Mantan Sekretaris MA, Nurhadi Sembunyi Bersama Istri Di Rumah Tak Bertuan di Simprug Jakarta Selatan

"Tidak terkonfirmasi kalau rumahnya siapa. Yang jelas, saat digeledah kedua tersangka ada di sana, bersama istri dan anak, cucunya serta pembantu.

kompas.com
Mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi Abdurrachman berjalan memasuki Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (6/11/2018) lalu. Nurhadi Abdurrachman, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan petinggi Lippo Group Eddy Sindoro, dalam tindak pidana korupsi memberi hadiah atau janji terkait pengajuan Peninjauan Kembali (PK) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.(ANTARA FOTO/Reno Esnir) 

Mantan Sekretaris MA, Nurhadi  Sembunyi Bersama Istri Di Rumah Tak Bertuan di Jakarta Selatan

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Setelah menjadi buronan 4 bulan terhitung Februari 2020, mantan Sekretaris MA, Nurhadi atau lengkapnya Nurhadi Abdurachman akhirnya ditangkap KPK di sebuah "rumah tak bertuan" di Simprug, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2020) malam.

"(Ditangkap) di daerah Jakarta Selatan, daerah Simprug," kata
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango, Selasa (2/6/2020).

Nawawi mengaku belum bisa mengonfirmasi siapa pemilik rumah tempat Nurhadi dan Rezky itu. Namun, ia menyebut tim KPK menemukan Nurhadi dan keluarganya saat menggeledah rumah tersebut.

"Tidak terkonfirmasi kalau rumahnya siapa. Yang jelas, saat digeledah kedua tersangka ada di sana, bersama istri dan anak, cucunya serta pembantu," ujar Nawawi.

Nurhadi dan Rezky merupakan tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA. Keduanya berstatus buron sejak Februari 2020 lalu.

Selain Nurhadi dan Rezky, KPK juga masih memburu seorang tersangka lain dalam kasus ini, yaitu Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto.

Mulai Sekarang Stop Pakai Sarung Tangan Saat Belanja, Ini Alasannya, Bahaya!

Sensasi Ramadan di Jakarta untuk Pertama Kalinya, Begini Ungkapan Pemain Persija Marco Motta, Info

Harlah Pancasila Saat Pandemi Covid-19

KPK menetapkan Nurhadi, Rezky Herbiyono dan Hiendra Soenjoto sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di Mahkamah Agung.

Dalam kasus itu, Nurhadi melalui Rezky diduga telah menerima suap dan gratifikasi dengan nilai mencapai Rp 46 miliar.

Menurut KPK, ada tiga perkara yang menjadi sumber suap dan gratifikasi yang diterima Nurhadi yakni perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, sengketa saham di PT MIT, dan gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan.

Halaman
1234
Editor: Frans Krowin
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved