Orangtua Marah Anak Pakai Nama Binatang Citra Diri Anak Jadi Buruk

Para orangtua atau pengasuh jangan memarahi anak dengan menggunakan nama binatang

Orangtua Marah Anak Pakai Nama Binatang Citra Diri Anak Jadi Buruk
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Kegiatan Training Of Fasilitator (TOF) Pengasuh Positif Tahap III Bagi Fasilitator dan Stakehokders Dampingan Childfund Internasional Indonesia Wilayah Timor di Hotel Swiss Belinn Kristal, Kota Kupang, Senin (17/2/2020). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Para orangtua atau pengasuh jangan memarahi anak dengan menggunakan nama binatang. Hal itu akan membuat anak memiliki citra buruk tentang diri sendiri.

Demikian ditegaskan oleh Fitriana Herarti spesialis perkembangana anak Childfund Indonesia menjelaskan, saat diwawancarai POS-KUPANG.COM usai ia memberikan materi dalam Training Of Facilitator (TOF) pola asuh positif bagi fasilitator Childfund wilayah Indonesia Timur di Hotel Swiss Belinn Kristal, Kota Kupang, Senin (17/2/2020).

Kepala BPS Manggarai Timur Minta Dukungan ASN Sukseskan Sensus Penduduk Online 2020

Menurutnya, mereka masih sering menemukan orangtua atau pengasuh memarahi anak-anak dengan nama-nama binatang. "Ini tidak tepat, sebab anak akan punya gambaran yang buruk tentang diri sendiri. Jadi jangan lagi sebut babi, anjing dan lain-lain ke anak-anak kita," ungkapnya.

Dia katakan, pola asuh yang tidak tepat ke anak, menghambat pertumbuhan anak, sehingga tidak heran ada anak-anak yang minder, tidak percaya diri, selalu menyalahkan diri sendiri dan sebagainya. "Itu akibat dari pola asuh yang tidak tepat," katanya.

Pegawai PT PLN Ende Bergerak Cepat Padamkan Api

Untuk itu, kata dia, orangtua atau pengasuh harus memiliki pemahaman yang benar dan baik bagaimana cara menerapkan pola asuh. Apalagi di era digital ini, dibutuhkan pendekatan dan pola asuh yang berbeda.

Dia katakan keberadaan Childfund Internasional wilayah Indonesia Timur, fokus memberikan perhatian pada pemenuhan kebutuhan anak. "Anak-anak bisa bertumbuh dengan baik kalau kebutuhannya terpenuhi. Kehadiran orangtua, kasih sayang, perhatian sangat dibutuhkan," ungkapnya.

Childfund Internasional wilayah Indonesia Timur, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan berbagai kegiatan pendampingan terhadap orangtua bagaimana menerapkan pola asuh yang tepat terhadap anak-anak.

Pendampingan tidak saja menyasar orangtua atau pengasuh tetapi juga untuk pasangan yang mau menikah. Sementara konteks pengasuhan positif era 4.0 menyasar orangtua atau pengasuh yang anaknya sudah terpapar dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, usia enam tahun ke atas.

Di NTT, mitra kerja Childfund Internasional, tersebar di daratan Timor, Flores dan Sumba. "Masing-masing ada tiga desa yang menjadi percontohan. Pola pendampingan sangat variatif, kita bermitra dengan tokoh agama, masyarakat dan pemerintah setempat," ungkapnya.

Menurutnya, Childfund Internasional ingin menanamkan pola asuh positif antara anak dan orangtua atau pengasuh. Dengan pola asuh positif, lanjutnya, perkembangan anak lebih bagus.

Halaman
12
Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved