Breaking News:

Kiat Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, Hotel di Daerah Perkuat Food And Beverage

Hotel di daerah memiliki kiat untuk tetap bertahan di tengah wabah pandemi covid-19. Salah satunya adalah memperkuat food and beverage

SASANDO HOTEL untuk POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI - Menu beef bulbogi with butter rice di Sasando Hotel 

POS-KUPANg.COM | JAKARTA -Mewabahnya pandemi wabah virus Corona atau Covid-19 membuat pelaku usaha perhotelan cukup terpukul. Pembatasan aktivitas di berbagai daerah membuat okupansi hunian anjlok.

Hotel-hotel di lokasi wisata jadi salah satu yang terdampak Covid-19. Beragam upaya dilakukan bisnis perhotelan agar bisa tetap bertahan.

General Manager Hotel Dafam Wonosobo, Doni Avianto, menyebut okupansi kamar di hotel yang dikelolanya menurun drastis. Sepinya kunjungan turis ke Wonosobo yang dekat dengan kawasan wisata Dieng, juga ikut membuat pemesanan kamar menurun. "Occupancy drop tapi karena dari awal sudah niat bahwa kita tidak akan tutup, maka kita tetap buka sampai sekarang. Kira-kira sejak 19 Maret 2020," kata Doni kepada Kompas.com, Selasa (9/6).

KPP Buka Layanan Tatap Muka 15 Juni

Selain sepinya pemesan kamar hotel, lanjut dia, pihaknya juga banyak kehilangan pendapatan dari sektor MICE (meetings, incentives, conventions and exhibitions). "Tadinya sudah banyak event, group check in bahkan wedding perdana pun harus cancel. Setelah itu occupancy turun hampir 90 persen, sehari tidak sampai 10 kamar. Itu pun hanya tamu lokal Wonosobo. Kerugian ditaksir mencapai Rp 1,2 miliar," ujar Doni.

Di Wonosobo, pihaknya mencoba beradaptasi dengan memaksimalkan sumber pendapatan lain yang masih terkait dengan operasional hotel, salah satunya dari bisnis restoran. "Untuk mensiasatinya atau menutup expand hotel, kami memperkuat tim food and beverage. Caranya dengan berjualan makanan melalui delivery order. Kami lakukan telemarketing dengan corporate, goverment dan individual untuk memasarkan delivery order," jelas Doni.

Bukopin Dapat Technical Assistance dari BNI

"Di sosmed pun kami gencarkan delivery order. Kami jualan banyak menu mulai dari harga Rp 20.000 net dan gratis biaya pengantaran. Jadi kami push ke food and beverage, tentu dengan protokol kesehatan Covid-19," kata dia lagi.

Banyak hotel tutup

Dikutip dari Harian Kompas, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Maulana Yusran mengungkapkan, pukulan terhadap bisnis hotel dan restoran yang sangat berat, membuat para anggotanya terus berinovasi. Maulana menyebut, sekitar 1.600 hotel di Indonesia sejak Maret memilih tak lagi beroperasi. Angka itu belum mencakup semua hotel dan restoran karena tak semua pemilik melaporkan usahanya ke PHRI.

Sebagian besar pemilik hotel dan restoran juga sudah mulai merumahkan karyawan. "Mau bagaimana lagi, tak ada pemasukan," tukas Maulana.

Pengusaha hotel seperti dirinya merasakan berat menanggung biaya dasar, seperti listrik, gaji karyawan, dan pembayaran BPJS. Oleh karena itu, merumahkan karyawan menjadi pilihan walau sebenarnya sulit. "Kami tak ada uang lagi. Melihat keadaan yang parah ini, kami, pengusaha hotel dan restoran, butuh bantuan insentif dari pemerintah supaya bisa bangkit lagi," kata Maulana.

Pendiri Arma Hotel and Resort Bali, Agung Rai, yang terpaksa menutup hotel karena tak ada tamu, memanfaatkan tabungan untuk membayar gaji 120 karyawannya.

"Kami terlatih menghadapi krisis, seperti Bom Bali, dan sekarang pandemi Covid-19. Jadi, secara mental kami sudah mempersiapkan diri, secara finansial kami juga siapkan," ujarnya. Selain memberikan penghasilan berupa uang tunai, pengelola juga berusaha berbagi bahan pangan, seperti beras dan sayur-sayuran, kepada karyawan. Bahan pangan itu berasal dari sawah dan kebun yang dikelola Arma Hotel and Resort Bali.

Berdasarkan penelitian Colliers International, hotel merupakan bisnis properti yang paling babak belur akibat Covid-19. Untuk melewati kesulitan ini, efisiensi dan inovasi menjadi kunci utama.

Sementara itu, Sementara itu, Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ( Hipmi) Anggawira mengatakan, jaringan hotel yang tutup bisa dimanfaatkan pemerintah untuk tempat orang-orang yang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Hal ini sekaligus bisa menyelamatkan bisnis hotel sekaligus mengatasi keterbatasan ruang isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19. "Jaringan hotel ini daripada tutup tidak ada customer, pemerintah bisa memanfaatkan dan suplai chain makanannya bisa juga didapat dari para pedagang makanan yang omsetnya menurun drastis," kata Anggawira. (kompas.com)

Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved