Opini Pos Kupang

Pandemi Corona: Ajakan Hidup Sehat dan Bertobat

Mari membaca dan simak Opini Pos Kupang: pandemi Corona: ajakan Hidup sehat dan bertobat

Pandemi Corona: Ajakan Hidup Sehat dan Bertobat
Dok
Logo Pos Kupang

Italia sedih, Italia berkabung. Semua kota sepi, seperti kota mati tak berpenghuni karena zona merah, terisolasi virus Corona. Corona virus memporakporandakan perasaan kami, melumpuhkan semua kegiatan Iman kami, perekonomian umat, perziarahan batin umat Tuhan dan semuanya serta segalanya. Orang mati tidak bisa dilayani untuk terakhir kalinya, perminyakan orang sakit tak bisa diamalkan, Misa dan perayaan Sakramen sakramentalia suci lainnya ditiadakan.

Ditambah lagi, salaman tidak boleh untuk dilakukan. Saling tegur sapa harus berjarak satu meter antara satu dengan yang lain. Jarak jalan harus diatur. Jarak duduk pun perlu diperhatikan. Semua kaku. Semua tidak berdaya. Entah sampai kapan ini semua berakhir?. Semua sekolah, dari TK sampai Universitas ditutup.

Pusat-pusat budaya, museum dan situs pariwisata dikunci bagi para pengunjung. Kami semua tinggal di dalam rumah dan memandang kota dalam keheningan, sendiri dan sedih, merana".

Pandemi memang bukan hanya terjadi kali ini saja, melainkan sudah beberapa kali terjadi di dunia. Sejarah kelam pandemi flu terjadi pada 1918, yakni saat terjadi pandemi flu spanyol. Sekitar 500 juta orang atau sekitar 27 persen populasi dunia terinfeksi, dengan angka kematian diperkirakan antara 40 juta hingga 50 juta kasus.

Pandemi terakhir yang pernah terjadi adalah pandemi H1N1 pada 2009, kala itu masih disebut flu babi meski penamaan tersebut banyak dikritik. Flu ini diyakini telah menginfeksi 700 juta hingga 1,4 miliar manusia atau 11-21 persen populasi dunia.

Perbedaan pandemi yang terjadi saat ini adalah adanya kemajuan teknologi dan teransportasi. Arus informasi diupdate setiap detik dan sejalan dengan itu, orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat. Dunia tanpa sekat ini membuat kepanikan yang luar biasa. Jelas ini adalah ancaman bagi kesehatan masyarakat global. Para Dokter ahli serta Ahli patolgi lainnya terus berupaya memberikan yang terbaik untuk melakukan pengobatan. Buktinya dari 125.851 mereka yang terpapar/ terinfeksi, sudah sekitar 67.003 sembuh.

Pada sisi lain para tenaga kesehatan terus melakukan tindakan promotif dan preventif. Tujuan kita adalah mencegah jangan sampai kita terpapar virus ini. Beberapa hal yang menjadi catatan antara lain; pertama, menjaga area kerja dan fasilitas bersama tetap bersih dan hygienis dengan membersihkan permukaan meja, telepon, keyboard.

Tombol lift dan alat-alat perkantoran lainnya dengan desinfektan secara berkala. Kedua, menyediakan akses sarana cuci tangan berupa air mengalir dan sabun atau hand sanitizer di tempat-tempat umum area kerja seperti pintu masuk, ruang rapat, lift, toilet dan lain-lain.

Ketiga, menyediakan tisu dan masker bagi pegawai dan tamu/pelanggan/pengunjung yang memiliki gejala batuk/pilek dan demam. Keempat, memasang pesan-pesan kesehatan di tempat-tempat strategis. Kelima, membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti; cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir secara rutin, batasi menyentuh wajah (hidung mulut dan mata) sebelum mencuci tangan, terapkan etika batuk (tutup hidung dan mulut dengan tisu atau lengan atas bagian dalam), gunakan masker jika flu atau batuk, tingkatkan daya tahan tubuh dengan konsumsi gizi seimbang, minum air yang cukup dan aktifitas fisik minimal 30 menit/hari dan jaga jarak dengan rekan kerja yang sedang demam/batuk pilek.

Keenam, hindari melakukan perjalanan ke luar negeri yang telah terjangkit covid-19. Tujuh, apabila terdapat orang yang mengalami gejala demam di atas 38 derajat C, batuk, pilek dan nyeri tenggorokan/sesak nafas agar segera menghubungi petugas kesehatan terdekat. Delapan, memperbanyak dan menyebarkan informasi pencegahan covid-19 melalui berbagai media.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved