Opini Pos Kupang

Sejarah Kegilaan Di Ujun Pena EP Da Gomez (In Memoriam Sang Tokoh Politik dari Sikka)

Sejarah Kegilaan Di Ujun Pena EP Da Gomez (In Memoriam Sang Tokoh Politik dari Sikka)

Sejarah Kegilaan Di Ujun Pena EP Da Gomez (In Memoriam Sang Tokoh Politik dari Sikka)
Dok
Logo Pos Kupang

Sejarah Kegilaan Di Ujun Pena EP Da Gomez (In Memoriam Sang Tokoh Politik dari Sikka)

Oleh: Dr Jonas KGD Gobang, S.Fil, MA (Dosen Komunikasi Politik pada Universitas Nusa Nipa Maumere)

POS-KUPANG.COM - Michel Foucault menulis naskah disertasinya yang telah diedit menjadi sebuah buku saku berjudul Sejarah Kegilaan (Historie de la folie). Sontak saya tertegun pada pemikiran Foucault tentang kekuasaan dan tentang bagaimana kuasa itu diproduksi dan dilaksanakan.

Saya tidak membaca buku aslinya berbahasa Perancis. Saya membacanya dari disertasi seorang pastor tarekat SVD bernama Edu Dosi yang menyelesaikan studi doktoral bidang Ilmu Komunikasi pada Universitas Indonesia. Disertasi pastor tersebut telah menjadi sebuah buku berjudul Media Massa dalam Jaring Kekuasaan (2012). Di buku ini saya menemukan inspirasi pada frasa "sejarah kegilaan".

Mengenal EP da Gomez: Menutup Lembaran Terakhir

Lantas pada sebuah notes, saya menorehkan kata-kata ini, "Sejarah kegilaan seorang EP da Gomez, belajar dari sang politisi dalam konstelasi politik lokal dan nasional". Saya berpikir sejenak, mengapa harus menulis artikel ini ketika EP da Gomez telah terbujur kaku? Ia meninggal dunia di RSUD TC Hillers Maumere, Senin siang (18/5). Jawaban yang pasti adalah generasi sekarang perlu belajar dari sejarah. Dan lebih dari itu, generasi sekarang nampaknya kehilangan figur yang menjadi contoh atau teladan, atau sekurang-kurangnya mereka dapat belajar dari berbagai pengalaman masa silam orang-orang penting yang menjadi inspirator dan motivator dalam berbagai pergerakan di berbagai bidang.

Kegilaan Sang Tokoh

Dari sekian banyak politisi asal Kabupaten Sikka yang saya kenal, nama EP da Gomez patut saya sebutkan. Saya pernah menjumpainya di Bandara Ngurah Rai Denpasar, Senin 16 Desember 2013 silam. Saat itu ia baru saja luput dari maut. Batin saya mengatakan, saya nyaris kehilangan momentum. Gila! Ah... EP da Gomez membuat saya merasa geli dengan tingkah "gila"-nya. Ia memang pantas saya katakan "gila". Ia gila baca. Baca apa saja, terutama buku-buku hebat dan majalah atau surat kabar ternama seperti Kompas dan Tempo.

Save the Children Serahkan Bantuan APD Kepada Gugus Tugas Covid-19 NTT

Bahkan ketika saya berjumpa dengannya di Bandara Ngurah Rai Denpasar (Senin, 16 Desember 2013), saat ia didorong di kursi roda setelah selamat dari serangan jantung, seorang EP da Gomez masih meneteng bahan bacaan, yaitu sebuah buku tebal Salim Said terbitan Gramedia dan Surat Kabar Kompas. Ia juga gila tulis. Segudang tulisannya telah menjadi buku, tidak terhitung berbagai artikelnya di surat kabar dan majalah lokal dan nasional.

Kalau ia bicara baik di forum legislatif (sebagai anggota parlemen di Kabupaten Sikka) maupun di berbagai forum lainnya, pasti terselip ide-ide gilanya. Diksinya terkadang mengundang decak kagum banyak orang tetapi tidak sering juga orang bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, "gila orang ini!" Karena itulah saya sesungguhnya punya niat untuk menuliskan "sejarah kegilaan" seorang EP da Gomez. Dan kalau pun saya harus menuliskan sejarah kegilaan, tentu saja saya harus menemukan berbagai bentuk kegilaan seorang EP da Gomez yang patut dijadikan pelajaran untuk setiap generasi.

Niat saya tersebut ternyata tak dapat saya raih karena memoar (biografi) tentang seorang EP da Gomez telah disiapkan untuk segera di-launching pada waktu dan tempat yang tampan. Entah kapan, bukan urusan saya. Anda dan saya akan segera menemukan apa yang pernah diungkapkan oleh Nietzsche sebagai fundamental aspect dari realitas yang menentukan segalanya. Para filsuf dengan berbagai konsep menyebutnya sebagai kesadaran.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved