Opini Pos Kupang

BADAI ASF PASTI BERLALU ?

Di trimester akhir 2019 lalu kita dikejutkan dengan munculnya kasus kematian akibat Demam Babi Afrika atau African Swine Fever ( ASF) di Dili

BADAI ASF PASTI BERLALU ?
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: drh. Aji Winarso, Msi, Dosen pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana, Sekretaris Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang NTT

POS-KUPANG.COM - Di trimester akhir 2019 lalu kita dikejutkan dengan munculnya kasus kematian akibat Demam Babi Afrika atau African Swine Fever ( ASF) di Dili. Kota di negara sebelah, RDTL yang jaraknya hanya sekitar 120 Km dari perbatasan di Mota'ain. Perbatasan darat pula.

Seolah bagai mimpi buruk, virus demam babi afrika itu benar-benar muncul di tanah Flobamora ini, entah dari mana awalnya bisa muncul banyak kemungkinan jika kita berandai-andai. Memang tidak semua NTT, bila kita melihat pemberitaan media, saya melihat baru Pulau Timor saja yang sudah terjangkit ASF, yaitu Kabupaten Belu, Kabupaten TTU dan Kabupaten Malaka.

Umroh dan Virus Corona

Sementara di Kabupaten Kupangdan Kota Kupang juga dilaporkan adanya kematian babi yang massif. Hasil uji labnya belum dirilis. Namun demikian, dengan adanya informasi gejala yang serupa dan status positif di Belu, TTU dan Malaka, maka sudah sepatutnya kita waspada.

Jelas sekali virus ini mudah menyebar ke seluruh penjuru dunia karena sifatnya yang sangat tahan terhadap kondisi lingkungan. Agen penyebabnya adalah virus. Bahasa mudahnya, virus itu adalah makhluk setengah hidup dan setengah mati. Dia hidup bila dia sedang di dalam sel hidup, sementara di luar sel hidup, dia kembali bertindak menjadi benda mati yang siap hidup bila bertemu sel inang. Jadi virus ini berkembang pesat ketika babi masih hidup, merajalela di tubuh babi, sehingga babi mati mendadak.

Setelahnya, meski sang babi yang terinfeksi ini mati, virus tetaplah viable, ya tadi itu, setengah mati dan mampu hidup kembali. Lalu apakah virus ini bisa "mati" sebenar-benarnya mati? Bisa, bila material dan strukturnya dirusak, misalnya dengan desinfektan atau dipanaskan.

Selalu Berganti, Bulan Ini Pala Restoran OtR Hotel Siapkan Paket Nasi Taliwang

Lalu judul opini ini menyisakan tanda tanya dalam kapsul, seolah pertanyaan yang hidup atau mati sebagai pernyataan. Itu semua tergantung kita semua. Badai ASF ini tentu bisa berlalu tanpa banyak kerugian bagi para masyarakat peternak. Tidak dapat dipungkiri, Provinsi NTT adalah provinsi dengan populasi babi terbesar di Indonesia.

Ya, sekitar dua juta ekor.Jumlah sebanyak itu, tentu kita bisa membayangkan rupiah yang akan hilang akibat virus ini. Tak perlu kita menunggu penghitungan kerugiannya, kita cukup merasakan derita peternak yang babinya mati. Mungkin dia hanya peternak kecil yang memberi makan babi dari mengais makanan sisa di perumahan. Bayangkan jika satu-satunya harta simpanannya itu terenggut oleh virus ASF ini. Dampak ekonomi ini bisa merembet ke masalah sosial lainnya.

Virus ini belum ada vaksinnya. Jadi tindakan yang paling bisa dilakukan adalah mencegah paparan. Jangan sampai ternak kita terkena. Jangan sampai virus masuk kandang babi kita. Inilah yang disebut biosekuriti. Virus ini tidak kelihatan secara kasat mata. Kita hanya berusaha sebaik mungkin menghilangkan

kemungkinan-kemungkinan masuknya virus. Dalam pengertian biosekuriti pun, kita harus menjaga agar virus itu tidak keluar dari tempat yang tertular.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved