DBD Renggut Nyawa Bocah 5,7 Tahun di Belu
-Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merenggut nyawa anak berusia 5,7 tahun, warga Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Teni Jenahas
POS KUPANG.COM| ATAMBUA---Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merenggut nyawa anak berusia 5,7 tahun, warga Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu.
Pasien meninggal dunia di RSUD Mgr. Gabreil Manek, SVD, Rabu (26/2/2020) malam setelah dirawat selama empat hari terhitung sejak, Minggu (23/2/2020). Pasien adalah buah hati dari pasangan Edy Seran
Novi Bareto.
Keluarga pasien, Delcy Asa saat ditemui Pos Kupang.Com mengatakan, korban masuk rumah sakit, Minggu (23/2/2020) karena sakit DBD. Kondisinya masih agak baik namun sejak Selasa, (24/2/2020) kondisinya kritis dan masuk di ICU. Delcy juga kaget, mendengar informasi, pasien sudah meninggal dunia.
Informasi lain yang dihimpun Pos Kupang.Com pasien meninggal dunia karena kekurangan cairan infus. Pasien seharusnya menggunakan infus set (alat untuk meneteskan infus yang dihubungkan dengan infus pump) agar takarannya akurat. Namun obat infus set kehabisan stok di rumah sakit.
Petugas medis sudah berupaya namun kehendak Tuhan berkata lain sehingga nyawa pasien tidak bisa diselamatkan.
Direktur RSUD dr. Batsheba Elena Coputty, MARS melalui Kabid Pelayanan Sipri Mali membenarkan pasien yang meninggal semalam adalah pasien DBD.
Terkait informasi bahwa pasien DBD yang meninggal dunia itu diduga karena kekurangan infus set, Sipri mengatakan, pasien sudah ditangani secara medis dan pasien meninggal bukan karena ketiadaan obat infus set, tetapi kekurangan cairan. Kemudian, pasien masuk rumah sakit sedikit terlambat.
Menurut Sipri, jika pasien DBD meninggal karena ketiadaan obat maka semua pasien DBD yang ada di rumah sakit bisa meninggal dunia.
• Laga Pembuka Lawan Persela Penting Bagi Persib, Incar Tiga Angka di Laga Hari Minggu Infp
Ia menambahka, pelayanan pasien DBD tetap menjadi perhatian manajemen RSUD Atambua karena kasus DBD masih terjadi sampai saat ini yang ditandai masih ada pasien yang dirawat di rumah sakit. Jumlah pasien anak DBD yang masih dirawat di RSUD Atambua sebanyak 10 orang dan kondisi pasien masih tergolong baik.
Kabid Penunjang Heni Nahak mengatakan, stok infus set sempat kosong beberapa hari namun tadi malam sudah tersedia dan penanganan kepada pasien DBD tidak ada masalah.
Terkait pasien DBD yang meninggal dunia karena ketiadaan infus set, Heni menjelaskan, infus set di rumah sakit masih tersedia. Hanya saja, infus set yang cocok dengan infus pum yang digunakan pasien bersangkutan saat itu tidak ada namun tetap ditangani secara intensof oleh tenaga dokter.
"Soal ketersediaan infus set, bukan tidak ada sama sekali, kita punya tetapi kebetulan sekali yang tersedia itu tidak cocok dengan infus pump yang sedang dipakai di pasien. Memang itu kemarin ada sedikit kesulitan tetapi infus tetap ada,” kata Heni. (jen).
