Respon Cepat BBKSDA NTT Tangani Konflik Satwa Liar Buaya Dan Manusia di Amarasi Timur, Kupang

Konflik satwa liar antara buaya muaradan manusia kembali terjadi di Muara Noehaen, Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur

ISTIMEWA/DOK BKSDA NTT
Korban serangan buaya di Sumber air Uff Noehaen, Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Konflik satwa liar antara buaya muara ( Crododilus porosus) dan manusia kembali terjadi di Muara Noehaen, Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang pada minggu pagi tanggal 31 Mei 2020.

Pada lokasi tersebut terdapat sumber air yang selama ini dipergunakan oleh masyarakat setempat.

Berdasarkan kesaksian korban atas nama SIMON KABNANI, usia 60 tahun warga RT.006/RW.002 Dusun 2 Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, sekitar pukul 06.00 Wita korban membawa jerigen menuju ke sumber air "uff Noehaen", saat korban jongkok untuk mengambil air, tiba-tiba buaya muncul dan langsung berusaha menerkam korban, dalam keadaaan tersadar korban segera menghindar namun terluka pada bagian lengan dan dada.

Revolusi Pertanian Menjadi Andalan Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi di Kabupaten Malaka

Selanjutnya dengan beberapa rekan korban yang sedang berkebun membawa korban ke Puskesmas pakubaun untuk mendapatkan perawatan.

Sesuai dengan Permenhut No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, buaya muara (Crocodyus porosus) termasuk dalam satwa yang dilindungi namun keberadaannya di alam dipandang sebagai ancaman terhadap manusia.

Kapolres Malaka, Albertus Neno Bersama Tim Safari Berbagi Kasih di Malaka Barat

Konflik manusia dan satwa liar terjadi di saat manusia dan satwa liar menempati area yang sama atau menggunakan sumberdaya yang sama. Konflik manusia-buaya muara konflik manusia dan satwa liar utama yang terjadi di

provinsi NTT.

Kerugian yang disebabkan terjadinya konflik manusia dan buaya bukan hanya menyebabkan korban luka dan kehilangan jiwa, namun lebih dari itu juga menyebabkan terganggunya aktifitas nelayan, mengurangi kenyamanan kegiatan pariwisata, dan pada beberapa tempat

mengakibatkan hilangnya ternak.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diantaranya menyelenggarakan fungsi pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa liar beserta habitatnya (in-situ maupun ek-situ) serta sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional telah mengambil langkah-langkah dalam upaya

Halaman
123
Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved