Suster Lusia Menangis, Penghuni Panti Dymphna Dibantu Wartawan

Raut wajah Suster Lusia, SIJ, Pemimpin Komunitas, Panti Dymphna, penghuni penyandang cacat di Maumere bahagia menerima kunjungan wartawan

Suster Lusia Menangis, Penghuni Panti Dymphna Dibantu Wartawan
POS-KUPANG.COM/EGINIUS MO'A
Pemimpin Panti Dymphna, Suster Lusia, CIJ, Jumat (14/2/2020) bersukaria dengan penghuni panti menerima kunjungan wartawan di aula panti Jalan Litbang, Napung Langir, Kota Maumere, Pulau Flores. 

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Raut wajah Suster Lusia, SIJ, Pemimpin Komunitas, Panti Dymphna, penghuni penyandang cacat di Maumere, Pulau Flores, Jumat (14/2/2020) tampak bahagia menerima kunjungan wartawan.

Merek bernyanyi dan bertepuk tangan mengekspresikan kegembiaraanya di Hari Kasih Sayang ini.

Ia mengatakan, kehadiran ini karena rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang kecil di depan mata kita, yang selama ini terbuang dan terpasung secara fisik.

Testing CPNS di Manggarai Berkat Buat Warung Monika Sabina

Ia mengaku bahagia, tak kuasa dan berurai air mata karena mendapat kunjungan.

"Saya bangga dan terharu menerima bantuan ini. karena rasa kepedulian kamu terhadap panti ini," ujarnya dengan suara terbata-bata.

"Saya terharu karena kamu datang memberi bantuan dari ketulusan. Kamu memperjuangkan nasib orang kecil lewat karya tulis. Kamu berikan apa yang kamu miliki bikin saya terharu. Hari ini kamu semua datang. Kamu bisa menerima kami, sudah luar biasa," ujar Suster Lusia.

Anggota Polsek Aimere Pantau Harga Sembako di Pasar Aimere

Ia menuturkan, tanggal 13 Januari 33 tahun yang lalu dia tiba pertama kali di panti dengan modal Rp 500 ribu. Saat itu, lokasi panti hanya hutan. Namun, kekuatan doa, ia percaya Tuhan yang akan mengisinya.

Selama setahun, kata Suster Lusia, dia jalan keliling Kota Maumere menemukan ada (orang gila) yang berada di sampah dan di balik pagar. Perjalanan yang sulit, tetapi dijalani dengan air mata, perjuangan dan doa pasti ada hasilnya.

Suster Lusia, mengaku banyak kesulitan mengelola panti,namun semuanya dilalui dengan senang. Dasar Biblisnya, kesetiaan doa adalah berbelas kasih. Ini yang ditanamankan selama ini. Dengan doa dan belas kasih, ia kuat bertahan di panti.

"Terima kasih kepada wartawan, kehadiranmu memperjuangkan nasib mereka," katanya.

Ia memuji peran perawat dan psikolog, telaten merawat pasien dan mengurus seluruhnya.

"Pagi, siang dan malam, kami urus mereka dengan gizi yan baik. kami urus tanpa rasa lelah. Kebutuhan mereka kami penuhi tidak pungut biaya," ujarnya.

Prinsipnya, jangan karena uang lalu mereka diterlantarkan. mereka merawat dengan tulus hari, karena percaya akan digenapi Tuhan.

"Sudah belasan tahun, kami tidak pungut sepersepun biaya dari keluarga. Kalau kami pungut biaya, maka mereka kembali dan terpasung lagi," ujarnya lagi.

Suster Lusia menjelaskan, 293 orang diasuh di panti mengalami kesembuhan dan kembali ke rumah keluarga dan menjalani berbagai profesi. Ada juga mengabdi kembali di panti, ada yang kuliah, jual kue. (laporan reporter POS-KUPANG.COM, eginius mo'a).

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved