini dan protokol pelayaran yang sudah ditetapkan pemerintah.

3.347 Pelaku Perjalanan di Sumba Barat Dipantau

Secara kasat mata, kita bisa menyaksikan sendiri bahwa dalam beberapa hari ini angin kencang melanda wilayah Pulau Timor.

Hal ini juga mestinya menjadi pertanda bagi para awak atau nahkoda kapal nelayan mengenai potensi angin kencang di lauatan.

Bila kurang yakin dengan pengamatan maka bisa mendapat informasi mengenai potensi angin kencang dan tinggi gelombang dari otoritas pelayaran atau BMKG

Sehingga keputusan berlayar atau tidak bisa diambil oleh nahkoda guna menghindari adanya ancaman kecelakaan di laut. Bila tidak mematuhi protokol yang sudah ditetapkan maka hal semacam inilah yang akan didapat.

Bukan saja korban harta benda, tetapi juga korban jiwa. Kita tidak ingin nyawa warga hilang sia-sia di laut lantaran para operator kapal rakyat tidak mengindahkan protokol pelayaran

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved