Opini Pos Kupang

PANIK: Hadapi Covid-19 dengan tenang-jangan Panik

Kita sekarang dibuat panik oleh mewabahnya Covid-19. Seluruh manusia sejagat panik

PANIK: Hadapi Covid-19 dengan tenang-jangan Panik
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Anton Bele, Pemerhati Bidang Filsafat Pembangunan, Tinggal di Kupang

POS-KUPANG.COM - Panik. Panik itu kata lainnya, huru-hara, bingung, lari salah-salah, kanga-ranga. Kamus bilang, `takut mendadak sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang'. Kita sekarang dibuat panik oleh mewabahnya Covid-19. Seluruh manusia sejagat panik. Rakyat dan pemerintah, umat dan pemimpin agama-agama, bingung, buat keputusan-keputusan darurat.

Ternyata, kata `panik' itu pinjaman dari bahasa Belanda, `paniek'. Belanda pinjam dari bahasa Inggris, `panic'. Inggris pinjam dari bahasa Perancis, `panique'. Perancis pinjam dari bahasa Latin, `panicum'. Latin pinjam dari bahsa Yunani, `panikos'. Orang Yunani, 300 tahun sebelum Masehi ciptakan kata ini dari sifat Dewa, Pan, Dewa pelindung hutan, ladang dan ternak. Dewa ini digambarkan, berkepala manusia, berbadan kambing. Dewa Pan ini putera Dewa Hermes yang kawin dengan peri (jin perempuan). Dewa Pan ini sering muncul dalam bentuk mala-petaka yang meluluh-lantakkan ladang, mematikan ternak dan merusak hutan sehingga membuat manusia takut, huru-hara, bingung.

Tingkatkan Posisi Tawar Lewat Kartu Prakerja

Untuk hibur Dewa Pan, manusia hidangkan minuman anggur dan makanan yang enak-enak lagukan lagu-lagu merdu sambil berpesta pora. Jadi kata `panik' itu muncul dari dewa yang satu, ini, Dewa Pan. Ini legenda, tidak ada kaitannya dengan `Corona', tapi suasana panik, hiruk-pikuk itu sama.

Jangan panik. Hadapi Covid-19 dengan tenang. Rasa panik itu membuat empat unsur dalam diri kita manusia tegang, tidak tenang dan tidak senang. Empat unsur dalam diri kita manusia itu terganggu: Nafsu, Nalar, Naluri dan Nurani menjadi tidak seimbang. (Kwadran Bele, 2011). Nafsu, dorongan hidup terganggu dan tubuh serasa terkubur hidup-hidup oleh berbagai ketakutan dan keterkurungan. Nalar, putar otak naik-turun untuk atasi apa itu Covid-19. Naluri, semangat saling tolong-menolong muncul dalam berbagai bentuk amal biar sering ada unsur pamer. Nurani, kesadaran tentang kuasa Ilahi diungkapkan denga tiarap, bertelut dan berlutut sambil berlinang air mata.

Pemkab Belu Masih Mendata Warga Penerima Bantuan JPS

Sejatinya Covid-19 ini adalah terapi dadakan yang memurnikan nafsu liar tak terkendali, nalar yang suka ngalor-ngidul, naluri yang rakus-serakah, nurani yang buta batu. Nafsu menghimpun harta dan kuasa dihempas. Nalar cipta aneka wacana dan wahana diluruskan. Naluri pilih bulu dan suku diberantas. Nurani tumpul majal diasah ramah pasrah.

Panik itu wajar. Hanya saja, jangan terus saling mempersalahkan, saling menghujat, saling menjauhi. Jauh fisik, harus. Jasuh psikis, jangan. Kita nanti jadi Robinson Crusou, tokoh novel Daniel Defoe yang terdampar sendirian di sebuah pulau selama 36 tahun. Wabah ini kita petik manfaatnya. Nafsu kita dijinakkan. Nalar kita dijernihkan. Naluri kita dihaluskan. Nurani kita dimurnikan. Kita jadikan diri kembali seimbang. Empat unsur dalam diri kita ini, Nafsu-Nalar-Naluri-Nurani ibarat satu keutuhan dalam satu kwadran, lingkaran utuh dibagi empat bahagian, ruangnya seimbang, jangan salah satu ruang yang kelewat besar, nanti mempersempit ruang yang lain.

Panik jangan berlebihan. Jarak sosial, boleh. Jarak spiritual, jangan. Saling mendoakan, tetap. Dia Yang di atas itu tetap membelai kita satu per satu. Virus mematikan? Badan, yah. Roh, tidak. Wabah ini lebih mempererat kita satu sama lain. Nafsu kumpul harta yang wajar, mengapa tidak?

Tetap dipacu, kumpul dan kumpul. Asal tidak merugikan sesama, dan dibaktikan untuk sesama. Orang kaya yah boleh kaya dan terus kaya, selama nafsu mengumpul harta itu masih menggebu-gebu. Asal ingat, nafsu itu ada batasnya. Wabah ini mengingatkan kita akan keterbatasan itu. Nalar tetap diasah untuk temukan berbagai rumus dan berbagai perangkat super canggih untuk mempermudah hidup manusia. Asal nalar jangan disalah-gunakan untuk memusnahkan sesama. Senjata super canggih itu hasil nalar.

Hanya wabah ini mengingatkan kita bahwa nalar bakal buntu kalau tidak diarahkan ke arah utuhnya pribadi manusia. Naluri mendorong kita untuk ada bersama sesama yang ada hak untuk ada, berada dan mengada. Naluri tidak boleh diarahkan untuk menghidupkan yang saya suka dan mematikan yang saya benci.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved