Breaking News:

Opini Pos Kupang

Corona New Normal dan Proyek Sosiologi

Pandemi Covid-19 memaksa miliaran penduduk bumi memasuki cara berada baru. Perlu kesadaran kolektif tentang disiplin tubuh di ruang sosial

Corona New Normal dan Proyek Sosiologi
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh : Wilfrid Valiance, Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UI, pernah menekuni Intercultural Studies di Divine Word College Amerika Serikat

POS-KUPANG.COM - Pandemi Covid-19 memaksa miliaran penduduk bumi memasuki cara berada baru. Perlu kesadaran kolektif tentang disiplin tubuh di ruang sosial. Ini inti wacana kenormalan baru, di tengah pergerakan trend statistik yang terlihat rancu.

Peningkatan korban Covid-19 secara exponensial terjadi justru di negara-negara dengan teknologi kesehatan terbaik dunia seperti Amerika dan Italia. Sementara di negara berkembang seperti Vietnam, hal sebaliknya terjadi. Perlu penjelasan alternatif di luar problem teknologi kesehatan atas kerancuan ini.

Tubuh di Ruang Sosial

Perhatian tentang tubuh sebagai otoritas yang bergerak di ruang sosial sejak lama menarik minat para ilmuwan sosial. Anthony Synnott adalah sosiolog yang memberi perhatian pada karakter sosial tubuh (body social). Ia berbicara tentang cara orang mendiami tubuh dan menggunakan tubuh dalam hubungan pribadi dan sosial. Body social jelas bukan jasad. Ia tubuh yang berkesadaran. Diri yang menampak.

Angin Kencang Diperkirakan Terjadi Hingga Agustus

Pergerakannya di ruang sosial tidak saja membawa hal baik tetapi juga petaka. Talkot Parsons adalah sosiolog yang percaya bahwa demi keteraturan, aktivitas individu di ruang sosial perlu dikontrol oleh struktur-struktur kekuasaan.

Kepatuhan pada peraturan dan hukum sangat penting demi keselamatan bersama. Pandangan ini menjelaskan mengapa Vietnam dapat mencatat angka nol pada statistik Covid-19. Negara yang dikendalikan kekuasaan otoritarian ini menjadi rujukan bekerjanya kontrol kekuasaan dan produk hukum atas individu.

BREAKING NEWS: Lagi, 1 PDP Manggarai Meninggal Dunia di RSUD dr Ben Mboi Ruteng

Selain, tentu saja, faktor kecemasan warga akan bahaya yang mengancam. Hal sebaliknya terjadi di Amerika, negara yang mengagungkan kebebasan individu. Selain faktor usia dan penyakit bawaan para korban, ketidakpatuhan pada hukum memberi andil pada kurva terjal korban.

BBC News menyebut social-distancing failure (kegagalan menjaga jarak) sebagai kesalahan besar Amerika. Warga Kota New York misalnya, berdesak-desakan dalam gerbong subway saat wabah merebak. Sementara sejumlah besar mahasiswanya memadati pantai Florida saat liburan musim semi lalu.

"Aku tidak akan membiarkan Corona menghentikanku berpesta," kata seorang pengunjung pantai Florida.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved