News

Aksi Protes Pembangunan Pabrik Semen di Luwuk Terus Mengalir, AMMARA: Budaya Manggarai Bisa Hilang

Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMMARA) Kupang menyatakan sikap tegas untuk menolak kehadiran pabrik semen dan tambang di Manggarai Timur

ISTIMEWA
Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMMARA) Kupang menyatakan sikap tegas untuk menolak kehadiran pabrik semen dan tambang di Manggarai Timur. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Ryn Nong

POS KUPANG, COM, KUPANG, - Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMMARA) Kupang menyatakan sikap tegas untuk menolak kehadiran pabrik semen dan tambang di Manggarai Timur (Matim).

Aliansi ini terdiri dari sejumlah organisasi kepemudaan Manggarai di Kupang, yakni: Ikatan Mahasiswa Pendalaman Iman Keuskupan Ruteng (TAMISARI-Kupang), Himpunan Pelajar Mahasiswa Manggarai Timur (HIPMMATIM-Kupang), Persatuan Mahasiswa Manggarai (PERMAI-Kupang), dan Persatuan Mahasiswa Manggarai Barat (PERMMABAR-Kupang).

Dalam rilis yang diterima Pos Kupang, Senin (1/6), rencana pembangunan pabrik semen dan penambangan bahan baku batu gamping yang mencerminkan sikap malas pemerintah untuk mengurus sektor pertanian sebagai sektor primer di Matim.

"Rencana pembukaan pabrik semen di Luwuk dan Lingko Lolok mengindikasikan watak dan cermin Pemda yang malas, tidak bertanggung jawab dan mati gaya. Pemda tidak memiliki inisiatif untuk memajukan kesejahtraan rakyat dengan mengoptimalkan sektor pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata," ungkap koordinator Aliansi, Jefri Nyoman.

Bagi para mahasiswa, pembangunan yang diserahkan pada tangan investor ekstraktif, memiliki fakta historis yang buruk di Manggarai, seperti: rusaknya alam dan hilangnya sumber penghidupan warga.

"Bersama ini kami yang tergabung dalam AMMARA-Kupang, menyampaikan, kami menolak rencana Pemerintah Daerah Matim dan Pemerintah Provinsi NTT untuk membangun pabrik semen dan pertambangan batu gamping di Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda," tegas Jefry.

Ia mengatakan, penolakan tersebut didasarkan pada pertimbangan Sosio Kultural Matim. Selain itu, pembangunan Pabrik Semen juga tidak urgen untuk saat ini serta tidak mensejahterakan masyarakat terdampak.

Pabrik dan tambang bahan baku semen akan merusak lingkungan hidup juga merugikan masyarakat terdampak secara ekonomi.

Secara sosial budaya, masyarakat akan kehilangan identitas budayanya yang berhubungan dengan prinsip hidup orang Manggarai seperti "Gendang one lingkon peang, natas bate labar, beo bate kaeng, uma bate duat, wae bate teku agu compang".

Apalagi visi-misi rezim Bupati Matim Agas Andreas, salah satunya, berbicara tentang budaya dan juga secara tegas diatur dalam Perda Nomor 1 tahun 2018 tentang perlindungan, pengakuan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat.

"Artinya, kalaupun investasi tetap dijalankan maka secara langsung Pemkab Matim dengan sengaja berusaha menghapus jejak-jejak budaya orang Manggarai khususnya masyarakat di Luwuk dan Lingko Lolok dan mengangkangi janji-janji kampanye pada Pilkada 2018 kali lalu," tegas Jefry.

Argumentasi bahwa pabrik semen akan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat terdampak menurut mahasiswa Manggarai Raya di Kupang tidak berdasar.

Kehadiran pabrik semen akan meningkatkan jumlah pendatang dari daerah lain yang akan berupaya mengambil bagian atas potensi rembesan manfaat ekonomis dari pabrik tersebut.

Dalam kondisi ini akan terjadi persaingan yang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh para pendatang karena lebih memiliki keahlian, keuletan dan modal dibandingkan dengan penduduk lokal yang selama ini adalah petani. *

Penulis: Ryan Nong
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved