EP DA GOMEZ WAFAT

Lebu Raya Kehilangan Pejuang Kokoh

POLITISI kawakan dan tokoh masyarakat Kabupaten Sikka, EP da Gomez meninggal dunia

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/EGINIUS MO’A
EP da Gomez (kemeja putih) penulis buku, Memaknai Nilai Ketokohan dan Kepemimpinan,’ cerita sekilas tentang Drs. Frans Seda, VB da Costa, S.H, Drs. Ben Mang Reng Say, P.S. da Cunha, dan Laurentius Say, menerima buku bersama Dr. Gery Gobang (tengah), dan Drs.Paulus Nong Susar (kanan) dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Sikka, dalam peluncuran buku, Sabtu (28/12/2019) di Aula Cherubim Centre, Maumere, Pulau Flores. 

POS-KUPANG.COM - POLITISI kawakan dan tokoh masyarakat Kabupaten Sikka, EP da Gomez meninggal dunia, Senin (18/5). Pria yang akrab disapa Moat EG ini menghembuskan napas terakhir di RSUD dr TC Hillers Maumere, pukul pukul 13.45 Wita.

Kepergian Moat EG untuk selama-lamanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat dan kenalan. Mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengaku merasa kehilangan.

"Saya secara pribadi dan keluarga turut berdukacita atas meninggalnya Bapak EP da Gomez dan mendoakan arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa," ucap Lebu Raya, Senin malam.

Masayu Anastasia: Belajar Masak

"Kita kehilangan seorang tokoh pejuang yang kokoh, konsisten dan sederhana sampai meninggalnya," tambah Lebu Raya.

Mantan Ketua DPD I PDIP Provinsi NTT ini mengenal Moat EG sebagai politisi yang berwibawa dan konsisten berjuang untuk rakyat.

"Beliau mulai dari Partai Katolik, kemudian fusi ke Partai Demokrasi Indonesia dan lanjut berjuang melalui PDI Perjuangan. Saya memandangnya sebagai seorang guru yang memberikan semangat dan motivasi agar orang harus berjuang dengan ideologi dan prinsip yang tegas," kenang Lebu Raya.

Area Bendung Benenain Bisa Ditata Menjadi Objek Wisata Menarik

"Beliau tunjukan juga dalam seluruh derap perjuangannya dan selalu mengingatkan yunior agar berjuang dengan jujur dan konsisten. Saya sangat menghargai beliau sebagai tokoh dan kader yang juga mau mendengar orang," tutur Lebu Raya.

Menurut Lebu Raya, EG yang mendorongnya memimpin PDI Perjuangan ketika partai ini dilanda konflik dan jadi pecah. "Saya jalani kepemimpinan saya di partai dengan prinsip dan ideologi yang sama. Saya mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa beliau untuk partai ini dan untuk seluruh perjuangannya. Saya juga ingat di saat terakhir beliau menulis buku. Banyak kisah tentang perjuangan yang dilukiskan dengan apik. Saya mengucapkan selamat jalan. Kami melanjutkan perjuanganmu Om EG," ujar Lebu Raya.

Guru Politik

Terpisah, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sikka, Stef Sumandi menuturkan, Moat EG merupakan guru politik. Menurutnya, beliau telah memberikan banyak ilmu kepada kader PDI Perjuangan dan masyarakat Sikka.

"Bagi kami sosok Moat EP da Gomez adalah guru politik. Semasa hidupnya banyak ide dan gagasan yang merupakan buah dari pikirannya sangat membantu kami untuk menyelesaikan berbagai persoalan di daerah ini. Uniknya, bapak menyampaikan sikap politiknya dengan dengan sangat ilmiah. Pendasaran pikiran yang logis, methodis, argumentatif, solutif, berbasis kajian ilmu pengetahuan dan kultur setempat menjadi contoh cara berpolitik modern bagi kami," tutur Stef di Maumere, Senin malam.

Stef mengatakan, perpaduan intuisi politik dan ilmu pengetahuan mematangkan Moat EG sebagai politisi kawakan yang patut diteladani.

"Beliau mengajarkan kepada semua politisi bahwa sikap politik harus disampaikan dengan cara yang tegas tetapi tetap menjaga etika serta pada waktu dan tempat yang tepat. Bukan sekadar mencari popularitas atau pencitraan tetapi justru kualitasnya terletak pada substansi solusi yang tepat untuk setiap masalah," kata Stef.

Kepada semua kader PDI Perjuangan, lanjut Stef, Moat EG menciptakan dialektika dalam setiap dinamika politik. Beliau selalu meragukan setiap statemen. Tidak serta merta dipercaya. Ia justru harus menguji kesungguhan pikiran itu sebelum menjadi keputusan dengan referensi pengalaman, kajian ilmiah para pakar dan harus visioner. Itulah mengapa tidak semua orang mampu memahami tujuan dalam setiap sikapnya.

"Karena itu kami merasa belum cukup waktu untuk bersama beliau. Kami masih sangat merindukan kehadiran beliau. Namun, dengan tegar hati, kami harus melepas kepergiannya karena kami yakin itulah kehendak Tuhan," ucap Stef.

"Kami bangga pernah bersama Bapak EP da Gomez. Raganya boleh pergi namun semangat juang tetap kami lanjutkan dalam membangun berbasis ideologi Pancasila. Selamat jalan Bapak EP da Gomez," tambah Stef. (aca/ris)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved