Breaking News

Rindu Anak  Murid, Guru di NTT BikinPuisi

Grup Facebook, Warta Guru NTT digagas Ketua Asosiasi Guru Penulis (Agupena) Cabang Flores Timur, Maksimus Masan Kian, dibanjiri

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Ferry Ndoen
foto/maksimus  masan  kian
Siswa SMPN Lewolema, Kabupaten  Flores  Timur,  belajar di rumah. 

POS-KUPANG.COM,LARANTUKA---- Grup Facebook, Warta    Guru   NTT digagas  Ketua Asosiasi Guru Penulis (Agupena) Cabang Flores Timur, Maksimus Masan Kian,  dibanjiri  berbagai  keluh kesah  guru  tentang belajar di  rumah.

Berbagai  kesuitan  belajar online   selama  masa mencegah penularan  virus  corona berlaku sejak Maret  2020 mendatangkan  beragam  keluh kesah.  Lama   tak jumpa  anak asuhnya, para guru mengaku  rindu  ingin  jumpa.  Ingin mendengar tawaria anak didik, hingga  comel dan  marah.

“Pada Grup Facebook Warta Guru NTT. Bunyi tulisan demikian "Buat Guru NTT yang Rindu pada Anak Muridnya, silahkan tinggalkan   satu puisi dengan tema "Rindu" di kolom komentar.   #1000 puisi untuk Anak NTT di tengah Covid-19," kata  Maksimus, kepada  POS-KUPANG.COM, Minggu   (19/4/2020).

Ajakan  menulis puisi  diluncurkan  yang  Kamis (16/4/20/20), diakui  Maksimus disambut antusias guru guru se-NTT.   Sampai Jumat malam (17/4/20)  telah  dihimpun diatas 200 puisi.

“Kalau target 1.000 puisi tercapai, karya  para guru  ini akan dibukukan dalam bentuk antalogi puisi   yang akan  menjadi bahan bacaan untuk anak- anak di rumah sebagai bagaian dari hiburan selain proses pembelajaran,” kata Maksimus.

Maksimus  mengatakan, menghasilkan satu gagasan baru, mengargumentasikan, membangun pemahaman dan mengajak bersama untuk melaksanakan  merupakan  hobinya.

Pada   saat wabah Virus Corona, dan kita dihimbau untuk tetap di rumah,  fisik boleh di rumah  tetapi otak harus terus keliling dunia. Ada beberapa aktivitas bernuansa literasi yang   bisa dijalankan di tengah liburan ini  membuka kelas belajar online melalui Grup WhatsApp, terlibat diskusi online tema pendidikan menggunakan aplikasi zoom, satu hari baca satu buku, mengagas  pembentukan grup diskusi guru kampung untuk saling sharing proses pembelajaran, praktik  dan masalah yang dialami di lapangan dalam pembelajaran dari rumah.

“ Saat ini saya mengajak rekan -rekan guru boleh menghasilkan satu karya puisi dengan tema "Rindu" untuk anak -anak NTT," kata Maksimus.

Kondisi   saat ini, kata guru  SMPN 1 Lewolema, siswa maupun guru saling merindukan. Belum ada satu lembagapun merilis perkembangan proses belajar dari rumah baik tingkat sekolah maupun lembaga terkait.

"Saat ini, belum ada satupun lembaga pada bidang pendidikan di NTT merilis perkembangan proses pembelajaran dari rumah. Apakah berjalan efektif, siswa mampu mengerjakan soal dengan baik, orang tua mendampingi, guru bisa mengontrol, siswa disiplin mengerjakan tugas, persentasi keterlibatan siswa pada kelas belajar online dan atau hasil yang diperoleh?. Perkembangan ini belum diketahui," kata Maksimus.

Menurut Maksimus, mesti ada rilis data terkait proses perkembangan pembelajaran  online, pemetaan perkembangan dan dapat diketahui kendala pembelajaran.

“Walau belum represtarif, diskusi kami di Grup WhatsApp yang melibatkan guru guru se-NTT, sebagian guru mengalami kesulitas untuk menghidupkan kelas belajar  online karena keterbatasan fasilitas digital, ketiadaan jaringan internet juga belum dijangkaunga  PLN. Cara mengajak guru menuangkan rasa dalam puisi adalah juga menjadi bagian dari menggali proses pembelajaran antara guru dan siswa secara online," kata Maksimus. (laporan wartawan  POS-KUPANG.COM,  eginius   mo’a).

 
 

Siswa SMPN Lewolema, Kabupaten  Flores  Timur,  belajar di rumah.
Siswa SMPN Lewolema, Kabupaten  Flores  Timur,  belajar di rumah. (foto/maksimus  masan  kian)
Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved