Opini Pos Kupang

Desa/Kelurahan Siaga Cegah Covid-19 di NTT

Corona Virus Diseases 2019 ( Covid-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus bernama SARS-COV-2

Desa/Kelurahan Siaga Cegah Covid-19 di NTT
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp, M.Kes dan Dr Drg Dominikus Minggu, M.Kes (Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, Tim Gugus Covid-19 Provinsi NTT dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT)

POS-KUPANG.COM - Corona Virus Diseases 2019 ( Covid-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus bernama SARS-COV-2, atau seringkali disebut virus Corona. Menurut WHO (2020) Covid-19 merupakan keluarga besar virus Corona yang menyebabkan sakit pada manusia.

Pada manusia virus Corona menyebabkan infeksi saluran pernafasan mulai dari pilek biasa hingga infeksi tenggorokan berat seperti MERS (Middle East Respiratory Syndrom) berasal dari Saudi Arabia dan pertama kali dilaporkan di Inggris pada September 2012, sementara SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang kasusnya berlangsung 2002-2003 di Guangzhou, China. Yang terakhir ditemukan adalah Covid-19. Saat ini (7 Mei 2020 pukul 00:00 2020) di dunia terdapat kasus postif Covid-19: 3.859.483 orang; meninggal 266.993 orang; sembuh 1.320.963 orang. Di Indonesia sendiri, Covid-19, positif 12.766 orang; dirawat 9.465 orang; meninggal 930 orang; sembuh 2.381 orang . Tertinggi di DKI Jakarta dan terendah di NTT.

Di NTT, kasus Covid-19 yang pertama (01) sudah dinyatakan sembuh pada tanggal 28 April 2020. Hingga 7 Mei 2020 terdapat 12 positif Covid-19, sembuh 1 orang. Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 1.679 orang; Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 65 orang. Orang Tanpa Gejala (OTG) 562 orang (Sekretariat Gugus Covid-19 Provinsi NTT).

Mengapa banyak yang tertular Covid-19 dan meninggal? Pertama, karena Covid-19 merupakan penyakit baru, jadi manusia belum punya kekebalan tubuh terhadap virus SARS-COV-2.

Kedua, vaksin dan obatnya belum ditemukan. Saat ini, 115 penelitian vaksin Covid-19 sedang dilakukan (Reuters, 26 April 20) diberbagai negara. Namun semua upaya ini belum menghasilkan vaksin atau obat yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi Covid-19.

Oleh karena itu, upaya-upaya pencegahan dengan mengenal terlebih dahulu cara penularan Covid-19 (misalnya melalui DROPLET-percikan ketika orang batuk/berbicara atau bersin) dari penderita Covid-19 merupakan aksi yang paling penting. Penerapan social/physical distancing cara terbaik untuk memutuskan mata rantai infeksi/transmisi.

Karena sentuhan fisik seperti cium tangan, cium hidung, jabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki dapat menularkan Covid-19. Perlu diketahui bahwa, penularan dari orang per orang melalui batuk dan bersin lebih mudah di lingkungan yang tertutup dan ramai, seperti sekolah, asrama, rumah tangga, kantor, lingkungan medis, kapal penumpang/pesiar, panti jompo, penjara, dll. Pemerintah menetapkan agar setiap individu menjaga jarak 1-2 meter (social and physical Distancing), bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.

Saat ini episentrum Covid-19 di banyak negara masih berpusat di kota-kota besar atau daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi. Demikian juga di Indonesia, seperti Jakarta/DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dst, berturut-turut menempati pertama, kedua dst. Setelah dilakukan berbagai kebijakan karantina hingga lockdown, perkembangan transmisi Covid-19 sangat bervariasi dari satu provinsi ke provinsi yang lain. Namun demikian implikasinya sangat besar terutama terhadap aktivitas ekonomi dari hulu he hilir, telah mengakibatkan terjadinya arus PHK yang menyebabkan terjadinya arus balik (migrasi balik) TKI/TKW, para perantau, termasuk mahasiswa dari daerah atau manca negara, terutama dari zona merah. Influx TKI atau para perantau ini perlu dimonitor atau dipantau secara baik agar mereka tidak menjadi pembawa wabah ke desa.

Hal ini bisa mengubah peta infeksi dari kota ke pedesaan atau daerah sub urban.
Dalam konteks NTT, sebagai daerah kepulauan, mobilitas penduduk cukup tinggi dan tidak dapat dipungkiri terdapat ribuan buruh migran (TKI/TKW), termasuk mahasiswa/i asal NTT yang telah ke kampung halaman mereka.

Mereka yang pulang setelah Indonesia mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama dan kedua dst, dapat menjadi ODP dan atau PDP tergantung kepada asal daerah/negara. Salah satu standar prosedur sesuai WHO yang dilakukan KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kupang dan kabupaten, dengan mendata seluruh penumpang yang tiba di pelabuhan-pelabuhan udara maupun laut di berbagai daerah. Yang disebut pelaku perjalanan kepada mereka dilakukan screening sebagai bentuk kewaspadaan untuk memantau perkembangan pelaku perjalanan yang sehat, atau ODP, PDP maupun OTG.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved