Cerpen

Cerpen Sonny Kelen: Ibu, Aku Mencintai-Nya

Angin yang sesah memikul desahnya dalam keranda resah yang gesa. Sebelum jauh lenyap, sayap-sayap yang gemetar singgah di hidung.

pos kupang
Cerpen; Ibu aku mencintainya 

"Nak, apakah kau tidak kasihan dengan ibu dan ayah juga adik-adikmu? Maafkan ibu, nak karena setelah kepulanganmu dari biara ibu selalu mengawasimu setiap waktu karena ibu takut kau pergi lagi."

Tak ada jawaban dariku. Aku tahu, menjawab pertanyaan itu sama seperti mencungkil lagi luka di hatiku. Aku meninggalkan ayah dan ibu, kemudian aku pergi ke tempat di mana orang-orang memberi makan kepada leluhur pada sebuah pohon beringin.

Dalam perjalanan itu sesekali kudengar suara burung gagak mengikuti seakan mereka juga setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh ayah dan ibu.
***

Aku masih duduk di ruang St. Paulus, sendiri membayangkan tentang ayah dan ibu. Apakah mereka baik-baik saja. Setelah kejadian itu aku tidak lagi tahu kabar dari mereka. Hanya sebulan yang lalu sebelum aku menerima kaul kekalku, kudengar bahwa ibu sakit.

Inilah Fitri Salhuteru, Sosok yang Selalu Pasang Badan Untuk Nikita Mirzani, Tajir Melintir!

Aku tahu berita itu dari saudaraku sendiri ketika mengikuti acara penerimaan kaul kekalku. Saat bangun berdiri dan keluar dari aula St. Thomas, suara burung hantu pecah di jantung bukit Ledalero.

Aku begitu kaget dan gelap masih meremas tubuhku. Kunyalakan sebatang rokok, lalu berjalan turun ke Unit Fransiskus. Pertanyaan dan jawaban dari ibu dan ayah tiba-tiba ada di kepalaku. Itu semua seperti pertanyaan dalam metafisika mengenai ada". Seperti itu. Ke dalam kamarku, aku merayakan bisikan-bisikan suara hati dan ruang kepalaku mulai penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan, "Ada apa dengan ayah dan ibu?" teriakku dalam hati.

Tiba-tiba aku mendengar seorang teman memanggilku bahwa ada seseorang yang mau bertemu denganku. Akupun keluar menemui orang itu. Aku tidak percaya ternyata orang itu adalah ayah. Aku mendekati ayah dan memeluknya.
"Maafkan ayah dan ibumu, nak." Bisik ayah.

"Sudahlah ayah. Aku tidak sedikitpun mempersalahkan ayah dan ibu." Setelah itu ayah mengeluarkan sebuah bungkusan sederhana dari dalam tasnya.
"Nak, ini pemberian ibumu yang terakhir. Ibumu selalu merindukanmu walaupun dalam ketiadanya. Seminggu sebelum ibumu sakit, ia berusaha menjahitkan jubah ini untukmu, dan dua hari yang lalu sebelum ibumu meninggal ia berpesan supaya jubah ini kau pakai dalam tahbisanmu nanti."

Aku seakan ingin berteriak ketika mendengar apa yang barusan di katakanoleh ayah. Air mataku luruh membentuk satu garis lurus di pipiku. Aku merasa begitu hampa.

Hatiku tersesat di antara perasaan-perasaanku sendiri. Lalu entah kenapa, malam terasa lebih pekat dari biasanya, dan kedinginan menjalar di tembok-tembok malam.

Tapi aku sadar, pada akhirnya harus ada yang aku lepaskan. Ibu. Bagiku, cinta juga berarti berani melepaskan. Maka, ketika semuanya terasa semakin rumit, aku meninggalkan mata ibu yang menatap mataku penuh harap. Sudah takada alasan bagiku untuk tetap di hadapannya. Ibu sudah pergi. Dan aku menguatkan diriku untuk tidak berpaling. Aku menembusi malam dan berlalu. Ibu memahamiku. Ibu tahu bahwa aku mencintaiNya. Bukankah cinta juga belajar memahami? (*)
(Penulis sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero Maumere)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved