News

Bercucur Keringat Dekat Api Keluarga Ini Biayai Anak Sekolah Hanya dengan Memasak Garam, Luar Biasa

Budiyanto dan Sulastri Mena, pasutri yang melanjutkan usaha orangtuanya memasak garam di belakang rumahnya.

POS-KUPANG.COM/ARIS NINU
Pondok garam milik Budiyanto dan Sulastri Mena yang menjadi tempat memasak garam halus. 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Aris Ninu

POS KUPANG, COM, MAUMERE - Kesetiaan dan ketekunan menggeluti usaha masak garam secara turun temurun membuat pasangan suami-istri (Pasutri) asal Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka ternyata sukses dan berhasil menyekolah anak-anaknya.

Budiyanto dan Sulastri Mena, pasutri yang melanjutkan usaha orangtuanya memasak garam di belakang rumahnya. Berkat ketekunan dan kesetian Budiyanto dan Sulastri bersyukur karena jerih payahnya membuat keluarga mendapat berkat dan uang.

"Kami sudah lama masak garam halus. Kami beli garam kasar dari Kaburea, Nagekeo lalu masak lagi jadi garam harus. Garam kasar kami beli satu karung berkisar Rp60 sampai Rp 70 ribu. Kami masak jadi halus lalu jual Rp250 ribu sampai Rp 300 ribu. Kami bawa ke Pasar Nita dan Lekebai pakai mobil dan sepeda motor," kata Sulastri kepada wartawan di tempat masak garamnya yang beratap daun kelapa di Kota Uneng, Selasa (3/6) siang.

Siang itu Sulastri dan suaminya sedang memasak garam halus karena mendapat informasi pasar sudah mulai buka dan ramai.

Sulastri mengatakan, sejak Maret garam masakannya hanya laku sekarung saja karena wabah corona. Banyak pembeli dan langganannya dari desa-desa tidak turun ke pasar makanya pendapatannya berkurang.

Pasalnya, sebelum wabah ia sekali jualan menghabiskan 3 karung saat turun ke pasar.

"Kami mau ke pasar tapi selalu sepi. Kadang bawa dua karung tidak laku semua. Sudah bawa dua karung rugi karena sudah keluarkan ongkos tapi garam tidak laku," papar Sulastri.

Usaha garamnya memang pasang surut ibarat gelombang laut tapi berkat kesetiaan dan ketekunan ia berhasil menyekolah empat anaknya.

Malah ada tiga anaknya sudah mendapat pekerjaan dan berumah tangga. "Kami masak garam dan tabung buat anak sekolah. Sekarang ada anak yang sudah SMA. Saya dan suami bersyukur bisa masak garam lalu sekolahkan anak," papar Sulastri.

Pasutri yang mengaku belum tersentuh bantuan selama masa Corona berharap ada perhatian pemerintah bagi semua pemasak garam di Kota Uneng.

"Semua di sini masak garam dan bisa bantu keluarga perlu juga dapat bantuan," papar Sulastri.

Siang itu saat wartawan berada di Kampung Garam aktivitas warga tampak sepi. Warga berada di dalam rumah masing-masing. Ada yang keluar rumah menjadi buruh dan bekerja rumah tangga. Kesepian di Kampung Garam tidak membuat Sulastri dan suaminya tak beraktivitas.

Mereka tetap setia dan tekun di gubuknya memasak garam. Pondok garam yang panas terus membuat Sulastri dan suaminya bekerja. *

Penulis: Aris Ninu
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved