Breaking News:

Salam Pos Kupang

Mengawal Kinerja Penyidik Kejati NTT

PENANGANAN kasus korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya senilai Rp 126 miliar oleh penyidik Kejati NTT mengalami perkembangan berarti

Mengawal Kinerja Penyidik Kejati NTT
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PENANGANAN kasus korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya senilai Rp 126 miliar oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur ( Kejati NTT) kini mengalami perkembangan berarti.

Setelah pekan lalu menetapkan tujuh orang menjadi tersangka, hari Senin awal pekan ini penyidik Kejati NTT menyita uang senilai Rp 9.509.924.588 (Rp 9,5 miliar lebih) dari seorang tersangka. Uang tersebut disita dari rekening Mohammad Ruslan yang ada di Bank Negara Indonesia (BNI) Jakarta.

Dinas P2KB Ngada Lakukan KIE Selama Masa Pandemi Covid-19

Uang senilai Rp 9,5 miliar dari rekening Mohammad Ruslan itu merupakan bagian atau hampir seperempat dari total nilai kredit yang diajukan tersangka Mohammad Ruslan ke Bank NTT Cabang Surabaya beberapa waktu lalu senilai Rp 40 miliar.

Tak hanya menahan uang, Kejati NTT juga telah mendapat izin penyitaan 26 bidang tanah, tersebar di beberapa kabupaten di NTT. Di Kabupaten Kupang, jaksa telah menyita bidang tanah seluas 44 hektar.

Kejari Belu Selamatkan Keuangan Negara Rp 167 Juta

Selain itu, Kejati NTT juga telah menginventaris dan mengajukan permohonan izin penyitaan 12 bidang tanah di Provinsi Jawa Timur, 2 bidang tanah di Jakarta, 4 bidang tanah di Jawa Barat, 1 bidang tanah di Banten. Selain itu juga dilakukan penyitaan terhadap uang sebesar Rp 90 miliar.

Sampai pada tahap ini, kita patut memberi apresiasi terhadap kinerja dan upaya yang dilakukan oleh penyidik Kejati NTT dalam rangka memulihkan atau mengembalikan kerugian keuangan negara di Bank NTT sebesar Rp 126 miliar. Apalagi pengembalian kerugian keuangan negara di Bank NTT juga menjadi tekad Kajati NTT, Dr Yulianto dan jajarannya.

Tapi hal penting yang harus disadari bahwa penyidikan kasus korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya ini adalah masih dalam proses. Belum sampai pada tujuan atau ending.

Penyidikan kasus ini bisa dianalogikan seperti sebuah perjalanan dari suatu tempat ke daerah tujuan. Pasti ada-ada saja sandungan selama dalam perjalanan, entah dalam bentuk apa bentuknya. Pasti ada batu, ada kerikil-kerikil tajam, maupun ranting-ranting dan dahan pohon yang menghambat kelancaran seseorang dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan.

Dalam konteks itulah kiranya penting bagi masyarakat NTT untuk terus mengawal dan mengawasi kinerja para penyidik Kejati NTT.

Pengawalan dan pengawasan itu dimaksudkan sebagai tuntunan agar dalam penyidikan kasus korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya ini para penyidik Kejati NTT tidak mengalami sandungan baik oleh batu, kerikil-kerikil tajam maupun ranting-ranting pohon dalam perjalanan.

Dengan demikian perjalanan para penyidik Kejati NTT dalam proses penyidikan kasus korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya berjalan dengan lancar sampai tujuan. Sehingga tekad dan keinginan Kajati NTT dan jajarannya untuk mengembalikan kerugian keuangan negara di Bank NTT senilai Rp 126 miliar bisa berhasil dengan baik. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved