Cerpen

Cerpen Sonny Kelen: Ibu, Aku Mencintai-Nya

Angin yang sesah memikul desahnya dalam keranda resah yang gesa. Sebelum jauh lenyap, sayap-sayap yang gemetar singgah di hidung.

pos kupang
Cerpen; Ibu aku mencintainya 

"Nak, kau sudah semakin dewasa. Sudah mulai paham tentang yang baik untuk masa depanmu." Akhirnya ibu yang membuka pembicaraan. Barangkali inilah yang dinamakan kesayangan.

"Bu, aku tahu itu. Bukankah ini juga merupakan jalan terbaik untuk masa depanku?"
"Tidak nak, masih banyak jalan lainyang bisa kau temukanuntuk masa depanmu. Tapi bukan yang ini." Aku begitu kaget dan seakan tidak percaya perempuan yang kupanggil ibu itu tiba-tiba berubah seperti ini. Tapi selalu ada sungai kecil yang bermuara dipipinya setiap kali kata-kata yang ia ucapkan itu seakan seperti belati yang menghentak jiwanya pada sebuah badai yang mengikatnya.

"Mengapa Bu?"

"Kelak kau akan mengerti nak." Jawab ibu singkat
***

Masih pagi. Embun belum saja lekar dari daun sebelum mentari menggugurkan sisa-sisa mimpi yang belum juga kelar. Di beranda rumah masih tetap dengan ritual yang sama: secangkir kopi dan koran langganan ayah diatas meja. Anak-anak sibuk ke sekolah dan para pengiris tuak dengan sepucuk harapan seperti yang sudah-sudah, semoga hari ini bisa menjadi lebih baik dari kemarin.

Semuannya berlalu dengan cepat tentang yang pergi juga yang pulang. Seperti Sesutu yang terjadi tanpa disadari. Seperti hujan yang menjarum di kepala.

Perasaan-perasaan di dalam diri mendadak seperti langit mendung. Sesekali aku melihat ayah dengan matanya yang lugu, sibuk berkenalan dengan para koruptor yang ada dihalaman koran itu.

Ahok Disindir Kader Gerindra, Ruhut Sitompul Lawan Politik Stress, Tong Kosng Nyaring Bunyinya

"Ahh, bilangnya mau menyejahterakan rakyat, tapi nyatanya mereka sibuk buat rumah baru, dengan garasi-garasi besar berisi beberapa mobil mewah." Komentar ayah. Aku hanya tersenyum mendengar komentar ayah itu. Kopi diseruputnya habis dan koranpun selesai dibacanya.

"Nak, jika nanti kau menjadi manusia, jangan seperti para koruptor di negeri ini. Mereka hanya abal-abal dengan janji palsu yang enak didengar tapi perbuatan mereka sama seperti orang yang tidak berpendidikan. Barangkali orang yang tidak berpendidkan masih lebih baik, asalkan mereka tidak tahu menipu." Jelas ayah.

"Saya tahu itu ayah, tapi aku tidak tertarik dengan profesi mereka." Jawabku.
"Mengapa begitu?" Sambung ayah cepat.
"Karena aku lebih tertarik dengan pilihanku saat ini yakni, panggilan" Ayah hanya diam setelah aku mengatakan keinginanku itu.
***

Semua seolah mati. Angin ikut mati. Bintang-bintang di langit perlahan meredup. Pesona senja sudah hilang. Hanya gelap. Pengap. Bunyi-bunyian bertukar tangkap.

Hanya ada air mata. Aku tidak percaya kalau ayah dan ibu mengizinkanku melanjutkan pendidikan di Seminari Hokeng. Di depan rumah untuk terakhir kalinya aku melihat ayah dan ibu.

"Nak, jalan yang kau pilih ini tidak mudah seperti yang kau bayangkan." Pesan ayah. Ibu hanya menangis seperti tidak merelakan kalau aku pergi. Ibu memelukku dengan pelukan hangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Tamu Kita: Herlince Emiliana Asa: Dokter Hewan Yang Tertarik di Dunia Politik

"Nak, pintu rumah selalu terbuka untukmu. Jika gagal pada jalanNya, pulanglah selagi pintu rumah ini masih terbuka untukmu." Bisik ibu dengan aroma nada paling lembut. Aku meninggalkan ibu dan ayah di depan rumah malam itu.
***

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved