Renungan Harian Katolik

Memaknai surat-surat dari Molokai-Hawaii (10 ) : Vivat Cor Jesu : Terpujilah Hati Yesus

Memaknai surat-surat dari Molokai-Hawaii (10 ) : Vivat Cor Jesu : Terpujilah Hati Yesus

Dok Maxi Un Bria
Memaknai surat-surat dari Molokai-Hawaii (10 ) : Vivat Cor Jesu : Terpujilah Hati Yesus 

Renungan Harian Katolik

Memaknai surat-surat dari Molokai-Hawaii (10 ) : Vivat Cor Jesu : Terpujilah Hati Yesus

RD. Maxi Un Bria

Sabtu 23 Mei 2020

Biasanya pada bagian atas surat para religius Hati Kudus Yesus dan Maria ( SS.CC ) jaman itu ada ungkapan khas yang selalu ditulis yakni ‘ Vivat Cor Jesus Sacratissimum’ artiya Terpujilah Hati Yesus yang Mahakudus.

Hati yang penuh belaskasih dan murni, yang telah menjiwai dan menginspirasi para religius untuk melayani sesama dan mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Pater Damian dalam suratnya ( Kalawao-Molokai, Kepulauan Sandwich 31 Januari 1885 ), menyampaikan kepada kakanya, Pater Pamfilius pada ordo yang sama tentang keterbatasan imam di tanah misi- Hawaii.

Para imam yang datang melayani di Hawaii juga diminta untuk belajar bahasa Portugis, Inggris di samping bahasa Hawaii karena banyak imigran Portugis yang datang ke Hawaii un tuk bekerja di pabrik gula. Tetapi Pater Damian menulis bahwa ia tidak perlu belalar Bahasa Portugis dan Inggris sesuai nasihat Bapak Uskup , karena ia tinggal di antara para penderita kusta di Molokai. ( E. Brion 1988; 14 )

Dalam suratnya Pater Damian selain bertanya tentang perkembangan panggilan di Seminari Tinggi Leuven-Belgia tempat Pater Pamfilus mengajar, ia juga mulai menyinggung tentang sakit yang dirasakan. “ Kaki kiri saya terasa sangat sakit, agaknya ada saraf yang terganggu , kalau harus berjalan-jalan.

Pemukiman kusta masih seperti yang dulu terdapat 700-800 orang. Mereka semua adalah korban penyakit yang tidak dapat disembuhkan , maka satu-satunya jalan keluar ialah ke pekuburan. Pada periode 1884, dalam jangka waktu delapan bulan terdapat 133 penderita kusta yang meninggal”. ( E. Brion 1988;15) Meski demikian Pater Damian bergembira dan sungguh terbantu dengan hadirnya Pater Albert Montiton yang menjadi misionaris kepulauan .

Juga berkat kebaikan hati seorang tokoh muda katolik yang dipercayakan menjadi kepala kampung . Ia selalu membantu Pater Damian melayani para penderita kusta baik menyangkut aspek rohani maupun jasmani.
Dalam pelayanan dan pergumulan, Pater Damian merasa mendapat dukungan dari kakanya Pater Pamfilius dan rekan sepelayanan Pater Albert Montiton. Lebih dari itu devosi Kepada Hati Kudus Yesus dan Maria sangat meneguhkan Pater Damian dalam memanggul salibnya. Ia percaya pada Sabda Yesus berikut ini “ Kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi, dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraan itu dari kamu” ( Yoh 16 : 22 )

Semoga semangat keterbukaan dan kerjasama selalu tumbuh bersemi dalam hati setiap orang yang terpanggil untuk mengemban tugas pelayanan kemanusiaan dan kemasyarakatan .

Doa. Ya Tuhan berkatilah semua orang yang terlibat dalam pelayanan kemanusiaan agar apa yang mereka kerjakan dapat menghadirkan damai dan kegembiraan bagi banyak orang, amin.

Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved