Jalin Kerja Sama dengan Media, BPS NTT Ingin Berubah
Sensus Penduduk Online telah ditutup. Namun belum banyak masyarakat NTT yang melakukan SP Online yang baru pertama kali diterapkan oleh BPS ini.
Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Sensus Penduduk Online telah ditutup. Namun belum banyak masyarakat NTT yang melakukan SP Online yang baru pertama kali diterapkan oleh BPS ini. SP Online tidak mencapai target 23 persen. Tetapi
masyarakat juga harus dididik dengan SP Online.
Kepala BPS NTT, Darwis Sitorus, kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (23/6/2020), mengatakan setelah covid BPS NTT tidak bisa bergerak, seharusnya BPS NTT bersosialisasi dengan media-media untuk mengajak masyarakat agar bisa berpartisipasi aktif dengan sensus penduduk.
"Padahal segala upaya sudah dilakukan termasuk telah minta dukungan, setelah ini ada SP lapangan untuk mengakomodir yang belum SP online. Karena September akan dilaksanakan SP manual. Namun anggaran 50 persen sudah habis untuk penanganan covid," katanya saat Wakil Pimpinan Perusahaan Harian Pagi Pos Kupang, Rahman dan Pemimpin Redaksi, Hasyim Ashari, mengunjungi Kepala BPS NTT, Darwis di ruang kerjanya.
Untuk itu, kata Darwis, BPS NNT mau memanfaatkan media- media untuk membantu sosialisasi.
Sebagai media yang tersebar hampir di seluruh NTT, kata Rahman, Pos Kupang selain cetak juga mempunyai media online yang sudah jauh sebelumnya. Online ukurannya pada visitor. Pada pertengahan Juni, ada 752 ribu visitor per hari ini dari google analitik.
"BPS bisa memanfaatkan visitor itu. Pos Kupang juga mengembangkan video youtube, sekarang mempromosikan sesuatu lewat video. Dalam kondisi ini kita alihkan secara virtual, misalnya teman+teman BNN Narkoba, mau sosialisasi menyasar anak sekolah. Jadi kami laksanakan lomba video, begitu juga dengan perhubungan," ujarnya.
Hasyim menambahkan Pos Kupang sebagai bisnis media bisnis oriented, tapi ada sisi lain untuk membangun daerah bersama-sama seluruh stakeholder. Sampai saat ini posisi empat dari 46 portal tribunnews di Indonesia, mengalahkan Jabar, Jogja dan daerah lainnya.
"Pembaca lebih besar jumlahnya perempuan," ujarnya.
Kata Darwis, BPS juga ingin berubah mengarah pada perkembangan teknologi. " Kita juga harus berubah, pola tidak hanya publikasi cetak buku, pengunjung perpustakaan juga turun. Harus tampil beda, ingin tidak langsung menulis data lagi tapi tulisan yang lebih mudah agar mudah dibaca, " katanya.
(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati).
