Maxs Sanam : Belum Ada Penanganan Pasca Wabah ASF
salah satu dokter hewan di Undana, Maxs Urias Ebenhaizer Sanam mengatakan, ia belum melihat roadmap penanganan pasca wabah ASF.
Maxs Sanam : Belum Ada Penanganan Pasca Wabah ASF
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Pasca serangan virus African Swine Fever (ASF) para ternak babi di Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satu dokter hewan di Universitas Nusa Cendana (Undana), Maxs Urias Ebenhaizer Sanam mengatakan, ia belum melihat roadmap penanganan pasca wabah ASF.
"Saya belum melihat roadmap penanganan pasca wabah ASF" katanya pada Jumat (19/06/2020).
Menurut Maxs, memang laporan kasus dan kematian babi di Timor sudah menurun namun ada indikasi di Pulau lain juga sudah mulai ada laporan kasus dan kematian babi yang patut dicurigai mengarah ke ASF mengingat faktor kedekatan geografis (dengan Pulau Timor sebagai daerah Wabah) dan mobilitas barang dan penduduk antar pulau di NTT.
Sementara itu, Undana sebagai perguruan tinggi yang memiliki Tri Dharma diantaranya Pengabdian Kepada Masyarakat juga akan mengambil langkah terkait penyebaran virus ASF yang meresahkan masyarakat khususnya para petenak.
"Dari kampus, khususnya Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Undana, kami akan melakukan kajian epidemiologis tentang ASF dan analisis sekuen DNA virus ASF untuk memastikan genotipe apa yang berperan dalam menimbulkan wabah di Timor" ungkapnya.
Informasi - informasi tersebut, kata Maxs, sangat penting untuk merancang pencegahan dan penanganan wabah ASF ke depan, termasuk input untuk riset tentang vaksin (Data sekuen dan pola DNA).
Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana sekaligus Plt. Dekan FKH Undana ini mengatakan, FKH bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTT juga sudah mengadakan seminar nasional tentang ASF dan memberikan bantuan bahan disinfektan untuk biosekuriti kepada masyarakat melalui Dinas Peternakan NTT.
"Kami juga sudah bertemu Gubernur NTT dan telah menyampaikan gagasan tentang bagaimana manajemen dan kelembagaan Kesehatan Hewan di NTT ini perlu direvitalisasi agar NTT bisa lebih siap dalam menghadapi berbagai ancaman wabah penyakit hewan menular, termasuk ASF ini" ungkapnya.
Untuk peternak sendiri Maxs mengaku kurang mengetahui apa yang sudah mereka lakukan pasca wabah ASF.
"Kalau Peternak sendiri saya kurang tahu. Tapi ada sebagian yang masih posisi menunggu karena khawatir jangan - jangan virus ASF ini belum sama sekali menghilang" katanya.
• Mbak You Ungkap Sosok Anak Perempuan Yang Dibuang, Hotman Paris Hutapea: Lu Nuduh Saya Hamilin Orang
• Bawaslu Kabupaten Belu Ajukan Tambahan Dana ke Bawaslu Pusat
" Ada yang bahkan melakukan konversi dengan memeliharan ternak lain (Ayam misalnya). Nah mesti ada kegiatan survailance untuk memastikan keberadaan virus ASF ini pada ternak babi yg masih survive saat ini. Jangan2 mereka bersifat carier (ada virus tapi tdk bergejala)" tutupnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ella Uzu Rasi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/warek-i-bidang-akademik-sekaligus-plt-dekan-fkh-undana.jpg)