Minggu, 26 April 2026

Renungan Kristen Katolik, Hari Jumat Agung, Misericordiae Domini : Belas Kasihan Ilahi

Yesus Wafat. Ia mengampuni dan menebus dosa umat manusia. Ia hadirkan belaskasih dan pengampunan Allah bagi dunia.

Editor: Rosalina Woso
DOK Pribadi
Romo Maxi Un Bria-1 

Renungan Kristen Katolik,  Hari Jumat Agung, Misericordiae Domini  : Belas Kasihan Ilahi

Jumat 10 April 2020

Oleh RD. Maxi Un Bria

Yes. 52:13-53:12;Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25;Ibr. 4:14-16; 5:7-9;

Yoh. 18:1-19:42 warna liturgi Merah

Misericordiae Domini : Belas Kasihan  Ilahi

 Lihatlah  di atas kayu salib. Yesus Wafat. Ia mengampuni dan menebus  dosa umat manusia. Ia hadirkan belaskasih dan pengampunan Allah bagi dunia.

Narasi dan dramatisasi Pengadilan dan Penyaliban Yesus  disaksikan para murid terdekat dan  khalayak.  Yesus tahu bahwa Ia akan menjalani semuanya untuk menebus dosa umat manusia. Itulah sebabnya terhadap  semua pertanyaan  Pilatus  saat pengadilan berlangsung, Yesus  menjawab dengan lugas,  tegas dan jujur.  Yesus meberikan kesaksian yang jujur  sebagai Putera Allah.

“  Engkau mengatakan bahwa Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran .” ( Yoh 18 :37 ) Yesus adalah jalan kebenaran dan kebenaran itu sendiri. Kebenaran telah memberanikan-NYA memberikan kesaksian tentang Allah dan keselamatan.

Kesaksian tentang Kebenaran inilah  juga memerdekan dan membebaskan-NYA dari kematian menuju kebangkitan yang mulia.

Yesus berani mengatakan secara  jujur dan benar, sekalipun disiksa , dihujat, dan menerima berbagai cambukan.  Ia menjalani pengadilan dan hukuman sampai selesai, sebagai bukti  kesetiaan-Nya kepada Bapa dan  dan cinta serta pengorbanan bagi umat manusia.

Keberanian dan kejujuran Yesus dalam mengatakan kebenaran, bertolak belakang dengan  sikap Rasul Petrus yang selama periode  dan proses  pengadilan terhadap Yesus justeru  memperlihatkan sikap menyangkal atau mengatakan yang tidak jujur  kepada publik bahwa ia bukan murid Yesus. 

Sikap penyangkalan Petrus terhadap Yesus menunjukkan  kelemahan dan kekuatiran manusia umumnya saat  menghadapi ancaman atas hidup. Manusia cenderung menjadi tidak jujur - berbohong terhadap diri sendiri , sesama dan Tuhan dalam situasi yang terjepit dan berbahaya . Kelak memang penyesalan akan datang, tetapi selalu terlambat.

Kesetiaan Yesus menjalani Jalan salib sebagai bukti ketaatan kepada Bapa dan cinta-NYA  terhadap manusia,  meneguhkan hati kita semua bahwa Yesus sungguh-sungguh   mencintai hidup dan masa depan kita. Karena itu, kita semestinya meresponsnya dengan  sikap refleksi yang berguna untuk  pembaharuan diri  yang revolusioner.

Ketaatan  dan totalitas pengorbanan diri  adalah bukti cinta yang sejati dalam merawat dan menghidupi  setiap panggilan, tugas dan amanah yang dijalani dalam ziarah  hidup ini.  Apapun yang kita jalani dan hidupi  hari ini dan di masa depan merupakan  peluang untuk  mengejawantahkan cinta, kebenaran, keadilan, kejujuran dan damai sejahtera bagi banyak orang sampai pada waktunya kita juga boleh berseru ; Consummatum Est ;  Sudah Selesai  ! “

Doa : Yesus Yang  Maha Rahim, ampunilah dosa-dosa kami dan rahmati kami agar sanggup pula  mengampunii sesama yang bersalah terhadap kami, amin.(*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved