Opini Pos Kupang

BERPUASA

Ayo mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang hari ini berjudul berpuasa

BERPUASA
Dok
Logo Pos Kupang

Ayo mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang hari ini berjudul berpuasa

Oleh: Videntus Atawolo, Alumnus Dei Verbum Institute, Nemi, Roma, Italia.

POS-KUPANG.COM - AMIR Hamzah dalam kumpulan puisinya yang berjudul Nyanyi Sunyi, menulis demikian: Sunyi itu duka / sunyi itu lupa / sunyi itu kudus. Puisi yang pendek dan sederhana ini dapat memberikan banyak makna sesuai dengan persepsi setiap pembaca.

Satu di antaranya adalah puisi itu ingin mengungkapkan pergulatan eksistensi manusia dengan berbagai warna warni peristiwa dan kondisi hidup yang dialaminya. Dalam kesunyian orang dapat melihat warna warni kehidupannya. Baik ikhwal yang positip maupun yang negatip. Untung dan malang. Tertawa dan menangis. Bergembira dan bersedih. Sehat dan sakit. Menikah dan bercerai, misalnya. Tetapi manusia tidak hanyut dan larut didalamnya.

Ternak dan Olahan Babi Dari TTU, Belu dan Malaka Dilarang Masuk TTS, Ini Alasannya

Duka itu berangsur sirnah seiring proses dalam batin, dalam jiwa. Ia me-"lupa"-kannya. Manusia berada dalam kesendiriannya dan menyadari ada kekuatan tertentu di atas sana yang mengatur dan menuntun hidupnya. Nilai nilai religius bersinar dalam kesunyian. Manusia berhadapan dengan Yang Kudus yang membimbing hidupnya.

Jauh sebelumnya, Kong Fu Cu menulis, "Manusia tidak dapat melihat gambaran dirinya dalam air yang mengalir, melainkan dalam kolam yang tenang". Sebagaimana dalam kolam yang tenang, bening dan bersih orang dapat melihat semua yang tersedimentasi di dasar kolam itu; demikianlah dalam kesunyian, kesendirian manusia dapat melihat semua "sedimentasi" yang telah membentuk hidupnya.

Kesendirian dalam kesunyian ibarat sebuah kolam di mana di dalamnya manusia dapat melihat dirinya dengan begitu jelas. Semua yang putih. Semua yang hitam. Semua yang kelabu. Lalu berupaya untuk memperbaikinya melalui sebuah refleksi dan tindakan nyata. Mengambil sikap memperbaiki hidup ke arah yang lebih baik.

Sensus Penduduk Online, Sudah Saatnya!

Hari ini umat Kristiani merayakan hari Rabu Abu dalam sebuah perayaan Ekaristi. Dalam perayaan ini imam mengoleskan abu pada dahi umat dalam bentuk tanda salib sambil mengucapkan kata-kata, "Ingatlah bahwa engkau berasal dari abu dan akan kembali pada abu".

Abu yang dioleskan pada dahi umat merupakan lambang kesedihan, penyesalan dan pertobatan. Manusia menyadari kedosaannya, bertobat dan berniat memperbaiki relasinya dengan Tuhan. Abu yang dioleskan itu adalah lambang kefanaan.

Manusia diingatkan bahwa suatu waktu ia akan mati dan kembali menjadi abu. Abu yang dioleskan itu menandai dimulainya masa puasa yang akan berlangsung selama 40 hari.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved