Sidang Korupsi Kredit Fiktif Bank NTT : Soal "Bablas" Uang 12,6 M, Staf Bank NTT Saling Tuding

Sidang Korupsi Kredit Fiktif Bank NTT : Soal "Bablas" Uang 12,6 M, Staf Bank NTT Saling Tuding

Sidang Korupsi Kredit Fiktif Bank NTT : Soal
POS KUPANG.COM/RYAN NONG
Sidang perkara Korupsi Kredit Fiktif Bank NTT KCU Kota Kupang untuk terdakwa Bonefasius Ola Masan, Yohana Marselina Bailao dan Johan Tamalanrea Nggebu yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Kupang pada Senin (23/3/2020). 

Sidang Korupsi Kredit Fiktif Bank NTT : Soal "Bablas" Uang 12,6 M, Staf Bank NTT Saling Tuding

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Dua staf Bank NTT KCU Kota Kupang saling tuding ketika memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan perkara korupsi penyaluran kredit fiktif pada Bank NTT KCU Kota Kupang. 

Dalam sidang untuk terdakwa Bonefasius Ola Masan, Yohana Marselina Bailao dan Johan Tamalanrea Nggebu yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Kupang pada Senin (23/3/2020), jaksa penuntut menghadirkan lima saksi dari Bank NTT

Saksi tersebut terdiri dari Officer Administrasi dan Keuangan Herjuno RS Oematan, Account Officer (AO) Gerald Boby Rohi, Administrator Kredit Lorits VR Male, serta Kasir Maria Da Costa dan Ni Nengah D.A. Kesumastiti. 

Ketua majelis hakim Dju Johnson Mira Manggi yang didampingi oleh anggota Ari Prabowo dan Ali Muhtarom dalam sidang mempertanyakan "bablasnya" uang senilai Rp 12,6 M yang menjadi jaminan dalam pekerjaan proyek pembangunan Kawasan Pameran NTT Fair pada tahun 2018. 

"Kalau kredit macet itu perdata, tapi yang dicari ini perbuatan melawan hukum dari peristiwa ini. Kenapa blokir ini bisa terbuka, karena disposisi hanya Rp 2,9 m dan sisanya diblokir, tetapi ini kok bablas sampai Rp 12,6 miliar," tanya hakim ketua kepada saksi. 

Saat itu, saksi Officer Administrasi dan Keuangan Herjuno RS Oematan dan saksi Ni Nengah yang disandingkan bersama di depan hakim saling menuding. Oematan mengatakan bahwa saat itu teller sudah mengisi angka Rp 12 m dan sudah dikonfirmasi. Ia juga mengatakan bahwa karena angkanya tersebut berada di atas Rp 10 M maka diotorisasi. 

Sementara itu, Ni Nengah mengatakan bahwa dalam proses pencairan dana tersebut saksi Harjuno Oematanlah yang memberikan izin. Ia mengaku, otorisasi juga dilakukan oleh Oematan. 

"Pak Juno bilang sudah ke Ibu Maria Da Costa. Waktu itu otorisasinya Harjuno. Ibu Maria suruh ke Harjuno," ujarnya Ni Nengah ketika ditanya hakim. 

Bablasnya uang senilai Rp 12,6 miliar tersebut terjadi secara bertahap. Saat itu, dilakukan pemindahan dari rekening giro PT Cipta Eka Puri dengan spesimen tanda tangan Hadmen ke rekening PT Cipta Eka Puri dengan spesimen tanda tangan Linda Liudianto.

Selanjutnya, dari rekening PT Cipta Eka Puri tersebut kemudian dialihkan ke rekening pribadi milik Linda Liudianto. Saat itu, disposisi terhadap pencairan tersebut hanya senilai Rp 2,9 miliar. 

Terhadap fakta persidangan tersebut, penasehat hukum Johan T Nggebu, Bildad Thonak SH mengatakan apa yang disampaikan oleh saksi mengkonfirmasi bahwa terkait buka tutup blokir uang Rp 12 miliar yang masuk ke rekening Hadmen Puri (PT Cipta Eka Puri) ke rekening Linda Liudianto  harusnya yang bertanggung jawab itu Harjuno Oematan dan Maria Da Costa.

"Kenapa begitu, ya karena pada saat pembukaan blokir rekening dan pemindahan dana tersebut berada dibawah otoritas mereka bukan dibawa otoritas klien kami," ujar Bildad. 

UPDATE Sebaran Virus Corona di Seluruh Dunia, Melesat Tajam Dalam 24 Jam di 194 Negara, Indonesia?

Narapidana Terorisme Asal Magelang di Lapas Ende NTT Bebas

Jangan Berada Dalam Rumah Saat Jam Segini ! Berjemurlah,Tubuh Butuh Vitamin D3 untuk Mencegah Virus

Dalam sidang tersebut hadir penuntut umum Hendrik Tip dan Hari Franklin. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved