Breaking News:

Spirit Pemprov NTT di Balik Kawasan Bukit Besipae

KAWASAN perbukitan Besipae di Kabupaten Timor Tengah Selatan ( Kabupaten TTS) belakangan ini menjadi diskursus yang hangat dan menarik

Spirit Pemprov NTT di Balik Kawasan Bukit Besipae
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh : Yarid J. Saudila Pemerhati dan Pegiat Pers di Kota Kupang

POS-KUPANG.COM - KAWASAN perbukitan Besipae di Kabupaten Timor Tengah Selatan ( Kabupaten TTS) belakangan ini menjadi diskursus yang hangat dan menarik. Hal itu bermula dari upaya penertiban kawasan tersebut oleh Pemerintah Provinsi NTT. Penertiban oleh petugas Satpol PP NTT yang juga dikawal aparat polisi dan tentara dari Kabupaten TTS, mendapat penentangan keras dari kelompok warga yang belakangan menempati dan mengaku sebagai pemilik lahan di Besipae.

Penentangan warga itu, antara lain diwarnai aksi nekat sejumlah ibu yang rela bertelanjang dada menghadang aparat, termasuk ketika Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat mengunjungi wilayah tersebut beberapa waktu lalu.

60 Pelaku Perjalanan di Reok Barat Manggarai Dapat Paket Sembako Dari Gugus Tugas Covid-19

Kondisi disharmoni yang terjadi belakangan ini seakan menyegarkan ingatan publik tentang kawasan Besipae yang "tidak diperhatikan" selama puluhan tahun silam.

Terletak sekitar 90 km sebelah timur Kota Kupang, Besipae sebenarnya pernah mengembuskan kesejahteraan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar. Setidaknya bagi warga empat desa dalam cakupannya, yaitu Linamnutu, Mio, Pollo dan Oe Ekam.

Kecamatan Maulafa Perketat Penerapan Protab Kesehatan

Mengutip Frans Sarong, dalam tulisan "Ikan Nila yang Menghilang dari Besipae" (mediantt.com, 18 Februari 2020), pensiunan wartawan Kompas ini menulis, Besipae hingga awal tahun 1985 pernah menjelma menjadi kawasan pertanian terpadu. Tak hanya pernah berwujud sebagai padang penggembalaan sapi dengan stok pakan 'sehat' dan tersedia. Besipae juga pernah menjadi kawasan contoh usaha pertanian dalam arti luas.

Frans Sarong bahkan lebih spesifik menyorot soal kawasan Besipae di Amanuban, bagian selatan TTS, pernah menjadi sumber lauk Nila bagi masyarakat sekitarnya. Menariknya, jenis ikan air tawar itu justru dihasilkan dari kawasan yang sejak turun temurun kering, gersang dan tentu saja miskin air. Namun budidaya nila sempat tumbuh di sana berkat teknologi danau buatan dari hasil kerja sama Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia, sekitar 35 tahun lalu.

"Tidak sedikit masyarakat sekitar bahkan sudah sempat menikmati lauk ikan air tawar dari danau buatan dalam kawasan Besipae. Warga juga tidak lagi harus pergi jauh untuk kebutuhan air minum. Kebutuhan dasar itu terpenuhi dari danau buatan tersebut. Air dan pakan untuk ternak pun tersedia langsung dalam kawasan (Frans Sarong, Kompas, Kamis, 17 Januari 1985).

Tapi sayang, Besipae yang sempat jadi kebanggaan NTT, sepenuhnya sudah terkubur dan hanya menjadi kisah masa lalu. Besipae belakangan kembali menjelma seakan menjadi kawasan liar. Namanya kini tiba tiba kembali mencuat. Bukan karena mimpi awal menjadi contoh kawasan pertanian terpadu, kian nyata. Pemicunya justru sebuah konflik yang terjadi di lokasi, Senin 17 Februari 2020.

Tapi, dari riwayat Besipae yang sesungguhnya bisa diketahui bahwa tidak sedang terjadi pencaplokan tanah di Besipae. Apalagi menuding Pemprov NTT merampas hak ulayat masyarakat Bespae. Karena itu, amatlah rasional kalau perlu melihat kembali riwayat tanah Besipae yang telah menjadi aset Pemprov NTT.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved