Ancaman Sampah Plastik Terhadap Lingkungan di Kota Lewoleba
Dirinya juga mengapresiasi langkah Pemda Lembata yang sudah menyediakan tempat-tempat sampah di titik strategis di Kota Lewoleba.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso

Ancaman Sampah Plastik Terhadap Lingkungan di Kota Lewoleba
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Warga Kabupaten Lembata khususnya di Kota Lewoleba masih belum sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Masih banyak sampah plastik berserakan di Kota Lewoleba. Kota Lewoleba merupakan salah kota yang memproduksi sampah plastik terbanyak setiap hari.
Mirisnya, sampah yang tidak terurai ini juga mengotori pesisir pantai Lewoleba.
Ketua Trash Hero Chapter Lembata, Theresia Wilybrorda menyebutkan warga seharusnya tidak menggunakan plastik sekali pakai lagi. Selain tidak terurai di tanah, sampah plastik juga sangat berpotensi mencemari laut.
"Sampahmu tanggungjawabmu jadi pilah sampahmu berdasarkan jenisnya, sehingga kurangi timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir, (TPA)" ujar pemerhati lingkungan yang akrab disapa Wilda ini, Senin (30/3/2020).
Menurut dia, kalau plastik sekali pakai masih digunakan di tempat-tempat publik dan event-event yang melibatkan banyak orang maka warga hanya memindahkan masalah dari lokasi kegiatan ke TPA.
"Campur makanan sisa atau sampah organik ke dalam kresek plastik lalu taruh di tong sampah? merasa beres? masalah selesai? Oh tidak, justru masalah baru saja dimulai. Coba hitung berapa lapak kuliner yang ada," paparnya merujuk pada acara-acara di Lembata yang seringkali memproduksi banyak sampah plastik.
"Berapa banyak pengunjung yang datang? Bagaimana tingkat konsumsinya? kalikan dengan berapa hari event, saya tidak pandai berhitung, tapi kalau dalam setahun ada 5 kali event besar untuk kota Lewoleba saja, maka TPA bakal cepat penuh," urai Wilda.
Lebih lanjut, Wilda memaparkan sesuai data Kementerian Lingkungan Hidup 42% sampah yang dikirim ke TPA adalah sisa makanan, sedangkan 16% adalah daun dan ranting.
Sisa makanan atau sampah organik yang dicampur dengan sampah anorganik atau plastik bisa memicu beberapa hal, urai Wilda, seperti sumber penyakit karena bau busuk, pencemaran udara dan lingkungan. Lebih parah, tumpukan sampah yang tidak terpilah ini juga bisa menyebabkan kebakaran dan bahkan ledakan di TPA.
"Lalu apa yg harus kita lakukan? Pilah sampah. konkretnya sampah sisa makanan masuk tong sendiri. lalu di kemanakan? Ya yang punya lapak kuliner bisa jual ke orang yang butuh untuk pakan ternak. Sampah anorganik atau plastik bisa dikasih ke tukang daur ulang atau kalau sama sekali kotor dan tidak lagi layak yah masuk TPA. Simple kalau semua kita, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat mau bekerjasama," kata Wilda.
Dirinya juga mengapresiasi langkah Pemda Lembata yang sudah menyediakan tempat-tempat sampah di titik strategis di Kota Lewoleba.
Namun menurutnya adalah lebih baik pemerintah juga harus bisa enyelenggarakan event minim produksi sampah seperti yang sudah dilakukan Pemkab Flores Timur.
Pihak Trash Hero Chapter Lembata juga selalu siap berkolaborasi dengan Pemkab Lembata dalam rangka mengedukasi dan meminimalisasi produksi sampah di Lembata.
• Hadapi Kebijakan Relaksasi, Bank NTT Perlu Siapkan Langkah Antisipatif Khusus
• Update Corona NTT : ODP di NTT 558 Orang, Kota Kupang Terbanyak Menyusul Sikka dan Mabar, Yuk Simak!
"Kenapa kita tidak bisa? Kasihan ASN Dinas Lingkungan Hidup yang harus datang bersihkan setiap pagi," pungkas Wilda.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)