Breaking News
Minggu, 19 April 2026

Skenario Belajar dari Rumah hingga Akhir Tahun

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) telah mempersiapkan skenario Belajar dari Rumah (BDR) hingga akhir tahun ini

Editor: Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) telah mempersiapkan skenario Belajar dari Rumah (BDR) hingga akhir tahun ini. Skenario tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan pandemi Corona di Indonesia berlangsung hingga akhir 2020.

"Kami telah siapkan skenario jika Covid-19 sampai akhir tahun, maka semua siswa Belajar dari Rumah selama satu semester penuh," ujar Plt. Dirjen PAUD Dikdasdikmen Hamid Muhammad saat dihubungi, Sabtu (25/4/2020).

Bripda Nindy Peduli Korban Covid-19

Hamid mengatakan, pelaksanaan Belajar dari Rumah akan terus berlangsung sampai Pemerintah mencabut keadaan darurat Covid-19. Terdapat skenario lain pelaksanaan Belajar dari Rumah di tanah air selain hingga akhir tahun.

"Skenario pertama, jika Covid-19 berakhir akhir Juni, maka siswa masuk sekolah tahun pelajaran baru minggu ketiga Juli," ucap Hamid.

Sementara skenario kedua adalah jika Covid-19 berlangsung sampai September, siswa Belajar dari Rumah sampai September dan selebihnya masuk sekolah.

Hamid mengatakan, pihaknya terus melihat perkembangan pandemi corona di Indonesia, sebelum memutuskan membuka kembali sistem sekolah langsung.

Yasamin Jasem: Jago Silat

Saat ini sekolah yang menerapkan pembelajaran dari rumah sekitar 97,6 persen. Sementara sisanya tidak melaksanakan Belajar Di Rumah karena tidak memiliki perangkat pendukung.

"Di daerah khusus pedalaman, bukan daerah terjangkit Covid-19. Jadi kecil 2,4 persen itu. Ada yang online ada yang offline," pungkas Hamid.

Perlu Evaluasi

Legislator Golkar Hetifah Sjaifudian menilai skenario tersebut sudah bagus demi mengantisipasi Covid-19 yang tidak tahu kapan berakhir.

"Kalau menurut saya baiknya kita antisipasi saja. Sudah bagus Kemendikbud menyiapkan beberapa skenario, karena memang tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir atau puncaknya Covid-19 ini," ujar Hetifah, Sabtu (25/4/2020).

Anggota Komisi X DPR RI tersebut mengatakan, apabila hingga akhir tahun wabah belum usai, tentu tidak mungkin untuk memaksakan anak-anak untuk kembali pada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun jika pandemi Covid-19 sudah selesai, alangkah baiknya pihak-pihak terkait sudah mempersiapkan materi bagi siswa.

Di sisi lain, Hetifah menyebutkan, akan lebih baik pengambilan kebijakan Kemendikbud ke depannya didasari oleh hasil evaluasi dari proses Belajar Di Rumah selama beberapa bulan terakhir.

"Saya sebenarnya ingin dengar dari Pak Hamid (Dirjen PAUD Dikdasdikmen Hamid Muhammad, -red) dalam beberapa bulan ini evaluasi pembelajaran di rumah itu bagaimana, supaya kita mengambil keputusan dengan tepat," kata dia.

"Misal kita perlu fasilitasi apa sih? Kan ada yang daerah pedalaman tidak terlalu dampak Covid-19, tapi dia nggak bisa akses internet atau bahkan tidak bisa mengakses TVRI. Nah terus mereka bagaimana nih? Itu yang belum kita dapat ya, semacam sensus," imbuhnya.

Hetifah menegaskan mendukung skenario jangka panjang, sehingga nantinya bisa mempersiapkan lebih dini untuk segala kemungkinan.

"Intinya sih oke.kita senang kalau ada pemikiran yang lebih jangka panjang. Tapi kalau bisa, coba dievaluasi juga terkait situasi sekarang seperti apa. Karena sepertinya masih banyak kekurangan juga yang harus diperbaiki, harus ditambal," tandasnya.

Google Bantu 700 Juta Siwa

Google meluncurkan situs " Mengajar dari Rumah " versi bahasa Indonesia, untuk membantu para pengajar dan siswa melakukan pembelajaran jarak jauh selama wabah Covid-19.

Inisiatif tersebut dikembangkan oleh Google for Education, yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud).

Staf Khusus Kemendikbud Bidang Pembelajaran, Iwan Syahril mengatakan, dengan adanya inisiatif ini diharapkan ekosistem pendidikan Indonesia semakin terpacu dalam menggunakan teknologi dalam belajar.

"Para pengajar dan siswa bisa mengakses materi pelajarannya di g.co/mengajardarirumah serta situs Bersama Hadapi Korona milik Kemendikbud," ucap Iwan dalam keterangannya, Kamis (16/4/2020).

Sementara itu menurut Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, lebih dari 700 juta siswa yang tidak bisa pergi ke sekolah, termasuk 62 juta siswa yang terkena dampak Covid-19 di Indonesia.

"Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap keluarga, sekolah, dan para guru yang selama ini berjasa besar dalam menumbuhkan minat anak untuk belajar," ucap Randy.

Ia menambahkan, pihaknya ingin membantu dalam cara apapaun yang bisa dilakukan, agar para siswa dan pengajar dapat melakukan pembelajaran dari rumah. "Bersama dengan REFO Indonesia, komunitas Google Grup Pengajar, dan Kemendikbud juga telah meluncurkan webinar, untuk membantu pengajar dan orang tua dalam strategi pembelajaran jarak jauh menggunakan solusi G Suite for Education," ujar Randy.

Anak Stres

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengungkapkan banyak anak-anak yang mengalami stres setelah menjalani pembelajaran oleh orang tua di rumah. Selama pandemi corona, sekolah di tanah air menerapkan kebijakan belajar dari rumah (BDR).

"Banyak anak anak yang mengalami stres, tertekan. Salah satunya adalah kadang di dalam cara orang tua menghadapi putra putri tercinta para orang tua sekarang harus menjadi guru tiba-tiba di dalam rumah," ujar Seto di Kantor BNPB, Sabtu (25/4/2020).

Menurut Seto, para anak-anak tertekan karena cara orang tua yang melakukan pemaksaan dalam memberikan pembelajaran agar anaknya mengerti.

"Dan kemudian mencoba untuk menjelaskan, menerangkan, kadang kadang memaksa hal ini dicapai oleh putra putri sendiri sehingga akhirnya yang muncul adalah anak-anak tertekan," ucap Seto.

Seto mengatakan, beberapa anak menginginkan kembali diajar oleh guru-guru mereka. Cara pengajaran para guru yang lebih persuasif dan kreatif membuat anak-anak nyaman untuk diajar.

"Beberapa rindu kembali ke sekolah, bertemu dengan ibu guru atau bapak guru yang menjelaskannya lebih nyaman, lebih tenang, lebih kreatif dan sebagainya," pungkas Seto.

Saat ini sekolah yang menerapkan pembelajaran dari rumah sekitar 97,6 persen.
Sementara sisanya tidak melaksanakan BDR karena tidak memiliki perangkat pendukung. Sekitar 2,4 persen yang tidak melaksanakan belajar dari rumah adalah sekolah yang berada di daerah khusus pedalaman, bukan daerah terjangkit Covid-19. (fahdi/hari/vincentius/tribunnetwork/cep)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved