Satu Tahun Setengah Viktor dan Nae Soi Pimpin NTT, Vinsen Bureni Soroti Masalah Stunting

pergeseran untuk penanganan gizi di NTT yang mana bergerak ke anak muda, karena menurutnya bayi dan balita sebenarnya

POS KUPANG/LAUS MARKUS GOTI
Vinsen Bureni Ketua Bengkel Appek Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam diskusi publik satu setengah tahun perjalanan kepemimpinan Gubernur Viktor Wagub Nae Soi di Hotel Neo Aston Kota Kupang, Kamis (20/2/2020). 

Satu Tahun Setengah Viktor dan Nae Soi Pimpin NTT, Vinsen Bureni Soroti Masalah Stunting

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Vinsen Bureni Ketua Bengkel Advokasi Pemberbudayaan dan Pengembangan Kampung (Appek) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyoroti persoalan stunting di NTT.

Vinsen membeberkan persoalan stunting di NTT saat hadir sebagai peserta dalam diskusi publik satu setengah tahun perjalanan kepemimpinan Gubernur Viktor Wagub Nae Soi memimpin NTT yang berlangsung di Hotel Neo Aston Kota Kupang, Kamis (20/2/2020).

Vinsen mengapresiasi pergeseran untuk penanganan gizi di NTT yang mana bergerak ke anak muda, karena menurutnya bayi dan balita sebenarnya sudah harus lakukan lima tahun yang lalu.

"Sekarang bergeser karena asumsinya anak muda yang akan memproduksi generasi baru dan itu menarik. Itu point pertama yang saya harus apresisai perkembangan berpikir pemerintah sekarang," ungkapnya.

Dia jelaskan berdasarkan penelitian bengkel Appek tahun 2019, mereka ambil sampel di Kabupaten Kupang dengan 300 responden, umumnya adalah siswa-siswi SMA.

"Jadi kalau berbicara tentang SMA kewenangannya provinsi. Kami temukan bahwa 56% remaja tidak terlalu beda jauh dengan saya, kurus. Tapi mereka lebih kurus dan 44% itu sebenarnya merupakan produksi masa lalu dan mereka kategori pendek," ungkapnya.

Menurutnya ada beberapa penyebab terkait dengan temuan itu. Pertama pengetahuan tentang konsumsi pangan produksi. "Tidak ada pilihan lain selain makan yang penting kenyang," ungkapnya.

Kedua, faktor ekonomi keluarga dan ketersediaan pangan. "Kalau dia mau makan tetapi di meja makanan tidak tersedia, bagaimana? maka anak-anak sekolah pada umumnya 76% memilih untuk tidak makan, karena tidak tersedia makanan di atas meja makan itu Kabupaten Kupang," ungkapnya.

Lanjutnya, faktor yang ketiga 84% tidak tersedia pilihan makanan. "Kita bicara soal bagi vitamin, kami juga tanyakan pada responden dan sebagian besar tidak sampai ke tangan mereka. Kalau pun sakit mereka pun tidak mau minum," ungkapnya.

Dalam kondisi itu, kata Vinsen, ketika keliling ke desa-desa ternyata ditemukan kemungkinan tahun ini gagal panen. "Kalau soal bendungan untuk pertanian, itu Jokowi mana pemerintahan provinsi dan tahun setengah terakhir ini," ungkapnya.

Dia tegaskan, di sekolah-sekolah harus ada revitalisasi UKS. Menurutnya UKS itu tempat untuk pengetahuan kesehatan, dan juga harus mengetahui bagaimana konsumsi pangan bergizi.

Satu Setengah Tahun Viktor dan Nae Soi Pariwisata NTT Belum Beri Kontribusi Signifikan Pada APBD

Ramalan Zodiak Zodiak Kesehatan Jumat 21 Februari 2020 Taurus Aroma Terapi Virgo Butuh Fitnes

Anggota DPR RI Ajak Warga Sembilan Kabupaten di NTT Jaga Stabilitas Keamanan

"Nah Bagaimana realitas di sekolah kami juga teliti 90 responden, ada yang tidak sekolah dan solusinya adalah kita perkuat semacam ada komunitas anak muda yang dibiayai pemerintah atau desa untuk untuk beri sosialisasi," ungkapnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved