Salam Pos Kupang

Tanah, Investasi dan Jual Beli

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul: tanah, Investasi dan jual beli

Tanah, Investasi dan Jual Beli
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul: tanah, Investasi dan jual beli

POS-KUPANG.COM - SAAT ini, NTT sedang memasuki babak baru dalam dunia pariwisata. Bahwa eksotisme pariwisata NTT telah membuat wisatawan mabuk kepayang.

Mereka tak henti-hentinya mendatangi NTT, terutama pada daerah-daerah yang punya destinasi yang luar biasa.

Adalah Labuan Bajo, destinasi yang paling digandrungi wisatawan. Tak hanya mereka yang jauh-jauh datang dari Eropa, Amerika, Cina, Jepang dan lainnya, tetapi wisatawan domestik pun tumpah ruah ke ujung barat Pulau Flores itu.

Ekonomi Ekstraktif dan Bias Pendapatan

Bahkan orang nomor satu di Republik Indonesia, yakni Presiden Jokowi, telah berulang kali datang dan menyisir Kabupaten Manggarai Barat itu, dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dari mulut Presiden Jokowi, terungkap pelbagai rencana pemerintah tentang tata ruang pariwisata di Labuan Bajo, kiat menjadikannya sebagai destinasi wisata premium, hingga besarnya dana yang digelontorkan ke daerah itu.

Warga Baolangu Keluhkan Pungutan Uang 15 Ribu Rupiah Dari Dinas PKO Kabupaten Lembata

Kemajuan ini memang tak bisa dihindari lagi. Tapi di balik itu semua, muncul keresahan di kalangan pemerintah.

Pasalnya terkuak kabar, bahwa masyarakat di daerah wisata, berkecenderungan menjual tanah kepada pihak lain. Bahkan, harga tanah yang dijual pun terbilang sangat mahal.

Rupanya karena begitu besarnya keinginan untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejap, maka masyarakat di Labuan Bajo tak segan-segan menjual tanah- tanam mereka tanpa memikirkan kebutuhan anak-anak mereka ke depannya.

Keresahan itu kini menghantui Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora. Sebab daerah itu merupakan destinasi unggulan pariwisata Sumba, yang disebut Ketua DPRD Sumba Timur, Ali Oemar Fadaq, sebagai masa depan pariwisata NTT.

Bagi Bupati Gidion, kemajuan pariwisata berdampak serius terhadap kerentanan masyarakat menjual tanah kepada investor. Untuk itu, Bupati Gidion mengingatkan agar tak seorang pun warga daerah itu menjual tanahnya kepada investor.

Daripada tanah dijualbelikan secara mudah kepada investor, lebih baik pola itu diganti dengan sistem kontrak atau dimanfaatkan investor tetapi pemilik tanah memiliki saham. Cara tersebut mampu menjamin kemaslahatan hingga anak cucu.

Artinya, investor datang bukan sebagai pembeli tanah, tetapi datang untuk menggandeng pemilik tanah sama-sama membangun pariwisata demi masa depan yang lebih baik.

Itu berarti pemilik tanah bukan sebagai orang yang dirayu-rayu untuk menjual tanahnya. Tetapi sebagai mitra yang saling menguntungkan baik bagi investor, pariwisata maupun pemilik tanah.

Kiat ini tentu akan jauh lebih baik. Pasalnya, tak ada tanah yang dijual. Tak ada uang yang dikeluarkan investor untuk membeli tanah. Tapi uang itu digunakan untuk berinvestasi pada lahan milik masyarakat. (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved