Vakum Life Skill, Rektor UCB Galau

Universitas Citra Bangsa ( UCB) juga menerapkan School From Home (SFH) dalam situasi pandemi Covid-19

Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Yeni Rachmawati
Rektor UCB, Dr drg Jeffrey Jap, M.Kes 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Lembaga Universitas Citra Bangsa ( UCB) juga menerapkan School From Home (SFH) dalam situasi pandemi Covid-19. Namun Rektor UCB, Dr drg Jeffrey Jap, M.Kes, mengakui sistem tersebut tidak berada pada aras yang optimistik terhadap mutu proses pembelajaran bisa sesuai dengan paltformnya.

Kata Jeffrey ketika ditemui Kampus tersebut, Jumat (26/6/2020) mengaku banyak sekali kendala terkait pembelajaran daring dengan berbagai aplikasi yang ada.

Pembelajaran semester genap yang sudah dilewati ditengah-tengah pelaksanaan semester terputus, sehingga sejalan dengan arah pemerintah Kemendikbud dan Pemerintah Provinsi untuk belajar secara daring.

Suasana Demo Tolak Tambang Saat Gubernur Viktor Kunker di Manggarai

"Dan itu sudah diupayakan sejauh ini. Tetapi untuk pembelajaran yang bersifat life skill vakum dan itu menjadi kegalauan tersendiri bagi kami yang mana untuk prodi kesehatan sangat vital. Kalau untuk pembelajaran teoritis apapun situasinya, walaupun saya katakan saya tidak terlalu yakin dengan mutu proses tapi kami coba jalaninya dari segala kendala yang ada," ujarnya.

Semester kedepan, ia berharap, proses pembelajaram bisa kembali seperti biasanya atau normal. Tapi pihak kampus akan melihat situasi dan perkembangannya, memungkinkan atau tidak untuk menerapkan itu.

Gedung Baru Pasar Pada Belum Ditempati, Bala Warat: Menunggu Pintu Dari Surabaya

Kalau tidak berlangsung normal maka pembelajaran online dilakukan secara ketat yang harus dijalani.

Masalah yang belum diselesaikan ialah life skill karena harus berkontak langsung. Sehingga dalam kondisi saat ini NTT masuk dalam adaptasi kebiasaan baru, UCB berusaha untuk life skill sudah mulai berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ia menguraikan kendala yang terjadi saat SFH lewat daring sering terjadi pada mahasiswa. Dari sisi mahasiswa masih lemah, dalam artian banyak sekali yang dilakukan sehingga seolah-olah itu menjadi keluhan.

Misalnya tidak ada uang untuk paket data, ada yang cuek pulang kampung kemudian alasan tidak ada signal.

"Jadi yang lebih berat dari sisi mahasiswanya untuk bagaimana mereka punya kesadaran bahwa sesungguhnya proses ini tetap berjalan. Tapi ada mahasiswa yang pulang kampung, yang suruh pulang kampung siapa? Terus sampai di kampung alasan tidak ada signal. Saya tetap pada arah yang idealis, kamu yang pulang kampung, tidak ikut proses pasti nilainya E. Saya pasti tidak akan luluskan itu UCB," tuturnya.

Pembelajaran dengan sistem daring, Ia tidak terlalu yakin dengan mutunya. Karena berbagai kendala yang dihadapi. Jadi harus realistis bahwa pada akhirnya bila ada PT atau sekolah yang bilang lulus 100 persen itu namanya omong kosong. UCB tidak mau seperti itu karena UCB berjalan sangat normatif, idealis, konservatif dan sangat menyaring.

Kata Jeffrey tidak ada alasan Covid kemudian UCB mengabaikan mutu proses pembelajaran.

"Kami tidak memberikan toleransi untuk kelalaian, ketidakdewasaan mahasiswa dalam menyikapi situasi seperti ini,"ujarnya.

Terkait ekonomi mahasiwa, lanjutnya, juga belum mempunyai data yang valid berapa jumlah mahasiswa orangtua yang terpapar pandemi Covid-19.

Namun untuk SPP tidak ada lagi potongan, karena iuran semester sudah murah tidak jauh berbeda dengan universitas negeri. Paket uang kuliah UCB sudah relatif hemat satu semester mulai Rp 1.800.000 sampai Rp 4.000.000.

"Menteri sudah mengeluarkan statement siswa atau mahasiswa tetap wajib membayar SPP dan sebagainya karena proses pembelajaran tetap dilakukan secara daring, boleh tidak membayar sama sekali bila sekolah tersebut off. Tapi tidak ada sekolah yang off. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved