Breaking News:

Opini Pos Kupang

Kawin Tangkap Sebuah Bacaan Antropologi Budaya

Belakangan ini kita dihebohkan dengan berita tentang 'kawin tangkap' yang ada di Sumba

Kawin Tangkap Sebuah Bacaan Antropologi Budaya
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Dony Kleden, Antropolog Sumba dan Dosen STKIP Weetebula, SBD)

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini kita dihebohkan dengan berita tentang 'kawin tangkap' yang ada di Sumba. Diskusinya pun sangat ramai dan menarik. Berbagai instansi mencoba dengan tajam melihat persoalan ini, baik itu instansi gereja, maupun instansi pemerintah ataupun lembaga-lembaga NGO seperti kelompok feminis yang merasa menjadi korban dari budaya ini.

Sayangnya, semua instansi ini dalam penglihatan saya, dengan begitu binner dan cepat menuduh budaya 'kawin tangkap' ini sebagai sesuatu yang jahat, tercelah dan karen itu segera dihilangkan.

Ijinkan saya pada tulisan ini mencoba membaca budaya ini lebih saksama dan utuh sehingga kita mempunyai gambaran yang jelas dan kemudian bisa mengambil suatu solusi yang lebih arif.

Konsep Budaya

Koentjaraningrat (1923-1999), mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka hidup bersama (masyarakat) yang menjadi milik manusia melalui proses belajar.

BREAKING NEWS: Seorang Nenek 72 Tahun di TTU Ditemukan Tewas Gantung Diri

Hal yang sedana juga dipahami oleh C. Kluckhohn bahwa kebudayaan adalah pola-pola kehidupan yang diciptakan dalam perjalanan sejarah, eksplisit dan implisit, rasional dan irasional yang terwujud pada tiap waktu sebagai pedoman yang berpotensi bagi laku perbuatan manusia.

Sementara itu Frans Boaz: Kebudayaan adalah gabungan dari seluruh manisfestasi kebiasaan sosial dari suatu masyarakat, reaksi-reaksi individual atas pengaruh dari kebisaan kelompok dimana manusia hidup, dan produksi dari aktivitas manusia yang ditentukan oleh kebiasaan mereka.

Defenisi dari ketiga antropolog di atas cukup memberi kita pemahaman dan juga gambaran tentang apa itu kebudayaan sesungguhnya, bahwa kebudayaan adalah suatu pola kebiasaan yang disepakati dalam suatu konteks oleh karena konteks itu memungkinkan atau bahkan menghendakinya.

81 Nakes dan 7 Keluarga Dokter Positif Covid Isolasi Mandiri

Dengan kata lain, suatu kebiasaan yang dikatakan sebagai budaya itu, dia hanya bisa ada dan bertahan sejauh dia masih bisa menjawab konteks.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved