Salam Pos Kupang

Belajar dari Sikka

PANDEMI Corona mengubah dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat kita

Belajar dari Sikka
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PANDEMI Corona mengubah dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat kita. Mungkin juga mengajak kita kembali merenung, berpikir dengan jernih tentang diri sendiri dan mereka yang ada di sekitar kita.

Lihatlah, bagaimana kita berperilaku amat jadi pembersih. Dikit-dikit cuci tangan dengan sabun, handsanitizer, ke mana-mana kenakan masker. Bahkan ada yang langsung mencuci pakaian dan mandi setelah keluar rumah, hingga penyemprotan disinfektan.

Lihat juga bagaimana sisi kemanusiaan kita berontak melihat mereka yang terdampak Covid-19. Bantuan mengalir deras untuk kaum papa, kelompok rentan miskin, hingga penggalangan donasi guna keperluan tim medis dalam menghadapi Virus Corona.

Work From Home

Tapi, ada yang terlupa, siapa? Mereka adalah para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar, mencerdaskan anak-anak bangsa, termasuk di pedesaan dan perbatasan.

Saat guru-guru yang lain tinggal pencet keypad handphone android, membentuk Grup WhattApp, kemudian berkomunikasi daring dengan orangtua dan siswa, sebagian guru lain justru tunaikan tugas by door to door.

Aparat Polda NTT Operasi Masker di Kota Kupang

Mereka mengetuk pintu satu-satu, datang menjemput bola, tak peduli berapa jauh berjalan, telaten memberi bahan ajar, karena tidak ingin anak didik tertinggal di saat pelajar lainnya begitu nyaman dengan kebijakan Belajar dari Rumah.

Hal itulah yang dilakukan Guru SDN Riit, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, seperti yang diungkap Kepala SDN Riit, Fransiskus Dominikus. "Banyak orangtua murid belum punya HP android. Guru-guru saja belum semuanya punya. Apalagi mengoperasikannya. Kami pilih kunjungan ke rumah murid," kata Dominikus.

Mudah? tidak. Dominikus dan guru lainnya tinggal di gunung dengan topografi amat berat. Setiap hari guru datang ke rumah siswa, bolak-balik memberi pelajaran, tugas, dan mengambil kembali tugas yang diberikan. Itu belum termasuk, saat guru datang, siswa tidak ada di rumah.

Dominikus tidak sendirian. Ada Yan Budi Nugroho, guru honorer SDN Tridadi, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ia mendatangi setiap rumah siswanya sejak ada kebijakan pemerintah belajar dari rumah terkait Pandemi Covid-19.

Meskipun sudah menerapkan sistem pembelajaran daring, namun sejumlah kendala memaksa Budi memutuskan tetap melakukan pembelajaran tatap muka. Sebab tak semua siswanya punya HP android. Kadang mereka pinjam ke tetangga, sehingga siswa telat membaca tugas-tugas yang diberikan.

Dominikus dan Yan Budi hanya dua tamsil betapa tulusnya sebuah pengabdian. Ibarat fenomena gunung es, masih banyak guru lain yang juga tetap berjuang menunaikan kewajiban di tengah segala keterbatasan.

Keduanya mengajarkan banyak hal. Tanpa mereka, anak-anak kita hanya akan menjadi generasi tak terdidik minim ilmu. Tanpa mereka, anak-anak desa dan perbatasan, hanya akan jadi insan tanpa masa depan, yang bermimpi sekolah tinggi pun tak berani.

Dengan pengabdian mereka, apakah kita masih buta dan tuli mata hati, hingga sekadar memberi pun tak terperi. Sudah sejatinya, pemerintah punya atensi serius mengentas tak meratanya pendidikan di daerah. Minimal jerih payah para guru diganjar setimpal dengan penghargaan pantas dan semestinya. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved