Cerpen

Cerpen Sonny Kelen: Ibu, Aku Mencintai-Nya

Angin yang sesah memikul desahnya dalam keranda resah yang gesa. Sebelum jauh lenyap, sayap-sayap yang gemetar singgah di hidung.

pos kupang
Cerpen; Ibu aku mencintainya 

Tak ada yang berubah. Ayah dengan koran langgananya di temani secangkir kopi dan ibu dengan senyum lugunya yang penuh rindu. Tapi sesungguhnya ada satu hal yang berubah. Tidak ada percakapan sedikitpun dari ayah atau ibu. Ayah hanya terdiam.

Beberapa saat kemudian, setelah menghembuskan napasnya keras-keras ke udara menerpa bagian teratas kepala, ia mendorong halus tubuhku. Seketika mata ayah dan ibu saling membenturkan tatapan. Itu tatapan yang paling dalam yang pernah aku temui dari mata ayah.

" Sudah berapa lama kau meninggalkan kami?" ujar ayah dengan nada suara yang tetap tenang. Aku bisa melihat ia menahan senyum tetap mendiami sudut-sudut bibirnya.

" Sudah sekian lama, ayah." Jawabku polos. Ayah memeluk tubuhku. Lebih erat dari pelukan sebelumnya. Aku tahu ayah sangat mencintaiku. Namun ada yang lebih lain setelah itu. Sejak kepulanganku dari biara, ayah dan ibu tiba-tiba mendadak seperti petugas keamanan yang selalu memantau pergerakanku hampir setiap saat.

Lomba Terjun Bebas Internasional Akan Diadakan di Indonesia, Red Bull Cliff Diving World Series 2020

Bahkan beberapa kali, usai mandi aku mendapatkan ibu sedang berdiri mengawasiku di depan pintu kamar mandi. Aku lalu tiba-tiba merasa seperti seorang narapidana yang harus di kontrol setiap saat. Sampai aku masuk ke dalam kamarku berdeklik sedikit, barulah ia akan meninggalkanku.

Menghadapi situasi yang amat menggelikan itu, aku berusaha menenangkan diri dengan duduk di beranda rumah, membaca puisi-puisi dari Jokpin dan sesekali mengamati ayah dan ibu.

Memang ada sesuatu yang aneh. Aku penasaran dengn tingkah ayah ataupun ibu sejak kepulanganku dari biara. Maka suatu siang, di ruang makan aku memberanikan diriku untuk bicara mengenai tingkah ayah dan ibu belakangan ini.

"Bu, mengapa aku selalu diawasi setiap saat bahkan detik setelah kepulanganku dari biara?"
Ibu hanya diam. Entah kenapa, jantungku berdebar-debar saat itu sehingga deru napasku tak teratur setelah aku bertanya kepada ibu. Mungkin aku tidak pernah lancang seperti ini sebelumnya dengan pertanyan seperti itu terhadap ibu.

"Maafkan ibu, nak." Hanya itu jawaban ibu. Tiba-tiba air mata ibu jatuh.
"Sebenarnya ibu melakukan semuanya itu, karena ibu tidak ingin kau pergi lagi. Sudah cukup kami menderita dengan keadaan seperti ini."
"Apa maksud dari semuanya ini, Bu." Nadaku mulai meninggi.

Ramalan Zodiak Besok Kamis 6 Februari 2020: Hari Baik untuk Cancer, Sagitarius Diguncang kontroversi

"Seandainya kau tahu, nak." Sambung ibu dengan sedikit pelan. Ayah hanya menunduk seakan ia ingin berlari dalam keadaan seperti itu. Baru kali ini aku melihat ayah seperti itu. Tatapan mata ayah kulihat kali ini tidak seperti sebelumnya. Sesuatu sekali. Ia seperti menydari suatu kesalahan besar yang telah ia lakukan. Seperti bongkahan es yang patah.

" Nak, kau harus tinggalkan panggilanmu itu." Kata ibu. Aku seperti tidak percaya dengan ucapan ibu itu.
"Mengapa Bu." Tanyaku. Masih seperti yang sudah-sudah. Ibu hanya menangis.
"Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri sehingga kau tak pernah tau apa yang aku dan ibumu rasakan. Kau abaikan, seakan kau tak punya rasa. Kau tahu betapa aku dan ibumu mencintaimu." Tiba-tiba ayah membuka pembicaraan.

"Nak, sebenarnya ayah dan ibu tidak merestuimu melanjutkan panggilanmu. Dalam adat kita kau harus menerus wasiat leluhur dalam suku kita, nak."
"Mengapa ayah? Bukankah aku masih mempunyai tiga adik laki-laki yang lain."
"Tidak, nak. Dalam adat kita anak sulunglah harus menjadi kepala suku dalam suku kita. Keputusan ini sudah diwariskan oleh leluhurmu." Aku seakan-akan tidak percaya dengan apa barusan ayah katakan itu.

"Lebih dari itu, kau harus meneruskan apa yang belum ayah lakukan untuk ibumu. Belis dari ibu. Jika kau tidak menerima keputusan ini nasib ibumu tidak tahu seperti apa ke depan, karena beberapa bulan lalu saudara dari ibumu datang dan meminta pertanggung jawaban dari ayah. Ini soalmu nak."

LAKU KERAS di Pasaran Luar Negeri, Porang yang Dulu Dianggap Makanan Ular, Kini Jadi Emas Petani

"Tidak. Tidak ayah. Sekali-kali tidak." Sementara itu mempererat genggaman, ibu seakan memohon supaya aku terima apa yang barusan ayah katakan. Di kelopak matanya gunda telah menjelma air mata lebih dari yang sebelumnya. Perasaan semakin luruh. Lidah terasa amat keluh sehingga takada kata yang berhasil ia ucap selain air mata. Namun ia memaksa untuk bicara.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved