Virus corona

Belum Sempat Berakhir China Harus Hadapi Gelombang Kedua Virus Corona, Temukan108 Kasus Baru

Kabar buruk, belum sempat berakhir China harus menghadapi kasus baru virus corona. Sudah 108 kasus baru loh ditemukan di negeri tirai bambu. Waspada!

Editor: Adiana Ahmad
Kolase/pixabay/getty images
China hadapi gelombang kedua virus corona 
 

//

Belum Sempat Berakhir, China Harus Hadapi Gelombang Kedua Virus Corona, Temukan 108 Kasus Baru
POS-KUPANG.COM- Belum sempat berakhir, China dikabarkan harus menghadapi gelombang kedua virus corona.
Ada 108 kasus baru virus corona ditemukan di negeri tirai bambu itu.
Gelombang kedua serangan virus corona di negara itu diprediksi akan jauh lebih besar.
Dengan munculnya kasus baru itu, maka semua negara saat kembali waspada. 

Indonesia sendiri saat ini disebut belum memasuki masa puncak virus corona. 

Sementara di beberapa negara, jumlah kasus mulai menurun. 

VIDEO - Musrenbang RKPD Ngada Via Streaming Youtube, Terapkan Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Namun belum juga berakhir, beberapa ahli mengungkapkan Indonesia harus bersiap dengan gelombang kedua virus corona.

Jika berkaca dari China, negara pertama yang melaporkan adanya kasus virus corona, China sudah sempat melonggarkan aturan karena kasus sudah menurun.


Namun, ketika larangan bepergian dicabut, China daratan telah merasakan peningkatan kasus Covid-19 terbaru.

Dilansir dari Worldofbuzz dari Reuters pada (13/4/2020), sebagian besar kasus baru ini adalah pasien baru yang pulang dari negara lain.

Seorang ahli juga mengingatkan Indonesia soal adanya beberapa gelombang virus corona yang ada di Indonesia.

Salah satu peneiliti yang mengungkapkan hal itu adalah Epidemiolog Indonesia kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman.

Ini penjelasan lengkap adanya gelombang kedua dari virus corona ini.

Benarkah Golongan Darah A Lebih Rentan Terjangkit Virus Corona? Ini Kata Ahli Respirologi

1. Apa Itu Gelombang Kedua?

Penampangan pegunungan Huashan yang diserbu puluhan ribu wisatawan lokal setelah lockdown dilonggarkan pada (5/4/2020).

Menurut Dicky, pandemi Covid-19 berpotensi memiliki beberapa gelombang serangan wabah, termasuk di Indonesia.

Dicky mengatakan, gelombang kedua virus corona adalah bila suatu wilayah telah mencapai puncak terkena virus corona, kemudian terjadi penurunan, setelah fase penurunan jumlah kasus tersebut terjadi lonjakan kasus lagi.

Adapun puncak kasus, kata Dicky, biasanya dihitung dengan attack rate di angka 3-10 persen penduduk merujuk data di Wuhan.

"Gelombang kedua biasanya menyerang hingga 90 persen penduduk yang belum terpapar tadi," kata Dicky dikutip dari Kompas.com, Rabu (15/4/2020).

Dicky mengungkapkan, gelombang kedua mempunyai masa jeda yang relatif jauh dengan puncak gelombang pertama, bisa memakan waktu sebulan atau lebih.

Komisi V DPRD NTT Rapat Bahas Penanganan Covid -19 di NTT


Seperti halnya di China, gelombang kedua terjadi karena adanya orang dari luar wilayah atau negara yang membawa virus dan menularkan kembali ke populasi yang lainnya.

"Dalam kasus China diduga pembawanya adalah penduduk China yang kembali ke negaranya," ujar Dicky.
 2. Pelacakan Kasus Kontak
Penerapan social distancing di area bandara El Tari, Kamis (19/3/2020)
Penerapan social distancing di area bandara El Tari, Kamis (19/3/2020) (POS KUPANG.COM/INTAN NUKA)

 Social distancing adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus corona, menurut para ahli.

Sedangkan untuk di Indonesia, ia menyarankan untuk fokus pada kondisi saat ini dengan intensifikasi dan ekstensifikasi test, pelacakan kasus kontak, perawatan dan isolasi.

Dalam proyeksinya, puncak kurva di Indonesia akan terjadi di awal Mei, dengan asumsi intervensi yang masih sama dengan saat ini.

34 Mahasiswa Bethel Positif Corona, 180 Mahasiswa Jalani Isoalasi, Simak Beritanya

"Awal atau akhir setiap gelombang tak bisa diprediksi tepat namun dapat diperkirakan, walau kadang sedikit tricky.

Misalnya DKI melakukan PSBB ketat selama sebulan, dan terjadi penurunan angka kasus baru, dan memutuskan untk membuka atau meniadakan PSBB, pada kondisi tersebut bisa saja disebut gelombang pertama," kata Dicky.
3. Potensi Gelombang Kedua

Perjuangan pasien sembuh virus corona namun sempat dikabarkan meninggal dunia

Menurut Dicky, selama solusi belum ada yaitu obat dan vaksin atau herd imunity terjadi, maka setiap wilayah akan berpotensi mengalami gelombang kedua atau ketiga.

Hal ini, imbuh Dicky, sama halnya seperti perjalanan panjang manusia saat pandemi flu pada 1918-1920.

Dicky mengungkapkan, pandemi Covid-19 ini harus dipahami secara utuh.

"Saya melihat pemerintah pusat atau daerah belum memahami ini.


Terlihat dari pendekatan strategi masih belum menyentuh strategi utama pandemi yaitu tes trace treat dan isolate.

Plus upaya pencegahan seperti pembatasan sosial dan fisik yang di dalamnya masuk PSBB, cuci tangan dan bermasker," papar Dicky.
Gelombang Kedua Akan Lebih Besar?
Ilustrasi virus corona, Covid-19 di Indonesia
Ilustrasi virus corona, Covid-19 di Indonesia ((Shutterstock))


Ilustrasi virus Corona menyerang Indonesia

Ketika disinggung apakah jumlah kasus di gelombang kedua akan lebih tinggi dari gelombang pertama, ia tak bisa menjawabnya.

Hal itu lantaran selama pemerintah belum mengetahui berapa sebetulnya jumlah penduduk yang telah terinfeksi Covid-19.


Adapun solusinya dapat dengan cara meningkatkan tes secara masal dan agresif sehingga bisa diperkirakan jumlah yang positif.

"Namun akan lebih tepat dan ideal bila melakukan juga survei serologi agar analisa yang didapat relatif lebih bisa dipercaya untuk menggambarkan berapa jumlah penduduk yang masih rawan," kata Dicky.

Menurutnya, semakin besar jumlah penduduk yang belum terinfeksi maka logikanya potensi penduduk yang akan terinfeksi dalam gelombang berikutnya akan semakin besar.
China Mendekati Akhir Tapi Masuk Tahap Baru

Tangkapan layar video bernarasikan ketibaan tim medis asal China di Indonesia yang beredar di media sosial.

Dilansir dari Worldofbuzz pada Senin (6/4/2020) lalu, salah satu pakar kesehatan dari China sebut virus corona masih mengintai negara itu.

Dalam waktu seperti ini ia bahkan menyebutkan bahwa babak baru virus corona sedang berlangsung di luar negeri.


Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, bahkan mengatakan bahwa negara itu masih belum melihat kahir dari pandemi ini.

“China tidak mendekati akhir tetapi telah memasuki tahap baru."

"Dengan meluasnya epidemi (secara) global, China belum mencapai akhir dari virus corona.” (TribunMataram.com/ Asytari Fauziah) (Kompas.com/ Dandy Bayu Bramasta)
//

// //

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved